Friday, December 23, 2011

Tumpah

Bayangkan: segunung emosi yang telah kamu tahan selama bulanan itu seperti mengucurkan air ke dalam wadah secara terus-terusan. Kalau tidak segera dihentikan, airnya pasti tumpah. Hebat sekali, karena hanya dibutukan satu tetesan saja untuk menjatuhkan hujan air mata; bagaimana tumpukan emosi itu akhirnya mencapai titik kulminasinya.

...dan kamu (selalu) sendirian.

Tuesday, December 20, 2011

Pahit, Sekaligus Manis (Sebuah Catatan dari Pementasan “Setjangkir Kopi dari Plaja”)

Sebelumnya, saya sampaikan bahwa ini adalah posting ke-100 di blog saya! :D/

Okay.

Saya tidak pernah paham bagaimana Cinta bekerja. Dan bagaimana bisa seseorang mampu mempertahankan janjinya selama empat puluh tahun atas nama Cinta.

***



Kisah “Setjangkir Kopi dari Plaja” ini saya saksikan, dengan bermodal rasa penasaran dan iming-iming dari seorang kawan, dalam kemasan teater boneka bikinan Papermoon Puppet Theatre dan mengambil ‘panggung’ di sebuah toko barang antik. Kawan saya itu pernah bilang kalau ceritanya akan mengambil setting ketika pemberontakan PKI meletus di Indonesia. Tapi, tak saya sangka, justru kisah Cinta lah yang akan dituturkan.



Dua sejoli, yang kemudian diketahui adalah Pak Wi dan Sang Kekasih Masa Lampau, sedang bercengkrama. Keduanya berboncengan dengan sepeda onthel menuju pasar malam. Sepanjang jalan, tak lupa Pak Wi sesekali merengkuh Sang Kekasih, yang memeluknya dari belakang. Hidup nampaknya berjalan sempurna bagi keduanya dan Pak Wi berjanji bahwa ia akan menikahi Sang Kekasih.


Tak disangka, Pak Wi harus pergi ke Soviet untuk meneruskan pendidikan di perguruan tinggi. Dan kemudian, meletuslah kisruh G30S/PKI, menyebabkan status kewarganegaraannya dicabut lantaran bersekolah di negara penganut Komunis. Selama terpisah, tak pernah ia mengingkari janjinya untuk menikahi Sang Kekasih, bahkan hingga empat puluh tahun kemudian


Satu adegan yang membuat saya mengucurkan air mata (bahkan hingga saya menulis tulisan ini di netbook) adalah kala Sang Kekasih, yang telah menikahi pria lain (dan sekarang telah memiliki empat cucu), menemukan kembali sebuah cangkir antik. Cangkir itu, pada adegan pembuka, adalah cangkir yang ia pakai untuk menyeduh kopi bagi Pak Wi. Sambil terduduk, ia peluk cangkir itu.

***

Kisah ini adalah kisah nyata. Jujur, nyaris tidak saya sangka. Kisah ini terlalu manis untuk menjadi nyata – cenderung menyerupai kisah fiksi, malah. Dan cara saya menceritakan di atas, terus-terang, banyak mengurangi manis dan pahitnya kisah itu. Apabila Maria Tri Sulistyani, Artistic Director kisah ini menganggap bahwa, “Mungkin dengan diceritakan secara langsung, kisah ini malah akan terasa lebih indah daripada saya pentaskan,” maka setidaknya ia berada pada level yang jauh di atas saya dalam menceritakan ulang kisah ini.
                
Bukannya saya orang yang sudah mengalami pahit dan manisnya Cinta. Sudah saya tulis sebelumnya, Cinta bukan bidang saya. Dan saya sendiri belum pernah menikmati nikmatnya jatuh cinta. Namun, kisah ini membuat saya berpikir cukup lama; saya seperti merasuki diri sendiri dan mencari apa mau saya jika berkaitan soal CInta ini. Semua orang, nampaknya, mengharapkan kisah cinta yang berakhir bahagia. Atau kisah yang terdengar romantis seperti kisah Pak Wi, bahwa ia masih tetap melajang di usianya yang kali ini menginjak angka tujuh puluh satu.


