Showing posts with label thought/s. Show all posts
Showing posts with label thought/s. Show all posts

Friday, March 8, 2013

"Ada apa?"

Buat saya, semua hubungan manusia -apapun namanya- tidak akan berjalan baik jika hanya satu pihak saja yang bekerja agar hubungan tersebut berjalan. Bayangkan saja mesin; satu komponen saja yang bertingkah "ngeyel", mana mau si mesin berfungsi dengan baik meskipun komponen yang lain menjalankan tugas seperti adanya.

Pernah merasakan dirimu sendiri muak akan sebuah hubungan karena hanya dirimu sendiri yang sepertinya berjuang agar hubungan itu berjalan dengan baik? Kamu yang berusaha agar selalu ada kontak di antara kamu dan dia. Kamu yang selalu meluangkan waktu untuk bertanya, "Ada apa?", setiap kali berjumpa. Dan kamu yang selalu berusaha bertemu meski kalian sama-sama sibuk.

Saya sedang dan sudah mengalaminya. Dan, saya putuskan saya muak.
Saya putuskan saya keluar saja dari hubungan ini.
Saya sakit hati.

Hanya karena dia orang yang besar di lingkungan keluarga yang sangat mudah memahami dia, apa pantas mengatakan bahwa "orang yang bertanya, 'Ada apa?', hanyalah orang yang ingin tahu dan tidak sungguh-sungguh peduli"?
Sungguh, itu menyakitkan hati saya.
Bagaimana bisa menyamakan orang yang sungguh peduli, namun tidak cukup waktu untuk bertemu setiap hari, dengan orang yang memang tidak benar peduli dan sekadar ingin tahu urusannya?
Lalu, saya harus bagaimana untuk menunjukkan kepedulian saya selain dengan bertanya, "Ada apa?"

Sungguh, saya bukan orang tuanya yang bisa dengan mudah bertemu dengannya setiap hari dan bisa dengan mudah mengetahui ada sesuatu terjadi padanya. Namun, apa saya tidak boleh mencoba untuk menjadi seorang rekan dan sahabat yang baik?

Dan caranya menanggapi kekesalan saya sungguh tidak pantas untuk dijadikan bahan bercandaan.
Ya, saya tahu, memang begitu cara dia menanggapi seseorang yang bersikap ketus. Namun, saya benar-benar sakit hati akan sikap dan keputusannya hari itu. Dan, reaksinya hanya membuat hal lebih buruk.

Jika berkaitan dengan perasaan seseorang, saya bahkan tidak akan bersikap sarkas seperti saya biasanya, lho.

Jadi, saya butuh kamu agar hubungan ini berjalan baik. Tapi, kamu tampaknya juga tidak peduli-peduli amat dengan bagaimana jalannya hubungan ini. Saya juga muak sendirian berusaha dan berjuang agar hubungan yang sudah ada sejak saya lahir ini berfungsi baik.

So, I decided to better quit since I am not a kind of woman who asks, "What's wrong?", just because of my curiosity. I do care. But does that matter for her?


This is what makes us girls. We don't stick together cuz we put our loves first.
--What Makes Us Girls by Lana del Rey (2012)

Wednesday, December 19, 2012

Potensi dan Sinergi



Potensi dan Sinergi
oleh: Kikin Sakinah Nur Safira
Mahasiswi Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomika dan Bisnis
Universitas Gadjah Mada


     Yogyakarta, sebagai ibukota Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terkenal akan predikatnya sebagai kota pelajar dan kota budaya. Kentalnya nuansa budaya –terutama tradisional– di sini menjadikan anak budaya sebagai pemikat para wisatawan untuk menikmati uniknya Yogyakarta, dengan Keraton Yogyakarta sebagai pusatnya. Para anak budaya itu adalah berbagai produk kesenian, seperti tari dan musik, hingga kulinernya yang khas seperti gudeg.
     Kayanya legenda, mitos, serta sejarah yang tersebar di penjuru DIY menjadikan berbagai tempat menarik untuk dikunjungi. Selain Keraton, ada pula Benteng Vredeburg, Candi Prambanan, Candi Boko, serta berbagai pantai yang menyebar di garis pantai selatan Yogyakarta. Seluruhnya telah lazim diketahui dan hampir semua telah dikembangkan menjadi objek wisata yang terkelola. Namun, itu saja kah potensi pariwisata yang terdapat di DIY?
     Kata ‘Yogyakarta’, saat ini tidak sekadar merujuk pada wilayah administratif Kotamadya Yogyakarta saja. Yogyakarta telah merujuk pada keseluruhan wilayah DIY, terutama bagi turis maupun pendatang. Misalnya adalah label Yogyakarta sebagai kota pelajar dan terkenal akan Universitas Gadjah Mada (UGM), yang merupakan salah satu universitas terbaik di Indonesia. Pada kenyataannya, UGM secara administratif berada di Kabupaten Sleman.
     Dengan dikenalnya Yogyakarta sebagai kota pelajar, terdapat banyak pendatang dari luar kota yang menuntut ilmu di sini. Banyak dari pelajar yang berusia muda itu, baik pendatang maupun penduduk asli, dibekali dengan kreativitas tinggi. Kentalnya nuansa budaya di Yogyakarta, digabung dengan ide-ide baru nan segar, kerap kali melahirkan konsep kesenian baru, atau yang lebih dikenal sebagai budaya kontemporer.

