Monday, April 23, 2012

Nasionalis Tanda Kutip


Halo, lama tak bersua di blog :)

Postingan kali ini nampaknya akan singkat saja, membahas soal tweet berikut:


click for larger image :)


Yap, sudah berkali-kali saya melihat opini serupa. Namun, jarang ada yang mau berargumen tentang ini. Sehingga, berkali-kali ya saya hanya melihat pendapat serupa, diiyakan, lalu selesai tanpa ada diskusi mendalam. Dan, kali ini saya hendak memberikan argumen mengapa berbahasa asing tidak melulu merupakan wujud ketidaknasionalisan atau wujud ketidakbanggaan sebagai orang Indonesia.


Kamus Besar Bahasa Indonesia memberi definisi sebagai berikut:
na·si·o·na·lis·me n 1 paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri; sifat kenasionalan: --makin menjiwai bangsa Indonesia; 2 kesadaran keanggotaan dl suatu bangsa yg secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu; semangat kebangsaan


na·si·o·na·lis n 1 pencinta nusa dan bangsa sendiri; 2 orang yg memperjuangkan kepentingan bangsanya; patriot: ia adalah seorang pejuang -- sejati
Ya, seorang nasionalis, dalam definisi secara bahasa, adalah seorang pecinta. Namun, jangan tanya pada saya apa itu nasionalisme dan seorang nasionalis yang ideal; saya bukan orang yang bergelut dalam ideologi seperti itu.


Yang hendak saya tekankan di sini adalah: penggunaan bahasa asing tidaklah lantas melunturkan rasa cinta. Semester ini, saya mengambil mata kuliah Teori Akuntansi yang diampu oleh Suwardjono. Bagi kawan-kawan yang berkecimpung di bidang akuntansi, saya asumsikan semuanya familiar dengan nama ini. Beliau, selain menjadi dosen akuntansi, juga adalah pemerhati bahasa. Bagi yang tertarik membaca tulisan-tulisan beliau, silahkan klik di sini.


Berbahasa Indonesia memang penting. Tapi, adakah yang paham mengapa? Jangan beri saya jawaban 'bukti kecintaan akan Indonesia'. Bagi saya, argumen tersebut tidak kuat dan masih terlalu abstrak. Bahasa Indonesia memang adalah pemersatu bangsa, seperti yang dituangkan dalam Sumpah Pemuda. Namun, nampaknya kepentingan dan alasan untuk mempelajari bahasa ibu masih dimaknai secara abstrak.


Saya pernah membuat tanggapan artikel Suwardjono yang berjudul "Peran dan Martabat Bahasa Indonesia dalam Pengembangan Ilmu". Memang, tulisan tersebut akan lebih banyak mengarah pada urgensi bahasa Indonesia dalam lingkup akademik. Namun, karena saya adalah pelajar dan memang manfaat penguasaan bahasa Indonesia yang baik terjabar dengan jelas di sini, saya akan turut sedikit mengulas artikel tersebut beserta tanggapan saya.


Sudahkah kita, selama ini, memelajari bahasa Indonesia dengan baik dan benar? Saya sendiri baru menyadari bahwa bahasa Indonesia sungguh kompleks ketika saya sudah berada di bangku kelas 3 SMP. Lantaran posisinya sebagai bahasa ibu dan bahasa sehari-hari, bahasa Indonesia tidak dipelajari secara serius, meski sudah diajarkan di dalam pendidikan formal sejak bangku Sekolah Dasar. Serupa dengan pernyataan Suwardjono, bahasa Indonesia masih dipelajari dengan cara monkey see monkey do, alias sebatas secara alamiah. Padahal, bahasa Indonesia yang dipelajari di kehidupan sehari-hari adalah bahasa Indonesia yang berada pada aras yang rendah dan bahasa Indonesia di lingkungan pendidikan harusnya lebih canggih.