Layaknya kisah Cinta klasik di toko barang antik ini, saya merasa seperti dijejalkan di sebuah toko tua – dalam arti kiasan tentunya, karena pada nyatanya saya memang berada di toko barang antik – dan menggali kisah yang tersembunyi pada tiap benda di sana. Lantas, saya tersadar. Saya menyadari satu hal: mau antik, kuno, atau berdebu, cinta itu abadi.
                
Manisnya kisah Pak Wi menyisakan pahit di hati saya; seperti habis menelan obat. Entah mana yang mengambil peran lebih banyak: manis atau pahitnya Cinta. Sekali lagi, saya hanya bisa merasakannya dengan sungguhan bila saya telah berani jatuh cinta.
                
Menikmati kisah cinta orang lain mungkin sudah cukup bagi saya. Saat ini.
                
Saya hanya ingin ketika nanti saatnya sudah tiba bagi saya untuk melepaskan hati saya, saya sudah benar-benar siap untuk jatuh…


                
Dan biarkan orang yang tepat datang untuk menangkapnya, lalu membawa hati itu kepada saya.

(Saya anggap ini sebagai jawaban untuk menghapus kerisauan yang timbul selama beberapa hari ini.)

Terima kasih untuk Acin, yang sudah ‘membujuk’ saya untuk menyaksikan teater boneka ini. Dan kepada Dila, yang telah menemani saya menonton ini dan selalu mencengkeram lengan saya ketika lampu tiba-tiba mati (hey, saya juga benci gelap!).

Wednesday, November 23, 2011

Bukan Masalah Waktu, Aku Saja yang Terbiasa

Sebenarnya aku sudah lama melupakan ini. Namun, tiba-tiba saja aku teringat kamu. Kita, dulu.

Tak perlu dijelaskan berkali-kali bahwa ini bukan sebuah hubungan. Tidak pula melibatkan perasaan. Namun, secara spontan aku menyebut kita. Padahal, belum tentu kamu juga berpikiran yang sama. Maaf, aku memang lancang.

Sumpah, aku tidak menyangka ternyata sudah lama berlalu sejak terminologi ‘kita’ itu mulai kadaluarsa. Tenang, aku tidak ingin mengingat yang sudah lewat. Sudah tak ada artinya bagi siapapun. Aku hanya mencoba mengingat saat-saat setelah kita berakhir.

Pernahkah kamu menyayat lenganmu sendiri? Tak perlu terlalu dalam; kamu bukan mau bunuh diri. Namun, sayat saja sampai tanganmu terluka dan berdarah. Lalu, obati luka itu. Lukanya akan menutup dalam beberapa hari dan bekasnya akan hilang perlahan. Mungkin, karena itulah orang sering berkata, “Waktu akan menyembuhkan segalanya.”

Ibaratkan aku adalah tangan itu, dan kamu adalah lukanya. Kamu menutup, lalu hilang.

Tentu saja dulu lukaku tak sampai berdarah-darah. Aku sendiri sudah sampai pada pemahaman bahwa hubungan antarmanusia selalu diawali sebagai orang asing. Orang-orang itu mampir dalam kehidupan kita. Beberapa tinggal sebagai kawan, sahabat, kekasih, keluarga, bahkan seteru. Beberapa lagi memilih berlalu dan kembali menjadi orang asing. Dulu aku pikir lagi-lagi kamu jadi orang asing. Pada titik pemahaman itulah aku mulai sadar bahwa aku tidak akan kenapa-kenapa tanpa kamu.

Kamu sang luka, bekasmu sudah tidak ada. Dan bagiku, ini bukan masalah waktu. Banyak hal yang aku pelajari tentang kamu, yang aku pelajari tanpa kamu. Semakin aku pelajari, semakin aku tenggelam dalam diriku sendiri; aku semakin mengenal diriku sendiri.

Sekali lagi, kamu lukaku tak lagi berbekas bukan karena waktu. Aku terbiasa tanpa kamu.

Aku hanyalah sebuah tangan. Aku tidak butuh luka; kamu tidak melengkapiku, pun mengurangiku. Kamu lebih dari cukup.

Aku sudah merasa lengkap hanya dengan diriku sendiri.