Seni Kontemporer Saat Ini
     Seni rupa kontemporer, menurut Suwarno Wisetromo, tidak memiliki definisi tunggal. Kurator sekaligus dosen Institut Seni Indonesia ini menambahkan bahwa keberadaan kontemporer “ada karena eksistensi sesuatu yang klasik, yang menjadi tumpuan perkembangan seni tersebut (kontemporer)”. Hal ini dapat dibuktikan dari apa yang seorang pelaku tari terkenal, Didik Nini Thowok, yang tak segan mengembangkan seni tari yang dilakoninya ke dalam kreasi baru yang ia sebut sebagai tari komedi.  Tari komedi ini masih berakar kebudayaan Jawa, namun bersifat ringan, menghibur, dan menceritakan kehidupan sehari-hari. Ia pun memprediksi bahwa tari kontemporer dan tari kreasi baru akan tetap memiliki banyak peminat di masa depan.
     Prediksi ini dapat terbukti nyata dengan membanjirnya ide-ide segar dari para pemuda penikmat dan pekerja seni di Yogyakarta. Dari segi musik, saat ini telah banyak pertunjukan yang menggabungkan musik modern dengan musik tradisional. Salah satu contohnya adalah kelompok musik bernama Hip-Hop Foundation. Pun ada Wayang HipHop yang menggabungkan kesenian wayang dengan musik hip hop, yang didirikan oleh Ki Dalang Catur Benyek Kuncoro.


Potensi yang Memerlukan Atensi
     Menurut Berita Resmi Statistik yang dirilis BPS pada 3 September 2012, rata-rata tamu menginap per hari di Indonesia mengalami penurunan sejak 2010. Namun, jika ditilik pada data per propinsi, rata-rata justru meningkat di DIY. Meskipun rata-rata hari tersebut masih kalah dibandingkan Bali, peningkatan ini dapat disebut sebagai sinyal baik bagi pariwisata DIY. Terlebih, dengan penambahan jumlah hotel di Yogyakarta saat ini, serta konsep MICE (Meeting, Incentive, Conference, Exhibition) oleh Pemerintah Propinsi DIY, diharapkan bahwa waktu tinggal wisatawan dapat ditingkatkan menjadi lebih panjang. Dampaknya, jumlah penghuni di Yogyakarta pun turut bertambah.
     Sinyal baik ini sebenarnya mampu mendukung perkembangan seni kontemporer di Yogyakarta. Para wisatawan tersebut adalah expected consumers atau konsumen harapan atas kesenian tersebut. Sejalan dengan perkembangan seni kontemporer yang dinamis, kesenian kontemporer menjadi tak ada habisnya untuk dinikmati. Setiap tahun, bisa jadi ada seniman-seniman baru muncul dengan ide lain yang tak kalah segar. Pemain lama sendiri banyak yang tak lelah mengembangkan kesenian yang ia tekuni agar tak sekadar memiliki nuansa eksotisme Jawa yang menarik. Namun juga menyajikan sisi kesegaran ide; menjadi sebuah ‘kejutan’ bagi penikmatnya.
      Dengan potensi keduanya yang sama-sama besar, diperlukan adanya atensi lebih seperti promosi. Janganlah para seniman kontemporer ini tak terdengar gaungnya, hanya karena mereka masih muda dengan ‘komoditas’ seni yang tak terlalu mudah diterima penikmat seni pada umumnya. Menurut saya, dengan perkembangan internet saat ini, pemanfaatan situs pemerintah terkait seperti Dinas Pariwisata dapat dijadikan sarana untuk mengenalkan para seniman ini ke dunia luar.
     Pemanfaatan e-government pada Dinas Pariwisata Propinsi DIY dapat dikembangkan lebih jauh dengan adanya basis data para seniman di penjuru DIY. Lebih jauh lagi, mereka diperkenankan untuk memiliki laman profil layaknya jejaring sosial saat ini, sehingga mereka dapat memperbaharui informasi terkait jadwal pertunjukan maupun pameran seni mereka. Harapannya, informasi tersebut dapat dimanfaatkan bagi para wisatawan dalam merencanakan kunjungan mereka selama di Yogyakarta, terutama yang terkait dengan kesenian.

Yang Juga Perlu Diperhatikan
     Pengembangan pariwisata juga tidak lepas dari fungsi lainnya. Yang hendak saya soroti di sini adalah transportasi di Yogyakarta, terutama transportasi umum, yang menurut saya belum menunjang sisi pariwisata.
     Sebagai pengguna jasa transportasi umum dalam kehidupan sehari-hari, pernah saya dapati kondektur angkutan umum yang tidak mau mengangkut wisatawan mancanegara (wisman). Padahal, wisman tersebut jelas-jelas sudah mencegat bus. Pernah juga saya dapati pramugara bus hijau yang saya anggap kurang membantu seorang wisman, yang kebingungan harus turun di halte mana agar dia bisa meneruskan perjalanan menuju Pantai Samas. Ketika saya konfirmasi pada pramugara tersebut, ia berkata, “Sudah, Mbak. Sudah saya bilang, ‘Don’t worry,’ gitu.” Mungkin ia memang memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi menggunakan bahasa asing, minimal bahasa Inggris. Namun, tindakan yang ia berikan pada wisman tersebut terbukti tidak solutif, hingga saya yang harus menjelaskan bahwa ia harus turun di halte ke berapa dari Malioboro agar bisa melanjutkan perjalanan.
     Bagi saya, perbaikan pada sektor transportasi umum ini memerlukan reformasi besar-besaran. Memang, bus hijau melayani jauh lebih baik dibandingkan bus kota lainnya. Calon penumpang dapat memeroleh informasi melalui halte perihal trayek yang perlu ditempuh untuk mencapai tujuan. Namun, segi layanan perlu diasah lebih tajam. Sumber daya manusia harus dibekali kemampuan berbahasa asing yang memadai untuk menghadapi wisatawan asing, minimal percakapan singkat dalam memberikan informasi perihal bagaimana wisatawan tersebut dapat mencapai lokasi tujuan.
     Selain itu, dalam keterkaitan ide mengenai pemanfaatan situs Dinas Pariwisata dalam menunjang seni kontemporer pada poin sebelumnya, perlu diberikan informasi perihal moda transportasi apa yang dapat ditempuh untuk mencapai lokasi. Menurut saya, hal ini perlu karena sering kali lokasi pementasan atau pameran mengambil tempat bukan di area perkotaan.