Dalam pendidikan formal, bahasa Indonesia sendiri seperti dianaktirikan dengan bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Dalam artikel tersebut, Suwardjono menulis bahwa cendekiawan cenderung asing dengan bahasa Indonesia karena penguasaannya akan kosa kata bahasa asing lebih luas dibanding kosa kata bahasa Indonesia. Padahal, bahasa Indonesia memiliki struktur yang juga canggih serta bermartabat. Dampaknya, dalam dunia pendidikan, saya menghindari buku terjemahan berbahasa Indonesia lantaran terjemahannya yang meragukan. Bandingan dengan Jepang, yang tak perlu menguasai bahasa Inggris dengan baik, namun mampu menyerap pengetahuan dalam berbagai buku lantaran negara membentuk badan bahasa (seperti Pusat Bahasa di sini) untuk menerjemahkan buku-buku tersebut ke dalam bahasa ibu. Rendahnya penguasaan bahasa Indonesia kita sering kali membuat kita memahami buku-buku ilmiah, yang ditulis dengan bahasa pada aras yang semestinya, dengan aras bahasa yang rendah. Sehingga, banyak yang mengeluh bahwa 'buku ini terlalu berat dibaca, istilahnya aneh-aneh'.


Menanggapi hal tersebut, saya menulis bahwa ada sebuah rantai yang membentuk hubungan tersebut. Rendahnya minat baca (sebagai faktor yang saya anggap berhubungan dengan rendahnya penguasaan kosa kata pelajar saat ini) dapat dipahami karena tingginya level bahasa dalam bacaan sementara pembaca tidak mengikuti bacaan tersebut dalam level yang semestinya. Di satu sisi, rendahnya minat membaca ini juga mendorong rendahnya penguasaan akan kosakata. Rendahnya kosakata yang dikuasai dan pengetahuan kebahasaan yang rendah menyebabkan akademisi tidak dapat menghasilkan karya ilmiah dengan tingkat bahasa yang semestinya.

Tak sadarkah kita bahwa penguasaan kita akan bahasa Indonesia juga sebenarnya berperan dalam globalisasi? KBBI menyebutkan bahwa globalisasi adalah 'proses masuknya ke ruang lingkup dunia'. Suwardjono sendiri menyebutkan bahwa pemaknaan globalisasi terkini diikuti dengan 'penginggrisan bangsa dan masyarakat'. Namun, Jepang memaknai globalisasi sebagai sebuah proses pengglobalan negara, bukan individu. Sehingga, penguasaan akan bahasa Inggris di sini menjadi wajib hukumnya, sementara bahasa Indonesia sendiri masih dipelajari dengan standar yang belum memadai.

Penguasaan akan bahasa Indonesia yang beraras tinggi sebenarnya membantu kita untuk menguasai bahasa asing dengan baik. Argumen saya adalah: kosa kata bahasa Indonesia kita yang terbatas turut membatasi kemampuan kita dalam menguasai kosa kata berbahasa Inggris. Contohlah bagaimana kita membedakan philanthropic dengan generous? Atau yang sederhana saja: earn dengan get?


Yang terakhir adalah, apa hubungan antara ocehan saya ini dengan judul, yang saya beri Nasionalis Tanda Kutip, alias "Nasionalis"? Tanda kutip yang mengapit sebuah julukan biasanya disertai pengucapan yang berbau sindiran. Ya, saya di sini hendak menyindir yang sangat bangga mengkritik soal penggunaan bahasa asing sebagai wujud ketidakcintaan, ketidaknasionalisan, atau ketidakbanggaan akan bahasa Indonesia. Akan tetapi, sindiran ini tidak hanya khusus bagi mereka saja. Tetapi, juga untuk kita semua: sudahkan kita berbahasa Indonesia dengan baik dan benar?
Ya,
M

Sunday, February 19, 2012

Semacam Tips dan Trik KRS FEB UGM: Ulala Yeyeye! :D

Yes. Akhirnya, kemarin Senin 13 Februari 2012 adalah KRS saya yang kelima, which means saya sudah masuk ke semester 6 :’)
Melihat usia perkuliahan saya yang tak lagi remaja, saya anggap saya sudah rasakan pahit-manis-asam-asin dunia per-KRS-an. Karena itulah, saya putuskan untuk membuat posting ini. Jikalau nanti saya tiba-tiba mogok blogging, ada tambahan satu posting yang (insya Allah) bermanfaat.
Postingan ini akan berupa catatan pengalaman KRS saya sejak semester 2 hingga semester 6 ini (soalnya semester 1 modelnya paketan). Dari pengalaman tersebut, silahkan dipetik pesan moralnya. Insya Allah nggak tersesat :p

