Tuesday, December 20, 2011

Pahit, Sekaligus Manis (Sebuah Catatan dari Pementasan “Setjangkir Kopi dari Plaja”)

Sebelumnya, saya sampaikan bahwa ini adalah posting ke-100 di blog saya! :D/

Okay.

Saya tidak pernah paham bagaimana Cinta bekerja. Dan bagaimana bisa seseorang mampu mempertahankan janjinya selama empat puluh tahun atas nama Cinta.

***



Kisah “Setjangkir Kopi dari Plaja” ini saya saksikan, dengan bermodal rasa penasaran dan iming-iming dari seorang kawan, dalam kemasan teater boneka bikinan Papermoon Puppet Theatre dan mengambil ‘panggung’ di sebuah toko barang antik. Kawan saya itu pernah bilang kalau ceritanya akan mengambil setting ketika pemberontakan PKI meletus di Indonesia. Tapi, tak saya sangka, justru kisah Cinta lah yang akan dituturkan.



Dua sejoli, yang kemudian diketahui adalah Pak Wi dan Sang Kekasih Masa Lampau, sedang bercengkrama. Keduanya berboncengan dengan sepeda onthel menuju pasar malam. Sepanjang jalan, tak lupa Pak Wi sesekali merengkuh Sang Kekasih, yang memeluknya dari belakang. Hidup nampaknya berjalan sempurna bagi keduanya dan Pak Wi berjanji bahwa ia akan menikahi Sang Kekasih.


Tak disangka, Pak Wi harus pergi ke Soviet untuk meneruskan pendidikan di perguruan tinggi. Dan kemudian, meletuslah kisruh G30S/PKI, menyebabkan status kewarganegaraannya dicabut lantaran bersekolah di negara penganut Komunis. Selama terpisah, tak pernah ia mengingkari janjinya untuk menikahi Sang Kekasih, bahkan hingga empat puluh tahun kemudian


Satu adegan yang membuat saya mengucurkan air mata (bahkan hingga saya menulis tulisan ini di netbook) adalah kala Sang Kekasih, yang telah menikahi pria lain (dan sekarang telah memiliki empat cucu), menemukan kembali sebuah cangkir antik. Cangkir itu, pada adegan pembuka, adalah cangkir yang ia pakai untuk menyeduh kopi bagi Pak Wi. Sambil terduduk, ia peluk cangkir itu.

***

Kisah ini adalah kisah nyata. Jujur, nyaris tidak saya sangka. Kisah ini terlalu manis untuk menjadi nyata – cenderung menyerupai kisah fiksi, malah. Dan cara saya menceritakan di atas, terus-terang, banyak mengurangi manis dan pahitnya kisah itu. Apabila Maria Tri Sulistyani, Artistic Director kisah ini menganggap bahwa, “Mungkin dengan diceritakan secara langsung, kisah ini malah akan terasa lebih indah daripada saya pentaskan,” maka setidaknya ia berada pada level yang jauh di atas saya dalam menceritakan ulang kisah ini.
                
Bukannya saya orang yang sudah mengalami pahit dan manisnya Cinta. Sudah saya tulis sebelumnya, Cinta bukan bidang saya. Dan saya sendiri belum pernah menikmati nikmatnya jatuh cinta. Namun, kisah ini membuat saya berpikir cukup lama; saya seperti merasuki diri sendiri dan mencari apa mau saya jika berkaitan soal CInta ini. Semua orang, nampaknya, mengharapkan kisah cinta yang berakhir bahagia. Atau kisah yang terdengar romantis seperti kisah Pak Wi, bahwa ia masih tetap melajang di usianya yang kali ini menginjak angka tujuh puluh satu.


Layaknya kisah Cinta klasik di toko barang antik ini, saya merasa seperti dijejalkan di sebuah toko tua – dalam arti kiasan tentunya, karena pada nyatanya saya memang berada di toko barang antik – dan menggali kisah yang tersembunyi pada tiap benda di sana. Lantas, saya tersadar. Saya menyadari satu hal: mau antik, kuno, atau berdebu, cinta itu abadi.
                
Manisnya kisah Pak Wi menyisakan pahit di hati saya; seperti habis menelan obat. Entah mana yang mengambil peran lebih banyak: manis atau pahitnya Cinta. Sekali lagi, saya hanya bisa merasakannya dengan sungguhan bila saya telah berani jatuh cinta.
                
Menikmati kisah cinta orang lain mungkin sudah cukup bagi saya. Saat ini.
                
Saya hanya ingin ketika nanti saatnya sudah tiba bagi saya untuk melepaskan hati saya, saya sudah benar-benar siap untuk jatuh…


                
Dan biarkan orang yang tepat datang untuk menangkapnya, lalu membawa hati itu kepada saya.

(Saya anggap ini sebagai jawaban untuk menghapus kerisauan yang timbul selama beberapa hari ini.)

Terima kasih untuk Acin, yang sudah ‘membujuk’ saya untuk menyaksikan teater boneka ini. Dan kepada Dila, yang telah menemani saya menonton ini dan selalu mencengkeram lengan saya ketika lampu tiba-tiba mati (hey, saya juga benci gelap!).

2 comments:

Ratih Swastyka said...

Salam kenal mbk Kikin, trima kasih sudah berbagi cerita Setjangkir Kopi dari Plaja, pasti menyenangkan bisa melihat pementasannya secara langsung :)

Kikin Safira said...

Basi sekali, saya baru saja baca komentar Mbak Ratih. Sama-sama, maaf apabila penulisannya agak berantakan :)

Post a Comment