Yogyakarta, 22 November 2011

Tuesday, October 18, 2011

What I'm responsible for

I believe there are reasons for everything humans do. And I do believe people have their own stories; known or unknown.
Sometimes, people want to be treated just like what they do to others. And sometimes, they just want to get respect from others. Knowing ourselves are appreciated perhaps would be the greatest thing for our existence as human beings; the fact that people are same, and the differences between us won't change a thing.
There are people who mind to know stories and reasons behind someone. And there are people who don't. Lucky if you meet people who do. And don't feel upset if you meet people who don't.
And I guess the one who's responsible about how people treat us is ourselves :)

Thursday, September 29, 2011

"Melarikan Diri" :)

Weekend lalu, akhirnya saya mengunjungi {Lir}Shop untuk pertama kalinya bersama Dhita :D
Tempatnya lucu banget. Suasananya juga. Sepi, nggak bising. Plus ketiadaan wi-fi membuat sensasi nongkrong sama temen jadi beda: nggak ada lagi yang sibuk ngobrol sama orang lain via internet, ketika justru di depan mata ada orang beneran yang bisa diajak ngobrol langsung.

And what makes this place even better is konsep kafenya! Buku menunya cute banget, kental dengan nuansa dongeng yang sejatinya memang ingin diangkat di sana. Dan isinya? Well... ada Butterbeer ala Harry Potter, Tea Set yang terinspirasi oleh tea paerty-nya Mad Hatter, dan (I have to give some credits for this beverage. Simply, it's my fave!) Ginger Ale yang "ditarik paksa" dari serial Lima Sekawan-nya Enid Blyton :D

"Eat well, live well!" :D




The hanging cups... so cutey!






Ginger Ale! ♥



Ah, I really like this place! Sayangnya, pilihan makanan berat untuk lunch terlalu sedikit, sementara brunch-nya memiliki jauh lebih banyak pilihan~
Dan anyway, this is the perfect place for reading or handcrafting :3

I need to get back thereeeeeeeeee :D

The idea of my life as a fairy tale is itself a fairy tale.
--Grace Kelly

Sunday, September 18, 2011

Akhirnya Dua Puluh

Iya. Akhirnya saya menyentuh angka itu juga. Sekarang saya dua puluh tahun!

Rasanya... ermmm... biasa aja sih. Nggak pake semriwing atau apapun. Saya juga (alhamdulillah) nggak dikerjain sama temen-temen. Tapi, tetep aja... Dua puluh. Duh, gimana ya jelasinnya?

Pernah saya ngobrol dengan kawan-masa-kecil-yang-masih-awet-sampe-sekarang alias Iffa. Ya, berhubung dia yang lebih dulu mendekati angka itu dibanding saya gitu. Dan kami sepakat bahwa: biarpun cuman beda setahun sama angka 19, tetep aja 20 itu rasanya beda!

Well, dan beginilah cara saya menghabiskan hari di mana saya akhirnya menginjak usia berawalan angka dua ini:
1. Kuliah. Pengauditan I dan Akuntansi Sektor Publik. Untuk ASP, saya berterima kasih pada kakak-kakak asdos yang telah memberi 'kado' istimewa berupa tugas essay sebanyak 3 buah. Yak, di hari pertama kuliah. Oh, jangan lupa juga kuis yang membuat saya harus menggali kembali memori kuliah AP 1 -- yang notabene sudah 2 tahun yang lalu. Joss.
2. Rapat tema buletin EQ News bulan Oktober. Tapi, karena yang hadir tidak sesuai harapan, akhirnya diisi dengan evaluasi EQ News edisi maba.
3. Rapat persiapan Ayam GeprEQ dalam rangka bazaar kewirausahaan. Anyway, we sold lots ayam geprek! Yayy :D/

Nggak ada kumpul di rumah sore-sore, beli kue, dan tancepin lilin yang kemudian ditiup bersama-sama. Sudah tepat tiga tahun saya nggak merasakan momen ulang tahun seperti itu. Sedih sih, tapi mau gimana lagi :|

Well... sebenarnya bukan angka 20 yang membuat saya 'takut'. Hanya saja, saya takut bertambah tua.

Suwer.