KRS Semester 2 (Februari 2010)
Uuuuw, hidup sebagai mahasiswa belum lengkap kalau belum KRSan. Biarpun harus diospek sejuta kali, kalo belum KRSan itu belum mahasiswa. Titik.
Pas KRS semester 2 ini, jadwal KRSnya dimulai jam 8 pagi. Beda sama KRS barusan, pas ini kalo KRS masih dibagi-bagi gitu. Jadi, engga tumplek blek se-FEB akses Sintesis dalam satu waktu. Tiap kali dijatah, saya selalu kebagian KRS di hari ketiga. Enak banget, soalnya yang hari pertama biasanya trobel hehehe
Nah, jam 6 pagi saya udah nongkrong dengan manis dan belum mandi di A-Net, warnet yang masih sodaraan sama Blangkon dan terletak di deket MAP UGM. Denger-denger sih kenceng. Nah, begitu dapet bilik, saya langsung jajal tips dari seorang senior: langsung buka dan login Sintesis, terus refresh tiap 5 menit.
Kalau KRS dijatah gini, biasanya habis dalam 4 hari. Jadi, dalam sehari, cuman dibuka 15 tambahan kuota untuk tiap mata kuliah. Dan problem dimulai saat saya sudah bisa KRS-an, tapi….
KUOTANYA BELUM NAMBAH!!!
Panik. Jegerrr. Dan saya KRS-an sendiri, tanpa kawan.
Lalu saya nelfon Dito, yang konon lagi di Labkom, nemenin Vina. Katanya, di Labkom sendiri juga rusuh, karena kuotanya nggak nambah. Tapi, saya nggak mau panik sendirian. Saya paksa dia buat nyamperin saya. Kebetulan, dia sebenernya lagi ada RAT Kopma di Filsafat. Kemudian dia izin buat nyamperin saya dengan alesan: semacam teman saya lagi KRSan dan panik dan pingsan. Fine.
Lalu, kuota pun nambah. Saya langsung bergerak secepat (yang saya bisa) nya buat milihin dosen dan kelas yang sesuai dengan plan KRS saya. Sayangnya, saya miss untuk beberapa kelas; ada yang nggak dapet kelas sama sekali, ada yang banting setir ke dosen lain. Saya inget banget tuh, karena nggak kebagian Bahasa Inggris II, akhirnya saya ambil Sosiologi dan Politik dalam usia yang semuda itu (sebenernya nggak ngaruh juga sih…)
Dan semester 2 pun berlalu, saya dapet A untuk Statistika I, dengan dosen Bu Diny yang notabene susah kasih nilai fufufu (denger-denger sih karena beliau abis itu nerusin S3 di luar negeri, makanya ngasih bagus)

KRS Semester 3 (Agustus 2010)
Wah, ini KRS paling memorable. Kenapa? Baca aja deh (kalo penasaran) :D
Beda sama sebelumnya, KRS pas ini dimulai… jam 12 malem! Pas puasa sih ya, nggak tau deh motifnya apaan. Biar ngga tabrak tarawih mungkin, atau biar sekalian melek sahur. Ah, whatever.
Masih sama kayak sebelumnya, jadwal KRSnya juga dibagi-bagi. Nah, di sini KRS mulai dari 16 Agustus 2010 sampe 20 Agustus 2010, dengan catatan pada tanggal 17 Agustus 2010 sistem libur dan mahasiswa dapat mengakses dari luar FEB. Saya sendiri dapet jatah KRS tanggal 19.
Petaka terjadi saat tanggal 17 itu.
Tanggal 17 itu, banyak dari kami yang memahaminya sebagai: nggak ada KRS. Fakta: KRS tetep ada, bisa diakses semua anak FEB, dan kuota yang dibuka ada TIGA PULUH KURSI!!
Seorang teman sudah mencoba menghubungi saya, baik telepon maupun sms. Tapi, saya kalo sahur emang nggak pernah ngebuka HP. Dan saya baru tau kalo bisa KRS… jam setengah Sembilan pagi.
Dan buru-burulah saya ke rumah tetangga saya, Iffa, buat nebeng KRS-an. Hasilnya: Senin saya kuliah jam 7 pagi sampe jam 6 malem, alias kuliah 11 sks. Saya dapet kelas Akuntansi Biaya yang nggak saya pengen, dan jadwalnya nabrak sama Etika Bisnis.
Sorenya, saya bertemu dengan Dito dan Ira untuk rekonsiliasi KRS di Kawaii Sushi (sekalian nyicip, soalnya pas itu Kawaii Sushi masih baru). Akhirnya, kami putuskan untuk nekat KRSan malam itu (tanggal 18 Agustus, yang semestinya bukan jadwal kami bertiga untuk KRSan). Saya dan Dito sepakat untuk ngelepas kelas Akbi-yang-tidak-kami-inginkan itu sepuluh menit jelang tengah malam. Dan benar saja, pada tanggal itu, ternyata semua mahasiswa masih bisa mengakses Sintesis. Saya pun dapet kelas Akbi Pak Arief, sekaligus dapet kelas Etbis. Yayy!
So far, dengan jadwal kuliah yang tumplek blek di hari Senin dan Selasa, IP saya di semester ini justru yang paling tinggi dibanding semester lainnya. Tuhan masih sayang sama saya, terutama untuk mata kuliah Statistika II :D