Sinergi
     Tak pelak, peningkatan jumlah wisatawan, baik asing maupun lokal, semestinya didukung dengan fasilitas transportasi maupun akomodasi yang memadai. Terlebih, keinginan untuk meningkatkan lama waktu wisatawan tinggal di Yogyakarta melalui MICE tentunya menuntut urgensi kelayakan infrastruktur penunjang.
     Dukungan pada transportasi akan membantu mereduksi kepadatan jalan. Bila tidak, pemandangan mobil-mobil pribadi yang berjejalan di jalanan juga tetap akan menjadi pemandangan lazim kala musim liburan. Kemacetan ini pun mengurangi efisiensi angkutan umum, terlebih bus hijau yang mempergunakan subsidi, serta mengurangi kenyamanan saat tinggal di Yogyakarta.
    Bagaimana rupa pariwisata Yogyakarta tidak dapat ditentukan dari cetak biru milik Dinas Pariwisata semata. Diperlukan adanya sinergi, yang diawali dari perbaikan infratruktur dan sumber daya manusia yang dapat bersinggungan dengan sektor pariwisata, agar pariwisata Yogyakarta terus berkembang mengikuti dinamika zaman tanpa harus melepaskan akar tradisionalnya. Selain itu, tak sekadar dukungan moral, dukungan finansial pun perlu digenjot untuk membesarkan kesenian kontemporer ini. Gelaran seni seperti Biennale, ART|JOG, dan semacamnya perlu didukung lebih serius. Jangan sampai pemerintah kalah oleh salah satu yayasan yang juga bergerak di bidang kesenian, yang rajin mensponsori berbagai acara seni tak hanya di Yogyakarta tapi juga di skala nasional.



REFERENSI
Adikta, D.D. dan Nurdiana, S.R., 2011. “Rupa Berhiaskan Harapan”. Equilibrium, No. XIII, 2011, h.
        45-46.
Badan Pusat Statistik, 2012. Berita Resmi Statistik No. 58/09/Th. XV, 3 September 2012. [pdf] Jakarta: Badan Pusat Statistik. Tersedia di: www.bps.go.id/brs_file/pariwisata_03sep12.pdf [diakses pada 18 Desember 2012].
Maharini, E. dan Indri, M., 2011. “Tari Kreasi Baru: Wujud Kebebasan Berakar Tradisi.”. Equilibrium,
        No. XIII, 2011, h. 47-48.
P. A. Kemal, et al., 2012. “ Menengok Rapor Merah, Menelisik Masalah.” Equilibrium, No. XIV, 2012,
        h. 18-20.

Friday, October 5, 2012

Melompat Keluar Lingkaran (bukan cerita soal beruang sirkus)

Selamat datang, semester tujuh :)

Iyaaaa, saya sudah tua sekarang. Sudah masuk angka tahun ketika adik-adik yang lebih muda akan bertanya: "Kapan skripsi?" Dan mereka yang lebih tua akan merespons: "Wah, sudah mau lulus, ya?"
Padahal, jawabannya adalah, "Belum." :p

Saya bukan mahasiswa-kelas-ekspress yang sudah mencicil skripsi dari semester silam, meskipun proposal skripsi dari mata kuliah Metopen sudah selesai. Tapi memang belum jatahnya skripsian semester ini, baik formal maupun informal. Selain masih mengambil cukup banyak jatah SKS yang harus diselesaikan (bukan ngulang, lho :p), masih ada pekerjaan sampingan yang cukup menyita waktu. Jadi, status mahasiswa ini mungkin akan masih melekat selama dua semester ke depan, jika rencana saya berjalan mulus :-)

Terlepas dari kerempongan semester 7 sejauh ini, semester ini terasa cukup menyenangkan bagi saya. Biarpun tugas menumpuk, pekerjaan membanjir, namun saya bisa melakukannya dengan cukup rileks :)

Apa yang saya nikmati saat ini adalah bagaimana saya bisa berada di luar 'lingkaran' tempat saya biasa berada, meskipun 'lingkaran' itu juga bukan saya sengajakan melibatkan saya. Ya, 'lingkaran' itu muncul hanya karena kawan dekat saya terlibat dalam 'lingkaran' itu, sehingga mau-tak-mau saya ikut terbawa. Habis, kalau mau main sama dia, juga pasti terlibat di sana sih.

Pertemanan itu bukan hal yang kompleks, namun juga tak sesederhana bernapas. Bahkan, bernapas melibatkan proses di dalam tubuh yang nyatanya tak sependek mengetik huruf A. Bagi saya, membangun hubungan pertemanan yang baik itu perlu. Ya, tak perlu memandang faktor-faktor lain seperti kaya-miskin, gaul-cupu, warna kulit, dan sebagainya, sebuah hubungan baik harus diciptakan. Sebab, siapa bisa menyangka bahwa kelak kita justru akan berhubungan dengan mereka dalam frekuensi yang lebih intim? :)

Sebuah ikatan mental atau emosi adalah tahapan yang lebih jauh dari hubungan pertemanan tersebut. Mungkin itu yang membuat dua atau lebih manusia merasakan kedekatan yang lebih dan menamai diri mereka: sahabat.

Saya sendiri bukan tipikal orang yang mudah lekat dengan seseorang atau suatu 'lingkaran'. Saya nyaman seperti ini, mengenal banyak orang dan menjalin hubungan pertemanan yang baik, tanpa banyak bumbu drama. Saya tidak mudah menyebut seseorang lain sebagai 'sahabat', karena saya tahu terma tersebut memiliki arti lebih dari sekadar kata-kata seperti dalam KBBI. Ada ikatan emosi yang terbentuk di sana, tumbuh dari rasa percaya, aman, dan nyaman.

Saya merasa beruntung memiliki karakter seperti itu.

Tepat ketika saya hendak menginjak usia dua-puluh-satu, saya menyadari (setelah ada jarak karena waktu dan kesibukan, serta introspeksi atas diri sendiri) bahwa mungkin, selama ini, saya telah memilih orang-orang yang salah untuk berada di sekitar saya. Bahwa saya mengenal lebih banyak orang yang jauh memberi kepuasan batin dan mampu memberikan kenyamanan, membuat saya makin menyesali diri sendiri.

Perihal saya telah memilih orang-orang yang salah, itu bukan berarti mereka adalah orang yang tidak tepat untuk dijadikan kawan. Bukan seperti itu. Do not get me wrong.