Ya mungkin rasa takut saya nggak seekstrim Elizabeth Bathory, yang sampai bermandikan darah perawan untuk mempertahankan kemudaannya. Nggak kok, saya lebih percaya bahwa makan adalah rahasia umur panjang.
Yang lebih saya takutkan adalah: saya berhenti bermimpi.

Yep, mimpi.

Meskipun seorang teman pernah membaca telapak tangan saya dan mengatakan bahwa saya adalah seseorang yang realistis -- dan saya percaya itu -- tetapi bermimpi itu tetap menjadi salah satu alasan mengapa saya masih menginjakkan kaki di Bumi. Saya yakin bahwa secuil mimpi suatu saat akan menjadi realita seseorang sampai ia mati.

Dengan mimpi-mimpi saya yang hanya secuil, atau malah hanya berupa bercak bila dibandingkan dengan betapa kuatnya saya menginjakkan kaki pada kenyataan, apa jadinya jika saya harus berhenti memimpikan sesuatu?
Saya takut.

Sebuah kutipan dari Memoar Seorang Geisha mengatakan:
Impian itu seperti hiasan rambut. Gadis muda akan terlihat cantik bila mengenakannya banyak-banyak. Namun, ketika kau tua, kau bahkan akan merasa bodoh bila hanya mengenakan satu saja.
Tidak dikutip secara persis, sih. Tapi begitulah intinya.

Pun dengan apa yang Paulo Coelho goreskan dalam Sang Alkemis melalui sosok Si Penjual Gelas Kaca, tempat Santiago bernaung sementara setelah ia kehilangan semua uangnya, padahal ia baru saja sebentar menginjakkan kakinya di Afrika.

Mungkin suatu hari saya akan harus berhenti bermimpi. Atau malah saya akan terus bermimpi.
Yang saya mau adalah saat-saat ketika saya berhenti tersebut adalah karena sudah tak ada lagi yang bisa saya mimpikan.
Tapi, apakah bisa?
Manusia bisa memimpikan semua hal. Termasuk, "Saya ingin makan ayam geprek besok siang," atau, "Besok saya ingin mengurangi cemilan."

Mungkin mimpi memang selalu menjadi bagian dari realita.
Atau sebenarnya, realitalah yang menjadi bagian dari mimpi.

Sunday, August 28, 2011

Another Lampsindofans Project!

Setelah kemarin kita sukses ngedapetin tanda tangan Lampard di project foto ultah Lampard, sekarang @lampsindofans balik lagi dan siap ngasih hadiah berupa 2 t-shirt @lampsindofans untuk dua follower yang beruntung dalam rangka 1 tahun account @lampsindofans!


Untuk mendapatkan t-shirt tersebut, kalian harus mengerjakan dua hal berikut:

1. Bikin singkatan nama LAMPARD sekreatif mungkin!
Contohnya: L untuk 'lucu', A untuk 'amazing', M untuk 'manis', P untuk 'pacar aku', A untuk 'aw mana tahan', R untuk 'raaawwwrr lucu banget!', D untuk 'damn, he's the best player I've ever known!'.

2. Buat essay bertema "Mengapa Lampard Pantas Menjadi Legenda"!
Essay diketik dan dikirimkan dalam format .doc atau .docx. Panjangnya minimal 1.500 karakter.

Keduanya dikirim via e-mail ke superfrankbdayproject@yahoo.com paling lambat 15 Oktober 2011. Jangan lupa cantumkan data diri kalian di dalam e-mail, minimal nama lengkap dan username Twitter kalian!

Gampang, kan?
Jadi, segera buka Microsoft Word kalian dan tulis kedua tugas tersebut sekreatif mungkin! :)
Kalau ada pertanyaan, kalian bisa tweet ke @lampsindofans :)

Saturday, August 27, 2011

Seperti Menjahit! :)

Baru-baru ini, saya menyelesaikan sebuah novel berjudul "Jennifer Johnson is Sick of Being Single."
Terlepas cara berceritanya yang agak membosankan, plus banyak salah eja maupun salah ketik dalam edisi Bahasa Indonesianya, ceritanya sebenarnya cukup menarik.