KRS Semester 4 (Februari 2011)
KRS ini masih pake sistem dijatah dan jadwalnya dibalikin jadi jam 8 malem lagi. Saya? Teteup kebagian jadwal di hari ketiga.
KRS saya sendiri lancar, mulus, selow kayak di pulow. KRS paling sukses, karena saya memutuskan untuk KRSan di warnet yang konon katanya paling kenceng buat KRSan: Platinum. Nggak kayak lainnya yang pake PC, saya KRSan pake wifi. Kalo ngga salah, pas itu ada problem sama urusan per-booking-an gitu deh. Untungnya saya bawa Cero, netbook saya paling keren :’)
Nah, drama di KRS semester 4 ini justru terjadi di hari pertama: banyak yang nggak bisa KRSan lantaran jam 8 banyak yang belum bisa masuk Sintesis. Yang udah bisa masuk sendiri cuman bisa bengong karena jatah sks jadi nol! Kalo jatah sks nol, mahasiswa jadi nggak bisa milih sebijipun mata kuliah. Temen saya sendiri, Gisella dan Seya, baru bisa KRSan jam 9 malem dan terpaksa ‘memungut’ sisa-sisa mata kuliah. Pada akhirnya, memang sih diadakan hari ekstra untuk KRS buat mereka yang KRS di hari pertama. Tetapi, sistemnya adalah nambah, bukan edit. Sehingga mereka yang udah terlanjur asal pungut mata kuliah nggak bisa mengubah pilihannya dan harus menunggu masa edit KRS.
Dahsyatnya KRS ini bahkan sampe kami, EQUILIBRIUM, ulas di bulletin kami: EQ News. Dari sana, saya dapat banyak info bermanfaat terkait KRS :)

KRS Semester 5 (Agustus 2011)
Lagi-lagi, FEB bikin gebrakan baru dalam sejarah per-KRS-an di sini. KRS yang biasanya dijatah dan habis sampe 4 hari, pas ini malah cuman 2 hari dan bisa diakses oleh semua mahasiswa. Semuanya ketar-ketir, takut server masih lambretta, dan buru-buru cari warnet yang koneksinya dewa.
Pas KRS ini, saya sendiri masih setia sama wifi Platinum dan nongkrong di boksnya Esti, yang ada di pojokan deket jendela.
Esti sendiri sempet khawatir kalo bakalan lemot. Solusi dari saya sih gampang: loncat aja dari jendela, kalo KRSnya gagal ;p
Pada akhirnya sukses sih. Malah, saya ngerasa KRS pas itu lancar. Berasa kayak KRS seperti biasanya. KRS yang harusnya mulai jam 8 malem, saya dan Esti malah udah bisa akses sebelumnya. Jam 8 lebih dikit, kami udah beres KRSan. Yang kasian Dito tuh, boks dia bermasalah. KRS dia kurang oke, sampe putus asa gitu *pukpuk*
Oh iya, denger-denger ada beberapa anak yang KRSan pake wifi kampus dan sukses tuh!