Saya melihat manusia seperti kepingan puzzle: satu keping dapat melengkapi dan menyempurnakan susunan puzzle menjadi sebuah gambar yang cantik. Ya, mungkin kami adalah kepingan puzzle yang berbeda, dan melengkapi gambar yang berbeda pula. Sehingga, di sini maksud kata salah bukan berarti mereka adalah orang yang salah dan tidak pantas untuk ditemani. Saya sudah cukup dewasa untuk memahami bahwa kesalahan tidak selamanya terletak pada diri orang lain. Mungkin saja selama ini saya yang salah, tetap memaksa memasangkan kepingan puzzle saya di tempat yang salah.

Dan saat ini, saya mendapat kesempatan untuk melompat keluar dari 'lingkaran' tempat saya biasa berada. Bukan hal yang rumit, mengingat nyaris tiadanya ikatan emosi yang mengikat saya dengan mereka.




Hal yang menyenangkan dari melompat keluar saat ini adalah kesempatan untuk mengenal lebih banyak orang. Saya lebih senang mengenal orang lain menurut subjektivitas saya sendiri, bukan menurut subjektivitas orang lain. Dan memang, hal ini jauh lebih menyenangkan dilakukan. Rasanya seperti berpetualang :-D

Ada seseorang. Dan tanpa harus 'termakan' cerita tentang seseorang tersebut, saya mendapati ia adalah orang yang cukup menyenangkan. Selain itu, saya juga bisa mengenal lebih jauh orang-orang yang telah saya kenal sebelumnya. Namun, menyenangkan bisa mengenal mereka secara lebih dekat. Dan saya mendapati sedikit cerita pribadi mereka, yang membuat saya paham mengapa mereka menjadi orang yang seperti itu. Yang lebih menyenangkan lagi adalah bahwa ada orang-orang yang cocok dengan saya: kepribadian, visi, dan keinginan untuk terus bekerja keras. Karena bagi orang-orang seperti saya, hidup itu campuran seperti Kacang Segala Rasa Bertie Botts; kadang rasanya enak seperti cokelat, kadang rasanya menjijikkan seperti rasa kotoran telinga (bukan berarti saya pernah mencoba, tapi tanpa mencoba saja sudah terdengar menjijikkan, kan?).

Namun, ada kalanya saya merasa harus merubah sedikit sudut pandang saya. Mungkin, selama ini kepingan puzzle saya yang justru menggunakan persepktif yang berbeda. Seperti kedua gambar berikut ini:



Dan bila saya mau membalik perspektif saya, sebenarnya selama ini saya berusaha melengkapi puzzle yang sama! :)

Wednesday, May 30, 2012

Selesai.


Saya selalu meyakini bahwa saya tidak berada pada posisi yang dapat mengajukan tawaran. Bayangkan kurva pemintaan dan penawaran dalam ekonomi; posisi saya, bagi saya, adalah anomali. Nyaris serupa dengan pasar persaingan tak sempurna, hanya saja di sini tidak ada pihak yang menawarkan. Dan bagaimana saya bisa mengajukan tawaran, jika “pasar” bagi saya saja tak tersedia? Haruskah saya menghabiskan waktu menunggu agar kurva tersebut berfungsi senormalnya?

Berbicara soal menunggu, saya memiliki perasaan yang aneh soal ini. Selama ini, saya merasa saya terlalu lama menunggu. Dan akhirnya, saya lelah sendiri. Bahwa apa yang selama ini saya dapatkan dari usaha menunggu itu sendiri membuat saya berpikir bahwa selama ini saya membuang waktu.

Ya, saya tahu hidup adalah rimba ketidakpastian dan ketidaktahuan. Dan manusia yang tak siap menjelajahi rimba itu, bagi saya, adalah pengecut. Dan saya kali ini berani mencap diri saya pengecut lantaran saya tak ingin berlarut dalam rimba tersebut dengan cara menunggu. Terserah apa yang saya tunggu itu justru kelak akan datang ketika saya baru saja memutuskan bahwa saya akan telah beranjak pergi; terlambat adalah terlambat, dan itulah takdir yang kita upayakan sendiri.

Saya hanya tak ingin menghabiskan waktu terlalu lama untuk menunggu, selama saya masih bisa menangis karena hati saya yang sedih. Semua orang tentu ingin bahagia, dan saya harus bisa mendapatkan kebahagiaan saya sendiri.

Orang-orang tak ingin menghabiskan hidupnya sendirian saja. Dan meskipun saya terkadang sering merasa terlalu muda—dan di satu waktu saya akan merasa saya sudah cukup dewasa—untuk memutuskan ini, saya memutuskan bahwa selamanya saya harus berkawan dengan diri sendiri. Karena dialah sosok yang akan paling setia menemani saya, bahkan ketika daging saya habis dikoyak cacing-cacing penghuni liang tempat manusia nanti membusuk dengan sebongkah batu berukir sebuah nama.

Monday, April 23, 2012

Nasionalis Tanda Kutip


Halo, lama tak bersua di blog :)

Postingan kali ini nampaknya akan singkat saja, membahas soal tweet berikut:


click for larger image :)


Yap, sudah berkali-kali saya melihat opini serupa. Namun, jarang ada yang mau berargumen tentang ini. Sehingga, berkali-kali ya saya hanya melihat pendapat serupa, diiyakan, lalu selesai tanpa ada diskusi mendalam. Dan, kali ini saya hendak memberikan argumen mengapa berbahasa asing tidak melulu merupakan wujud ketidaknasionalisan atau wujud ketidakbanggaan sebagai orang Indonesia.


Kamus Besar Bahasa Indonesia memberi definisi sebagai berikut:
na·si·o·na·lis·me n 1 paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri; sifat kenasionalan: --makin menjiwai bangsa Indonesia; 2 kesadaran keanggotaan dl suatu bangsa yg secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu; semangat kebangsaan


na·si·o·na·lis n 1 pencinta nusa dan bangsa sendiri; 2 orang yg memperjuangkan kepentingan bangsanya; patriot: ia adalah seorang pejuang -- sejati
Ya, seorang nasionalis, dalam definisi secara bahasa, adalah seorang pecinta. Namun, jangan tanya pada saya apa itu nasionalisme dan seorang nasionalis yang ideal; saya bukan orang yang bergelut dalam ideologi seperti itu.


