Thursday, June 17, 2010

Torresimous Kronisis

Oke. Judulnya konyol. Saya tau itu.
Tapi postingan yang ini saya buat secara spontanitas. Mendadak. Terinspirasi dari sosok bernama Fernando Jose Torres Sanz.
Melihatnya kembali berlari di lapangan malam ini... Menakjubkan. Another obsession? Bisa jadi. Tapi yang jelas, kisah ini dimulai sejak empat tahun yang lalu :)


Semua penggila sepakbola tahu siapa sosok yang namanya saya cetak tebal di atas. Sekarang dia adalah salah satu pemain paling diminati oleh klub mana pun di dunia. Selalu masuk jajaran pemain terbaik dunia. Ujung tombak timnas dan klub. Tinggi. Tampan. Rupawan. Ganas di mulut gawang.
Singkatnya, semua tahu siapa Fernando Torres.

Semuanya di awali dari World Cup tahun 2006 di Jerman. Sosok tinggi kurusnya menyita perhatian saya sepanjang pertandingan yang dia mainkan. Membombardir gawang lawan dan menakuti kiper lawan bersama partnernya, David Villa Sanchez. Angka sembilan tersemat di punggungnya. Gol-gol tercipta baik dari kaki maupun kepalanya.





"Hebat," batin saya saat itu. "Dan juga ganteng."
Jangan lupakan fakta bahwa saya adalah wanita :p

Muda, lincah, dan berbahaya.
Saat itu ia masih menjadi Pangeran Atletico Madrid.
Pasca World Cup 2006, saya masih mengawasi kiprahnya. Hal inilah yang memaksa saya membulatkan tekad untuk terjaga lewat tengah malam demi menikmati permainannya di tiap momen pertandingan La Liga. Selama ini, La Liga adalah musuh saya karena jadwal pertandingannya yang tidak terlalu ramah pada jam tidur saya.
Tetapi demi lelaki bernama Fernando Torres itu, saya rela memaksakan mata saya terbuka ketika tengah malam. Kalaupun saya terpaksa melewatkan pertandingannya, mungkin hanya beberapa kali.

Dua musim kemudian ia berlabuh di Anfield, stadion kebanggaan Liverpool. Dan karena Liverpool bermain di Liga Inggris yang sangat saya sukai, saya pun menyambut gembira berita itu. Tapi, apalah daya saya pada musim 2007/08 hak siar Liga Inggris di Indonesia diambil alih oleh salah satu penyedia layanan televisi berbayar milik Malaysia. Sempit harapan saya untuk menyaksikan kiprah Torres, walaupun saya mendengar ia mengalami musim perdana yang spektakuler. Semakin sulit menyaksikan penampilannya karena saya adalah pendukung salah satu tim rival, yaitu Si Biru Chelsea. Sejak saat itu, saya harus pastikan diri saya dapat menonton perseteuan Chelsea melawan Liverpool secara langsung. Dan saya beruntung dapat menyaksikan perseteruan Chelsea melawan Liverpool di Liga Champions (duh, saya lupa musim berapa -___-) yang disiarkan secara langsung dan gratis. Selain itu, kebanyakan saya hanya mengikuti berita tentang Torres di koran atau internet.


Musim panas 2008. EURO. Pikiran tentang Torres agak terkikis pada masa-masa menjelang EURO 2008 yang diadakan di Swiss-Austria. Seperti biasa, dari awal saya menunjukkan sikap mendua-mentiga-mengempat-dst hingga akhirnya pertandingan puncak mempertemukan jagoan utama saya, Jerman, melawan jagoan saya yang lain, Spanyol.
Ada Torres tentunya.
Dan hasil akhirnya sudah diketahui semua orang: Spanyol menang 1-0 lewat gol Torres.
Oke, katakan saya berlebihan, tapi itu agak seperti 'tamparan' buat saya. Torres tak boleh dilupakan. (Di samping tangisan sepanjang suibuh meratapi kekalahan Jerman).





Gairah terhadap penampilan Torres membuncah. Jujur, saya tidak bisa mendukung Spanyol. Buktinya saya malah merasa agak senang dengan kekalahan Spanyol malam ini dari Swiss dalam laga pertama mereka di World Cup 2010 (dan Jerman mengawalinya dengan mulus, 4-0. Maaf untuk pendukung setia Spanyol). Jerman selalu menjadi jagoan utama saya, dengan baik maupun buruknya. Juga Inggris, yang terpaksa menerima hasil seri karena si Jabulani lepas dari tangkapan Green.
Selepas EURO 2008, saya berusaha untuk mendapatkan berita tentang Torres selengkap mungkin. Baik itu berita mengenai kehidupannya di luar lapangan hijau: pernikahannya dengan Olalla dan kelahiran anak perempuan pertamanya yang bernama Noura.
Sepertinya bagian ini tak perlu saya bahas. Agak membuat patah hati soalnya :)

Oh, iya. Jadi ingat. Sepanjang EURO, saya menemukan kawan-kawan GILA seperti Prita, Liona, Mia, Lidya, dan Putri dan bersama-sama kami membuat semacam kisah 'khayalan'. Kisah bodoh dan menyenangkan mengenai kehidupan kami jika kami menjadi pasangan hidup pemain Spanyol yang kami sukai.
Prita bersama David Villa, Liona bersama David Silva, Mia bersama Iker Casillas, dan Putri yang sangat memuja David Villa. Sementara saya dan Lidya 'berbagi' Torres.
Masa-masa yang menyenangkan :)


Dan sekarang, saya ada di depan komputer dengan berjuta perasaan yang tidak mampu saya tulis secara keseluruhan. Yang jelas... saya "jatuh cinta" dengan orang ini. Mengapa menggunakan tanda kutip? Saya kurang paham. Pokoknya, melihat Torres berada di lapangan membuat saya berdebar. Pipi saya terasa hangat. Seperti tanda orang yang sedang kasmaran.

Hanya saja saya belum pernah bertemu dengannya.

Itu alasannya.
Bertemu dengannya... hampir seperti sesuatu yang mustahil. Tapi saya akan mencoba. Pergi ke Inggris adalah impian saya, tinggal di London adalah mimpi saya. Dan tidak mustahil bagi saya untuk berharap dapat bertemu dengannya. 'Suatu hari' yang akan sangat saya tunggu :)



This boy... I will dream as he dreams of Torres :D


Wow,
Saya nggak nyangka, tulisan bodoh dengan judul bodoh bisa sepanjang ini :P
Well, sebenarnya tulisan ini, selain didasari oleh spontanitas, juga didasari oleh sesuatu...

Find the answer here! ;)

I know that 'gettyimage' stamp is kinda disturbing -____-


Oke. Pertanyaannya adalah:
Yang mana Torres waktu World Cup 2006 dan World Cup 2010?
LOL ♥


Dan sebagai penutup:











Klik aja kalo mau liat dan baca dengan lebih jelas :)
Semua screenshot itu aku ambil dari Twitter-ku hihihi :P

Oke. Smell ya later,
xx

2 comments:

adhari said...

kasian . . .

Kikin Safira said...

heh heh heh *gebuk* *sfx: takdesshhhh*

Post a Comment