KRS Semester 6 (13-16 Februari 2012)
Lha ini nih, yang barusan berlalu. Yang bikin tombol F5 saya melesak saking seringnya dipencet hahahaha
KRS yang barusan juga mirip kayak KRS semester 5: dibuka buat semua anak FEB. Bedanya, yang ini dijadwalkan empat hari.
Jam 7 malem saya nyampe Platinum dan langsung beli voucher wifi. Dan… nggak bisa login :’| bahkan, saya udah ganti voucher sampe tiga kali dan hasilnya sama aja! Sempet pinjem laptop Seya malah, dan hasilnya sama aja.
Ternyata oh ternyata… voucher yang dipake buat saya itu ketiganya belom diregistrasiin sama operator! Ngek. Udah panik-panik gimanaaaa gitu dan ditungguin sama Ade, yang kemakan hasutan saya buat KRSan di Platinum pake laptop.
Jam 8 kurang 10, saya masih setia nge-refresh Sintesis… selama hampir sejam. Serius deh. Semuanya susah masuk! Nggak cuman yang di Platinum, tapi trobelnya merata gitu. Soalnya, pas saya akhirnya bisa KRSan, kelas-kelas dengan dosen yang sekiranya most wanted gitu sisa kuotanya masih banyak gitu.
Dan kayaknya banyak anak angkatan 2011 di Platinum deh. Semua pada panik kayak mau nangis gitu (di telingaku). Sementara saya dan Esti masih aja mencetin tombol F5 dengan kalem, sambil ngelantur kalo masih bisa mlipir ke KUA :’)
KRS kemarin aku nongkrong di area buat wifi, nemenin maba-maba yang pada wifi an juga di sana. Dan selama nunggu Sintesis beres, saya menghabiskan waktu untuk ngakses 9GAG. Agak ngga bener juga sih, soalnya saya jadi sesekali lupa buat refresh :p

Nah, dari pengalaman-pengalaman barusan, bisa saya simpulkan beberapa tips dan trik buat KRSan di FEB UGM:
  1. Jangan pernah lupa buat ngecek mata kuliah ditawarkan dan bikin plan KRS, biar pas KRS enggak blank dan bingung mau ambil apa. Bayangin aja, tiap KRS, kita bisa ditawarin sampe puluhan mata kuliah loh, campuran antara makul wajib dan pilihan. Terakhir, saya malah ditawarin 59 makul pas KRS. Buat yang masih angkatan fresh, bersyukurlah karena biasanya stok dosen untuk satu mata kuliah itu banyak. Lha buat yang udah seumuran saya? Beh, seadanya! Apalagi buat mata kuliah pilihan! Oh iya, buat tambahan aja, kalo abis nyusun plan KRS, sebaiknya bikin prioritas ngeklik. Maksudnya, kalian tentuin makul apa yang harus diklik pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Buat jaga-jaga kalo dosen yang kalian pengen itu most wanted dan banyak rebutannya sih.
  2. Akses Sintesis sejam sebelumnya (kira-kira), login, dan terus refresh halamannya kira-kira tiap 5 menit. Kalo misal server lagi beres kayak dulu-dulu, kita nggak akan kena time out dan otomatis logout. Tapi, kalaupun KRS kayak semester kemarin, buat saya sih minimal ngerasa secured karena paling enggak udah sempet login lah (maksa haha :p)
  3. Jangan. Panik. Serius deh, ini penting banget. Jangan heboh juga, kalo misal kalian udah bisa KRSan. Jadi, jangan langsung teriak, “Udah bisa!” Soalnya, kasian aja sama yang belum bisa. Dia jadi panik kan. Soalnya, mau kalian mengerang atau teriak-teriak kayak apa, kalo server udah lemot ya nggak bakalan bikin server jadi kenceng, kan? Tapi, kayaknya faktor ini memang harus dilatih dan biasanya hanya berlaku buat yang udah angkatan atas (atau yang KRSnya gagal mulu kayak DIba :p)
  4. Jangan ngeklik banyak mata kuliah sekaligus pas KRS. Ini kemarin kejadian ke satu anak angkatan 2011 yang KRS bareng aku. KRS FEB UGM itu, tiap kita klik 1 makul, halaman akan refresh dengan sendirinya. Kalo sukses, nanti tulisan “SKS Pilih” yang ada di atas akan nambah. Nah, kalo kalian langsung borong ngeklik banyak-banyak, bisa jadi yang masuk cuman satu aja atau yang diklik duluan.
  5. Jangan lupa nge-print hasil KRSan. Caranya dengan ngebuka “Check Your Study Plan”. Ini sifatnya buat jaga-jaga sih, in case tiba-tiba apa yang udah kalian pilih tau-tau ngilang gitu dari Study Plan, pas kalian buka keesokan harinya. Denger-denger, kalo protes sambil nunjukin print out dari study plan kalian bisa ngebantu. Untungnya saya nggak pernah ngalamin, tapi saya selalu print tiap KRSan.
  6. Last but not least: Jangan lupa isi kuesioner dosen. Kemarin ada anak 2011 yang kena di sini. Taun kemarin juga, si Nur lupa ngisi. Sejak aku KRS semester 3, kuesioner dosen tuh jadi wajib diisi dan buat syarat untuk KRSan. Kalo kuesioner dosen belum lengkap, ya nggak bisa KRS.
  7. Prioritas KRSmu itu apa? Dosen atau kelas? Dulu pas ngobrol sama staff Akademik, katanya kalo KRS pasti banyak mahasiswa komplain nggak dapet kelas dan dosen yang diinginkan. Jadi, prioritas KRS tuh apa sih: dapet kelas buat kuliah atau dapet dosen yang enak ngasih nilai aja? Saya nggak akan jawab ini, soalnya jawaban tiap orang kan relatif berbeda. Cuman, kalo ngerasa KRS kalian nggak terlalu oke, plis jangan ngumpat-ngumpat ngatain Akademik di message board! Ini ternyata berbuntut panjang loh, ada mahasiswa yang nggak pernah ngata-ngatain Akademik, sekalinya kena masalah, langsung jadi semacem “pelampiasan” staff Akademik. Ini menimpa salah satu temen saya, serius. Dirasain aja, semakin lama kuliah dan semakin sering ngerasain KRS, kalian akan ngerasa kalo koneksi tuh faktor utama buat KRS. Toh, kalau KRS kalian “gagal”, masih ada gitu yang KRSnya lancar. Jadi, ini bukan salah Akademik.
Sekian ya, segini dulu aja dari saya. Semoga bermanfaat (biar saya dapet pahala :p)