Yang hendak saya tekankan di sini adalah: penggunaan bahasa asing tidaklah lantas melunturkan rasa cinta. Semester ini, saya mengambil mata kuliah Teori Akuntansi yang diampu oleh Suwardjono. Bagi kawan-kawan yang berkecimpung di bidang akuntansi, saya asumsikan semuanya familiar dengan nama ini. Beliau, selain menjadi dosen akuntansi, juga adalah pemerhati bahasa. Bagi yang tertarik membaca tulisan-tulisan beliau, silahkan klik di sini.


Berbahasa Indonesia memang penting. Tapi, adakah yang paham mengapa? Jangan beri saya jawaban 'bukti kecintaan akan Indonesia'. Bagi saya, argumen tersebut tidak kuat dan masih terlalu abstrak. Bahasa Indonesia memang adalah pemersatu bangsa, seperti yang dituangkan dalam Sumpah Pemuda. Namun, nampaknya kepentingan dan alasan untuk mempelajari bahasa ibu masih dimaknai secara abstrak.


Saya pernah membuat tanggapan artikel Suwardjono yang berjudul "Peran dan Martabat Bahasa Indonesia dalam Pengembangan Ilmu". Memang, tulisan tersebut akan lebih banyak mengarah pada urgensi bahasa Indonesia dalam lingkup akademik. Namun, karena saya adalah pelajar dan memang manfaat penguasaan bahasa Indonesia yang baik terjabar dengan jelas di sini, saya akan turut sedikit mengulas artikel tersebut beserta tanggapan saya.


Sudahkah kita, selama ini, memelajari bahasa Indonesia dengan baik dan benar? Saya sendiri baru menyadari bahwa bahasa Indonesia sungguh kompleks ketika saya sudah berada di bangku kelas 3 SMP. Lantaran posisinya sebagai bahasa ibu dan bahasa sehari-hari, bahasa Indonesia tidak dipelajari secara serius, meski sudah diajarkan di dalam pendidikan formal sejak bangku Sekolah Dasar. Serupa dengan pernyataan Suwardjono, bahasa Indonesia masih dipelajari dengan cara monkey see monkey do, alias sebatas secara alamiah. Padahal, bahasa Indonesia yang dipelajari di kehidupan sehari-hari adalah bahasa Indonesia yang berada pada aras yang rendah dan bahasa Indonesia di lingkungan pendidikan harusnya lebih canggih.


Dalam pendidikan formal, bahasa Indonesia sendiri seperti dianaktirikan dengan bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Dalam artikel tersebut, Suwardjono menulis bahwa cendekiawan cenderung asing dengan bahasa Indonesia karena penguasaannya akan kosa kata bahasa asing lebih luas dibanding kosa kata bahasa Indonesia. Padahal, bahasa Indonesia memiliki struktur yang juga canggih serta bermartabat. Dampaknya, dalam dunia pendidikan, saya menghindari buku terjemahan berbahasa Indonesia lantaran terjemahannya yang meragukan. Bandingan dengan Jepang, yang tak perlu menguasai bahasa Inggris dengan baik, namun mampu menyerap pengetahuan dalam berbagai buku lantaran negara membentuk badan bahasa (seperti Pusat Bahasa di sini) untuk menerjemahkan buku-buku tersebut ke dalam bahasa ibu. Rendahnya penguasaan bahasa Indonesia kita sering kali membuat kita memahami buku-buku ilmiah, yang ditulis dengan bahasa pada aras yang semestinya, dengan aras bahasa yang rendah. Sehingga, banyak yang mengeluh bahwa 'buku ini terlalu berat dibaca, istilahnya aneh-aneh'.


Menanggapi hal tersebut, saya menulis bahwa ada sebuah rantai yang membentuk hubungan tersebut. Rendahnya minat baca (sebagai faktor yang saya anggap berhubungan dengan rendahnya penguasaan kosa kata pelajar saat ini) dapat dipahami karena tingginya level bahasa dalam bacaan sementara pembaca tidak mengikuti bacaan tersebut dalam level yang semestinya. Di satu sisi, rendahnya minat membaca ini juga mendorong rendahnya penguasaan akan kosakata. Rendahnya kosakata yang dikuasai dan pengetahuan kebahasaan yang rendah menyebabkan akademisi tidak dapat menghasilkan karya ilmiah dengan tingkat bahasa yang semestinya.

Tak sadarkah kita bahwa penguasaan kita akan bahasa Indonesia juga sebenarnya berperan dalam globalisasi? KBBI menyebutkan bahwa globalisasi adalah 'proses masuknya ke ruang lingkup dunia'. Suwardjono sendiri menyebutkan bahwa pemaknaan globalisasi terkini diikuti dengan 'penginggrisan bangsa dan masyarakat'. Namun, Jepang memaknai globalisasi sebagai sebuah proses pengglobalan negara, bukan individu. Sehingga, penguasaan akan bahasa Inggris di sini menjadi wajib hukumnya, sementara bahasa Indonesia sendiri masih dipelajari dengan standar yang belum memadai.

Penguasaan akan bahasa Indonesia yang beraras tinggi sebenarnya membantu kita untuk menguasai bahasa asing dengan baik. Argumen saya adalah: kosa kata bahasa Indonesia kita yang terbatas turut membatasi kemampuan kita dalam menguasai kosa kata berbahasa Inggris. Contohlah bagaimana kita membedakan philanthropic dengan generous? Atau yang sederhana saja: earn dengan get?