Nggak seperti chicklit kebanyakan, yang mayoritas berakhir dengan si-perempuan-pun-dapat-bersanding-dengan-pria-yang-ia-cintai, Jennifer Johnson justru berakhir dengan menikahi pria yang ia mimpikan. Semacam pangeran berkuda putih yang ada di dongeng dan menjadi impian para gadis-gadis cilik lah.

Diimpikan, bukan dicintai.
Di situlah saya membuat perbedaan besar. Karena, dalam dongeng di dunia nyata, pria yang kau impikan tidak selalu kau cintai.

Dan di bawah ini adalah quote menarik yang saya kutip dari novel ini. Yang sepertinya membuat saya harus segera jatuh cinta... pada sesuatu.


Aku tidak iri. Bagaimana mungkin? Semua itu hanyalah perayaan biasa, seperti halnya Natal atau ulang tahunmu. Ulang tahun mungkin penting saat kau masih kecil. Segalanya terasa menyenangkan. Kau merencanakannya sejak berbulan-bulan sebelumnya dan mengundang semuanya. Setiap kado membuatmu berdebar-debar; tidak butuh apapun untuk membuatmu bahagia. Badut akan terasa sangat lucu, hadiah plastic murahan yang kau dapatkan setelah berhasil memukul piñata sangatlah berharga. Kau menjadi histeris dan menggila saat berlarian bersama teman-temanmu, hingga akhirnya kau harus berpisah dengan mereka.
Kemudian, ketika kau tumbuh dewasa, ulang tahunmu akan terasa menyebalkan tidak peduli apapun yang kau lakukan. Jika sekarang kau melihat balon berbentuk bintang atau piñata, atau bahkan badut sewaan, kau hanya menangis, menangis, dan menangis. Cake ulang tahun memang masih bisa dinikmati, tetapi tidak ada yang bisa sepenuhnya mengembalikan perasaan bersemangat yang kau alami ketika kecil, atau perasaan bahwa kau adalah orang paling beruntung di dunia dan ini adalah hari terbaik dalam hidupmu. Kapan terakhir kali kau merasa seperti itu?
Mungkin itu sebabnya jatuh cinta menjadi sangat penting. Harapan untuk bisa merasakannya. Karena itulah satu-satunya pilar terakhir di dalam kuil kegairahan. Ketika kau jatuh cinta pada seseorang, rasanya seperti kau sedang berulang tahun di usiamu yang Sembilan tahun. Hari yang cerah, orang tuamu mencintaimu, dan ada badut yang tidak membuatmu takut atau membuatmu bertanya-tanya apa dosa yang mereka perbuat hingga dikutuk menjadi badut; kau merasa bersemangat dan berdebar-debar dengan kebahagiaan, yang terasa seolah akan bertahan selamanya
.

Seorang kawan, saya lupa siapa, pernah berkata kurang-lebih sama seperti ini:
"Kalo kamu deg-degan sama seseorang, berarti kamu suka sama dia. Kayak kalo kamu lagi menjahit, rasanya pasti bersemangat dan deg-degan karena seneng kan."
Setelah semalam saya pikir-pikir, rasanya perkataan dia ada benarnya. Setelah berbulan-bulan tidak menyentuh jarum, benang, dan kain flanel, semalam saya iseng membuat keychain menggunakan ketiganya. Bentuknya gurita dan berwarna ungu, karena dulu saya janji mau membuatkan satu untuk Diba.

Selama menjahit kain flanel, rasanya gimana ya... Pokoknya: menyenangkan! Seperti biasanya, di bagian awal jahitan saya kurang rapi (tapi sekarang udah jauh mendingan dibanding dulu kok -____-). Tinggal diteruskan saja, lama-lama jahitannya sudah serapi yang diinginkan. Dan ketika saya sadar kalau hampir semua sisi sudah beres dijahit, rasanya gimanaaaaaa gitu. Sedih sih enggak, tapi ada perasaan kalo saya nggak pengen acara menjahit ini lekas selesai :|

Lalu, teringat lagunya OneRepublic yang "Won't Stop".