Friday, December 23, 2011

Tumpah

Bayangkan: segunung emosi yang telah kamu tahan selama bulanan itu seperti mengucurkan air ke dalam wadah secara terus-terusan. Kalau tidak segera dihentikan, airnya pasti tumpah. Hebat sekali, karena hanya dibutukan satu tetesan saja untuk menjatuhkan hujan air mata; bagaimana tumpukan emosi itu akhirnya mencapai titik kulminasinya.

...dan kamu (selalu) sendirian.

Tuesday, December 20, 2011

Pahit, Sekaligus Manis (Sebuah Catatan dari Pementasan “Setjangkir Kopi dari Plaja”)

Sebelumnya, saya sampaikan bahwa ini adalah posting ke-100 di blog saya! :D/

Okay.

Saya tidak pernah paham bagaimana Cinta bekerja. Dan bagaimana bisa seseorang mampu mempertahankan janjinya selama empat puluh tahun atas nama Cinta.

***



Kisah “Setjangkir Kopi dari Plaja” ini saya saksikan, dengan bermodal rasa penasaran dan iming-iming dari seorang kawan, dalam kemasan teater boneka bikinan Papermoon Puppet Theatre dan mengambil ‘panggung’ di sebuah toko barang antik. Kawan saya itu pernah bilang kalau ceritanya akan mengambil setting ketika pemberontakan PKI meletus di Indonesia. Tapi, tak saya sangka, justru kisah Cinta lah yang akan dituturkan.



Dua sejoli, yang kemudian diketahui adalah Pak Wi dan Sang Kekasih Masa Lampau, sedang bercengkrama. Keduanya berboncengan dengan sepeda onthel menuju pasar malam. Sepanjang jalan, tak lupa Pak Wi sesekali merengkuh Sang Kekasih, yang memeluknya dari belakang. Hidup nampaknya berjalan sempurna bagi keduanya dan Pak Wi berjanji bahwa ia akan menikahi Sang Kekasih.