Yang terakhir adalah, apa hubungan antara ocehan saya ini dengan judul, yang saya beri Nasionalis Tanda Kutip, alias "Nasionalis"? Tanda kutip yang mengapit sebuah julukan biasanya disertai pengucapan yang berbau sindiran. Ya, saya di sini hendak menyindir yang sangat bangga mengkritik soal penggunaan bahasa asing sebagai wujud ketidakcintaan, ketidaknasionalisan, atau ketidakbanggaan akan bahasa Indonesia. Akan tetapi, sindiran ini tidak hanya khusus bagi mereka saja. Tetapi, juga untuk kita semua: sudahkan kita berbahasa Indonesia dengan baik dan benar?
Ya,
M

Tuesday, October 12, 2010

Janganlah Galau!

Apakah kalian anak muda gaul yang senantiasa merasa galau dan merasa tidak nyaman dengan kegalauan kalian?
Apakah kalian merasa terlalu gampang merasa galau?
Apakah kegalauan kalian mengganggu produktivitas dan kinerja?
Apakah kalian kesulitan mengatasi kegalauan yang senantiasa muncul secara tiba-tiba?
….


Dan sejuta "apakah" lainnya?

Berikut adalah tips-tips yang saya buat untuk menghindari dan mengurangi kegalauan kalian. Sudah diuji kepada 300 ekor anak bebek, 64 ekor anak kucing, 1134 ekor anak buaya, dan 87347469783 ekor anak kecoak, terbukti 99,9999999999999% berhasil mengatasi kegalauan mereka!

Check them out!


 1. Jangan jadi anak gaul.
Survey dari BPS menunjukkan bahwa 89% anak muda yang mengalami kegalauan adalah anak gaul. Terutama mereka yang suka berfoto dengan pose bibir-monyong-kedepan-dan-jari-telunjuk-ditempel-kesana. Jika kalian termasuk dalam tipe ini, segeralah mengubah gaya berfoto kalian sehingga tidak lagi menjadi anak gaul! Cobalah mengubah pose menjadi pose garukin-ketek-berbulu-lebat-didepan-pak-RT. Menurut Madam Kikin Clifford dan Madam Amanda Taylor (bukan! Itu bukan Kikin Safira dan Amanda Amelia!), menjadi gila itu lebih baik daripada menjadi galau.


 2. Hindari sumber-sumber yang dapat menjadi pemicu kegalauan.
Tak ada asap jika tidak ada api. Tak akan ada akibat jika tidak ada asal. Tidak akan ada anak jika tidak ada orang tua. Dan seperti semua tetek bengek yang ada di dunia, kegalauan pasti memiliki sumber. Menurut survey yang dilakukan oleh Profesor Kikin Burns, kegalauan yang diderita anak muda biasanya disebabkan oleh faktor-faktor seperti pacar, gebetan, lawan jenis, PR, tugas, uang saku yang menipis, rambut yang tak pernah rapi, badan yang tak kunjung tinggi, berat badan yang terus meningkat, dan semacamnya. Cobalah berjauhan dengan sumber-sumber tersebut. Jika kalian biasa galau karena pacar, putuskan saja dia. Jika kalian galau karena punya gebetan, janganlah punya gebetan. Jika kalian galau karena PR dan tugas, jangan kerjakan PR dan tugas kalian! POKOKNYA HINDARI!!!

"Tapi kalo nggak bisa menghindar gimana?" tanya si Ani, sang ratu galau.

Jawabannya: kurangin frekuensi persinggungan dengan sumber tersebut. Maksudnya, kalau misal kalian suka galau karena pacar, jangan sering-sering pacaran. Kalau kalian suka galau karena uang makin menipis, maka jangan sering-sering minta uang jajan. Kalau kalian galau karena badan tak kunjung tinggi, jangan sering-sering bergaul dengan orang yang lebih tinggi dari kamu.


 3. Hindari lagu, film, ataupun momen yang mengingatkanmu kepada si sumber galau.
Saran terjitu dari saya: HAPUS LAGU-LAGU YANG MENIMBULKAN KEGALAUAN DARI PLAYLIST, TAK PEDULI SEBERAPA BESAR RASA SUKA ANDA TERHADAP LAGU TERSEBUT!! Karena, lagu favorit memiliki kecenderungan untuk kita nyanyikan berulang-ulang dan, dalam beberapa kasus, cocok dengan suasana galau akan menyebabkan kita teringat dengan si-penyebab-kegalauan. Contoh, kalian memiliki masalah dengan keuangan dan menjadi galau karena frekuensi bergaul di emol menjadi berkurang. Maka, hindari mendengarkan lagu semacam ini:

"Bang bing bung yok, kita ke bank.
Bang bing bung yok, kita nambung.
Tang ting tung hey, jangan dihitung.
Tau-tau kita nanti dapat untung"

Atau lagu seperti ini:

"Aku cinta Rupiah.
Biar Dollar di mana-mana"

Juga lagu ini:

"Love is money, love is money
But the money bala balaaaa"

See? Lagu tersebut hanya akan mengingatkan kalian betapa menyedihkannya kondisi keuangan kalian. Coba juga lupakan momen-momen yang berkaitan dengan uang, seperti misal kisah ciuman pertama di bilik ATM, pertama kenalan di bank, dsb.


 4. Banyak-banyaklah berimajinasi.
Berimajinasi adalah salah satu obat ampuh dalam menghadapi kegalauan. Dengan berimajinasi, kita seolah melepas realita dan melayang menuju awan. Jadi, jika suatu saat kamu diberi tahu "Pacarmu selingkuh!" kamu akan menjawab "Ah, itu hanya khayalan saya saja". Misal suatu saat kalian diberi tahu "Berat badanmu jadi 100 kilo!" kau juga akan menjawab "Ah, cuman pake syampo kok".


 5. Keluarkan perasaan dan isi hati kalian.
Temui sahabat yang kalian anggap bisa meredakan kegalauan ketika kalian bercerita tentang kisah galau kalian. TIPS: JANGAN BERCERITA PADA SEORANG SEPERTI SARAH KARINDA ATAU KALIAN HANYA AKAN MENDENGAR TAWA SETANNYA ATAUPUN WAJAH CENGENGESANNYA KETIKA KALIAN BERCERITA!! *curhat*
TIPS LAGI: hindari cuhat kepada seekor anak kucing!! Pokoknya jangan!!