Kok rasanya memang benar perkataan teman saya itu :)
Menemukan hal yang disukai itu baik. Deg-degan yang ditimbulkan karenanya juga baik :)
Mungkin jatuh cinta memang begini rasanya; senang ketika menjalaninya, selalu dipenuhi perasaan untuk membuat sesuatu yang "baru" karena hati dipenuhi perasaan tidak ingin segalanya lekas usai. Dan, ketika ada hal yang tidak baik menimpa, keinginan untuk membereskannya begitu menguasai sampai bikin gemes. Geregetan. Sama seperti ketika kesulitan untuk memasukkan benang ke dalam lubang jarum :)

Anyway, ini gurita ungunya. Semoga ketika dikasih mata, dia nggak seserem yang saya bikin ini :p



Dan masih ada "disderi" ini! (Si Ana nggak bales sms yang aku bilang kalo aku bikin disderi pake flanel ih :S)

Yang mana hayooo disderinya yang asli hayoooo *pertanyaan bodoh*
Well... Tampaknya harus segera beli kamera digital baru. Yang resolusinya bagus. Atau segera ganti hape. Aaaaaa~

Monday, August 22, 2011

Momo si Disderi: edisi 3 dan 4! :D

Oke.
Semakin lama semakin saya sadar bahwa memotret pakai si Momo bisa berarti ada BANYAK jari nampang!
Entah itu jari saya, atau jari orang lain yang minjem Momo buat nyoba motret.

Selain itu, bisa pula terjadi peristiwa yang disebut: pemenggalan secara visual.
Seperti ini:

-______-


Untuk jepretan edisi ketiga, diambil kisaran Juni-Juli 2011. Beberapa foto diambil saat saya dan Dhita nonton bunkasai di JEC. Sedangkan untuk edisi keempat, mayoritas diambil saat saya menjadi LO di Joved UGM 2011 yang lalu. Tim yang 'beruntung' menjadi anak-anak saya adalah Poltekom Bandung A. Hanya saja, karena LO Poltekom B sempat sakit, jadilah saya mengasuh delapan anak :|

Tapi anak-anaknya menyenangkan! :D

Minus Devki, yang nggak kejepret (cubit Hesti!) dan Rofi.
Kiri-kanan: Prima, Taufik, Kak Delfi, Iluz, saya, Dessy, dan Eka :D

Oh well, untuk Devki, I give her credits for calling my Momo as kamera chiki dan telah membuat saya 'menyicip' adegan ala sinetron, di mana lakon nyaris ketabrak mobil dan berteriak kencang. Hanya, mobilnya berubah jadi motor -____-"
Seriously, I wont ever forget that! Hahahaha :))
Dan perihal kamera chiki, ini karena mereka meragukan kemampuan Momo untuk memotret. Well...


Sayangnya, di foto-foto berikut juga personilnya nggak lengkap. Kayak Eka, dia pergi misah sama temennya. Iluz, dia balik ke lodging gara-gara kejedot tanda jalan dan jidatnya berdarah -___-

Santap takoyaki bersama Riza, Dilla, dan Dito (nggak tampak di kamera).

...is it? Or, isn't it?



TERNYATA BISA MOTRET SENDIRI PAKE MOMO. HURRAAAAAYY \:D/

Sheila & Dea! :3

Jepretan terakhir di depan kandang babi-nya Esti :p


Me & Dhita! :)





This kiddo is reaaaallyyyy cute, isn't he? :3


And following are photos from the 4th film. Nggak seperti biasanya, di mana saya selalu pake Kodak Colorplus asa 200, saya pake Fujifilm Superia 200. Dan hasilnya ngga terlalu memuaskan. Warnanya kurang tajam -____-
Tapi ya gimana lagi, pas itu kepepet sih -______-


Yayy, ada fotonya Wildan! <3



Basamo Kak Fatma, yang ternyata adalam kawan SMA "Kak" Andre :O

BOCOOOOOORRRRR -_____-"

Ini duet sableng, Devki dan Kak Delfi

Acik acik naik becak :3


Pak Becak-nya kuat yak!



Salah satu bentuk pemenggalan secara visual .__.



Daaaan setelah saya tergila-gila dengan album Radtitude empunya Weezer, sekarang saya sedang tergila-gila dengan Beirut. Namanya boleh jadi serupa nama kota, tapi yang ini adalah band indie-folk.



Coba deh dengerin Postcards from Italy-nya... Dahsyat!


Smell ya later!
xx