Tak disangka, Pak Wi harus pergi ke Soviet untuk meneruskan pendidikan di perguruan tinggi. Dan kemudian, meletuslah kisruh G30S/PKI, menyebabkan status kewarganegaraannya dicabut lantaran bersekolah di negara penganut Komunis. Selama terpisah, tak pernah ia mengingkari janjinya untuk menikahi Sang Kekasih, bahkan hingga empat puluh tahun kemudian


Satu adegan yang membuat saya mengucurkan air mata (bahkan hingga saya menulis tulisan ini di netbook) adalah kala Sang Kekasih, yang telah menikahi pria lain (dan sekarang telah memiliki empat cucu), menemukan kembali sebuah cangkir antik. Cangkir itu, pada adegan pembuka, adalah cangkir yang ia pakai untuk menyeduh kopi bagi Pak Wi. Sambil terduduk, ia peluk cangkir itu.

***

Kisah ini adalah kisah nyata. Jujur, nyaris tidak saya sangka. Kisah ini terlalu manis untuk menjadi nyata – cenderung menyerupai kisah fiksi, malah. Dan cara saya menceritakan di atas, terus-terang, banyak mengurangi manis dan pahitnya kisah itu. Apabila Maria Tri Sulistyani, Artistic Director kisah ini menganggap bahwa, “Mungkin dengan diceritakan secara langsung, kisah ini malah akan terasa lebih indah daripada saya pentaskan,” maka setidaknya ia berada pada level yang jauh di atas saya dalam menceritakan ulang kisah ini.
                
Bukannya saya orang yang sudah mengalami pahit dan manisnya Cinta. Sudah saya tulis sebelumnya, Cinta bukan bidang saya. Dan saya sendiri belum pernah menikmati nikmatnya jatuh cinta. Namun, kisah ini membuat saya berpikir cukup lama; saya seperti merasuki diri sendiri dan mencari apa mau saya jika berkaitan soal CInta ini. Semua orang, nampaknya, mengharapkan kisah cinta yang berakhir bahagia. Atau kisah yang terdengar romantis seperti kisah Pak Wi, bahwa ia masih tetap melajang di usianya yang kali ini menginjak angka tujuh puluh satu.


Layaknya kisah Cinta klasik di toko barang antik ini, saya merasa seperti dijejalkan di sebuah toko tua – dalam arti kiasan tentunya, karena pada nyatanya saya memang berada di toko barang antik – dan menggali kisah yang tersembunyi pada tiap benda di sana. Lantas, saya tersadar. Saya menyadari satu hal: mau antik, kuno, atau berdebu, cinta itu abadi.
                
Manisnya kisah Pak Wi menyisakan pahit di hati saya; seperti habis menelan obat. Entah mana yang mengambil peran lebih banyak: manis atau pahitnya Cinta. Sekali lagi, saya hanya bisa merasakannya dengan sungguhan bila saya telah berani jatuh cinta.
                
Menikmati kisah cinta orang lain mungkin sudah cukup bagi saya. Saat ini.
                
Saya hanya ingin ketika nanti saatnya sudah tiba bagi saya untuk melepaskan hati saya, saya sudah benar-benar siap untuk jatuh…


                
Dan biarkan orang yang tepat datang untuk menangkapnya, lalu membawa hati itu kepada saya.

(Saya anggap ini sebagai jawaban untuk menghapus kerisauan yang timbul selama beberapa hari ini.)

Terima kasih untuk Acin, yang sudah ‘membujuk’ saya untuk menyaksikan teater boneka ini. Dan kepada Dila, yang telah menemani saya menonton ini dan selalu mencengkeram lengan saya ketika lampu tiba-tiba mati (hey, saya juga benci gelap!).

Wednesday, November 23, 2011

Bukan Masalah Waktu, Aku Saja yang Terbiasa

Sebenarnya aku sudah lama melupakan ini. Namun, tiba-tiba saja aku teringat kamu. Kita, dulu.

Tak perlu dijelaskan berkali-kali bahwa ini bukan sebuah hubungan. Tidak pula melibatkan perasaan. Namun, secara spontan aku menyebut kita. Padahal, belum tentu kamu juga berpikiran yang sama. Maaf, aku memang lancang.