 6. Belajarlah menjadi gila.
Seperti yang sudah saya tulis di atas — maksudnya, quote dari Madam Kikin Clifford dan Madam Amanda Taylor — bahwa menjadi gila jauh lebih baik daripada menjadi galau. Gampang kok, sering-seringlah ketawa di manapun dan kapanpun pasti orang-orang bakalan bilang ke kalian, "Ih, dia gila!" *sambil tuding-tuding dan memberi pandangan kejam menusuk ala sinetron*


 7. Dengarkan orang-orang di sekitar kalian, bahkan kakak yang biasa jadi musuh bebuyutan kalian sekalipun.
Orang-orang terdekat kita adalah orang-orang yang umumnya paling mengerti kita. Seperti yang barusan Kingkong bilang: "Wanita itu terlalu cepat memberi kesimpulan atas apa yang mereka lihat, padahal apa yang mereka lihat bukanlah maksud yang sebenarnya". Sangat membantu mengatasi kegalauan saya. Ups, maaf, maksudnya kegalauan kalian. Walaupun kalimat itu dia katakan gara-gara melihat adegan FTV ketika si cewek mergokin cowoknya pelukan sama cewek lain. Aku jawab "Itukan cuman FTV!" Jawab Kingkong, "Tapi bisa jadi pelajaran di dunia nyata".
JLEB!

Maaf saya curhat T-T



Yak, sekian itulah tips-tips dari saya. Semoga tidak bermanfaat.

Saturday, June 19, 2010

Imaginary: A Life Like This♥

(Ini cuman percakapan fiktif. Inspired by the pic. I love it♥)




The Girl : "Milk or tea?"
The Boy : "Hmm..."
The Girl : "Sandwich?"
The Boy : "Yeah."

(The Girl gives the sandwich to The Boy)

(The Boy starts to read today's newspaper)

The Girl : "Any news? Soccer?"
The Boy : "Umm... no."

(The Girl sits beside The Boy. She drinks her milk, sniffs the smell of the milk)

The Girl : "You know what? I have the most meaningful word beside 'I love you' for today."
The Boy : "Yes?"
The Girl : "Good morning."

Thursday, June 17, 2010

Torresimous Kronisis

Oke. Judulnya konyol. Saya tau itu.
Tapi postingan yang ini saya buat secara spontanitas. Mendadak. Terinspirasi dari sosok bernama Fernando Jose Torres Sanz.
Melihatnya kembali berlari di lapangan malam ini... Menakjubkan. Another obsession? Bisa jadi. Tapi yang jelas, kisah ini dimulai sejak empat tahun yang lalu :)


Semua penggila sepakbola tahu siapa sosok yang namanya saya cetak tebal di atas. Sekarang dia adalah salah satu pemain paling diminati oleh klub mana pun di dunia. Selalu masuk jajaran pemain terbaik dunia. Ujung tombak timnas dan klub. Tinggi. Tampan. Rupawan. Ganas di mulut gawang.
Singkatnya, semua tahu siapa Fernando Torres.

Semuanya di awali dari World Cup tahun 2006 di Jerman. Sosok tinggi kurusnya menyita perhatian saya sepanjang pertandingan yang dia mainkan. Membombardir gawang lawan dan menakuti kiper lawan bersama partnernya, David Villa Sanchez. Angka sembilan tersemat di punggungnya. Gol-gol tercipta baik dari kaki maupun kepalanya.





"Hebat," batin saya saat itu. "Dan juga ganteng."
Jangan lupakan fakta bahwa saya adalah wanita :p

Muda, lincah, dan berbahaya.
Saat itu ia masih menjadi Pangeran Atletico Madrid.
Pasca World Cup 2006, saya masih mengawasi kiprahnya. Hal inilah yang memaksa saya membulatkan tekad untuk terjaga lewat tengah malam demi menikmati permainannya di tiap momen pertandingan La Liga. Selama ini, La Liga adalah musuh saya karena jadwal pertandingannya yang tidak terlalu ramah pada jam tidur saya.
Tetapi demi lelaki bernama Fernando Torres itu, saya rela memaksakan mata saya terbuka ketika tengah malam. Kalaupun saya terpaksa melewatkan pertandingannya, mungkin hanya beberapa kali.

Dua musim kemudian ia berlabuh di Anfield, stadion kebanggaan Liverpool. Dan karena Liverpool bermain di Liga Inggris yang sangat saya sukai, saya pun menyambut gembira berita itu. Tapi, apalah daya saya pada musim 2007/08 hak siar Liga Inggris di Indonesia diambil alih oleh salah satu penyedia layanan televisi berbayar milik Malaysia. Sempit harapan saya untuk menyaksikan kiprah Torres, walaupun saya mendengar ia mengalami musim perdana yang spektakuler. Semakin sulit menyaksikan penampilannya karena saya adalah pendukung salah satu tim rival, yaitu Si Biru Chelsea. Sejak saat itu, saya harus pastikan diri saya dapat menonton perseteuan Chelsea melawan Liverpool secara langsung. Dan saya beruntung dapat menyaksikan perseteruan Chelsea melawan Liverpool di Liga Champions (duh, saya lupa musim berapa -___-) yang disiarkan secara langsung dan gratis. Selain itu, kebanyakan saya hanya mengikuti berita tentang Torres di koran atau internet.


Musim panas 2008. EURO. Pikiran tentang Torres agak terkikis pada masa-masa menjelang EURO 2008 yang diadakan di Swiss-Austria. Seperti biasa, dari awal saya menunjukkan sikap mendua-mentiga-mengempat-dst hingga akhirnya pertandingan puncak mempertemukan jagoan utama saya, Jerman, melawan jagoan saya yang lain, Spanyol.
Ada Torres tentunya.
Dan hasil akhirnya sudah diketahui semua orang: Spanyol menang 1-0 lewat gol Torres.
Oke, katakan saya berlebihan, tapi itu agak seperti 'tamparan' buat saya. Torres tak boleh dilupakan. (Di samping tangisan sepanjang suibuh meratapi kekalahan Jerman).