Sumpah, aku tidak menyangka ternyata sudah lama berlalu sejak terminologi ‘kita’ itu mulai kadaluarsa. Tenang, aku tidak ingin mengingat yang sudah lewat. Sudah tak ada artinya bagi siapapun. Aku hanya mencoba mengingat saat-saat setelah kita berakhir.

Pernahkah kamu menyayat lenganmu sendiri? Tak perlu terlalu dalam; kamu bukan mau bunuh diri. Namun, sayat saja sampai tanganmu terluka dan berdarah. Lalu, obati luka itu. Lukanya akan menutup dalam beberapa hari dan bekasnya akan hilang perlahan. Mungkin, karena itulah orang sering berkata, “Waktu akan menyembuhkan segalanya.”

Ibaratkan aku adalah tangan itu, dan kamu adalah lukanya. Kamu menutup, lalu hilang.

Tentu saja dulu lukaku tak sampai berdarah-darah. Aku sendiri sudah sampai pada pemahaman bahwa hubungan antarmanusia selalu diawali sebagai orang asing. Orang-orang itu mampir dalam kehidupan kita. Beberapa tinggal sebagai kawan, sahabat, kekasih, keluarga, bahkan seteru. Beberapa lagi memilih berlalu dan kembali menjadi orang asing. Dulu aku pikir lagi-lagi kamu jadi orang asing. Pada titik pemahaman itulah aku mulai sadar bahwa aku tidak akan kenapa-kenapa tanpa kamu.

Kamu sang luka, bekasmu sudah tidak ada. Dan bagiku, ini bukan masalah waktu. Banyak hal yang aku pelajari tentang kamu, yang aku pelajari tanpa kamu. Semakin aku pelajari, semakin aku tenggelam dalam diriku sendiri; aku semakin mengenal diriku sendiri.

Sekali lagi, kamu lukaku tak lagi berbekas bukan karena waktu. Aku terbiasa tanpa kamu.

Aku hanyalah sebuah tangan. Aku tidak butuh luka; kamu tidak melengkapiku, pun mengurangiku. Kamu lebih dari cukup.

Aku sudah merasa lengkap hanya dengan diriku sendiri.


Yogyakarta, 22 November 2011

Tuesday, October 18, 2011

What I'm responsible for

I believe there are reasons for everything humans do. And I do believe people have their own stories; known or unknown.
Sometimes, people want to be treated just like what they do to others. And sometimes, they just want to get respect from others. Knowing ourselves are appreciated perhaps would be the greatest thing for our existence as human beings; the fact that people are same, and the differences between us won't change a thing.
There are people who mind to know stories and reasons behind someone. And there are people who don't. Lucky if you meet people who do. And don't feel upset if you meet people who don't.
And I guess the one who's responsible about how people treat us is ourselves :)

Thursday, September 29, 2011

"Melarikan Diri" :)

Weekend lalu, akhirnya saya mengunjungi {Lir}Shop untuk pertama kalinya bersama Dhita :D
Tempatnya lucu banget. Suasananya juga. Sepi, nggak bising. Plus ketiadaan wi-fi membuat sensasi nongkrong sama temen jadi beda: nggak ada lagi yang sibuk ngobrol sama orang lain via internet, ketika justru di depan mata ada orang beneran yang bisa diajak ngobrol langsung.

And what makes this place even better is konsep kafenya! Buku menunya cute banget, kental dengan nuansa dongeng yang sejatinya memang ingin diangkat di sana. Dan isinya? Well... ada Butterbeer ala Harry Potter, Tea Set yang terinspirasi oleh tea paerty-nya Mad Hatter, dan (I have to give some credits for this beverage. Simply, it's my fave!) Ginger Ale yang "ditarik paksa" dari serial Lima Sekawan-nya Enid Blyton :D

"Eat well, live well!" :D




The hanging cups... so cutey!






Ginger Ale! ♥



Ah, I really like this place! Sayangnya, pilihan makanan berat untuk lunch terlalu sedikit, sementara brunch-nya memiliki jauh lebih banyak pilihan~
Dan anyway, this is the perfect place for reading or handcrafting :3

I need to get back thereeeeeeeeee :D

The idea of my life as a fairy tale is itself a fairy tale.
--Grace Kelly