Gairah terhadap penampilan Torres membuncah. Jujur, saya tidak bisa mendukung Spanyol. Buktinya saya malah merasa agak senang dengan kekalahan Spanyol malam ini dari Swiss dalam laga pertama mereka di World Cup 2010 (dan Jerman mengawalinya dengan mulus, 4-0. Maaf untuk pendukung setia Spanyol). Jerman selalu menjadi jagoan utama saya, dengan baik maupun buruknya. Juga Inggris, yang terpaksa menerima hasil seri karena si Jabulani lepas dari tangkapan Green.
Selepas EURO 2008, saya berusaha untuk mendapatkan berita tentang Torres selengkap mungkin. Baik itu berita mengenai kehidupannya di luar lapangan hijau: pernikahannya dengan Olalla dan kelahiran anak perempuan pertamanya yang bernama Noura.
Sepertinya bagian ini tak perlu saya bahas. Agak membuat patah hati soalnya :)

Oh, iya. Jadi ingat. Sepanjang EURO, saya menemukan kawan-kawan GILA seperti Prita, Liona, Mia, Lidya, dan Putri dan bersama-sama kami membuat semacam kisah 'khayalan'. Kisah bodoh dan menyenangkan mengenai kehidupan kami jika kami menjadi pasangan hidup pemain Spanyol yang kami sukai.
Prita bersama David Villa, Liona bersama David Silva, Mia bersama Iker Casillas, dan Putri yang sangat memuja David Villa. Sementara saya dan Lidya 'berbagi' Torres.
Masa-masa yang menyenangkan :)


Dan sekarang, saya ada di depan komputer dengan berjuta perasaan yang tidak mampu saya tulis secara keseluruhan. Yang jelas... saya "jatuh cinta" dengan orang ini. Mengapa menggunakan tanda kutip? Saya kurang paham. Pokoknya, melihat Torres berada di lapangan membuat saya berdebar. Pipi saya terasa hangat. Seperti tanda orang yang sedang kasmaran.

Hanya saja saya belum pernah bertemu dengannya.

Itu alasannya.
Bertemu dengannya... hampir seperti sesuatu yang mustahil. Tapi saya akan mencoba. Pergi ke Inggris adalah impian saya, tinggal di London adalah mimpi saya. Dan tidak mustahil bagi saya untuk berharap dapat bertemu dengannya. 'Suatu hari' yang akan sangat saya tunggu :)



This boy... I will dream as he dreams of Torres :D


Wow,
Saya nggak nyangka, tulisan bodoh dengan judul bodoh bisa sepanjang ini :P
Well, sebenarnya tulisan ini, selain didasari oleh spontanitas, juga didasari oleh sesuatu...

Find the answer here! ;)

I know that 'gettyimage' stamp is kinda disturbing -____-


Oke. Pertanyaannya adalah:
Yang mana Torres waktu World Cup 2006 dan World Cup 2010?
LOL ♥


Dan sebagai penutup:











Klik aja kalo mau liat dan baca dengan lebih jelas :)
Semua screenshot itu aku ambil dari Twitter-ku hihihi :P

Oke. Smell ya later,
xx

Tuesday, June 15, 2010

Rain, Rain, Go Away...

But before I write something, please let me tell you that I WANT TO KILL THAT BIG IDIOT STUPID WHALE ON TWITTER!!
Okay, Twitter is fun, but it could be soooo annoying when the stupid idiot big whale appears!!


click to see the larger image D:<


Okay, back to topic.


Untuk beberapa alasan, aku benci hujan.
Okaaaay, aku memang suka banget sama hujan. Hujan menyegarkan. Hujan itu indah.
Tapi seperti yang udah aku bilang: terkadang aku benci hujan. Hujan membuat kabut, aku jadi tidak bisa melihat sekitarku dengan jelas. Terutama jika hujan turun deras. Sangat deras.

Beberapa hari yang lalu, 'hujan' turun.
Dan aku nggak tahu apa yang ada di kepalaku saat itu, aku menerobosnya dengan membabi-buta. Seperti menerjang hujan badai dan berkabut tanpa persiapan apa-apa. Aku tabrak semua yang menghalangiku. Aku tabrak semuanya karena aku nggak bisa melihat sekitarku dengan jelas.

Seperti itulah 'hujan'-ku saat itu.

'Hujan'-ku mengguncang perasaanku saat itu. Segala rasa negatif yang sudah lama terkumpul seperti menemukan jalan keluar dan melarikan diri dariku. Aku lepas kontrol. Untuk pertama kalinya dalam sekian lama, aku membuka sedikit perasaanku; di saat yang salah, waktu yang salah, momen yang salah. Tapi yang paling menyakitkan adalah aku mengungkapkannya pada orang yang salah.

Seperti sadar dengan perbuatanku, aku berusaha mengumpulkan kembali semua yang sudah kumuntahkan dan menyembunyikannya. Bukan, bukan. Lebih tepatnya, aku yang bersembunyi. Kembali bersembunyi dan bergumul dengan sudut gelapku sendiri.
Dan aku nggak menyangka kalau usahaku untuk mempertahankan diriku kembali adalah sebuah kesalahan. Orang itu terlalu baik untuk mengabaikan kata-kataku begitu saja. Entah apakah kata-katanya benar atau tidak, dia bilang dia nggak bisa ngerasa bahagia (bahkan di hari paling spesial dalam hidupnya yang dia rayakan sekali tiap tahun!) kalau sahabatnya nggak ngerasa bahagia juga.
Tapi, lagi-lagi aku cuman kembali bersembunyi. Entah apa yang kemudian dia rasakan, aku nggak berani bertanya.


Beberapa hari kemudian, aku berani berkata padanya kalau aku merindukan kami bertiga.
Kami bertiga... aku sadar kami sangat menakjubkan. Kami bertiga hebat. Kami bertiga berbeda. Kami bertiga saling melindungi. Kami bertiga mencoba bahagia di balik rahasia-rahasia kami.

Haruskan aku mengorbankan kami bertiga hanya untuk meratapi 'hujan'-ku yang tak kunjung berhenti?
Jika 'hujan'-ku memang tak ingin berhenti, haruskan aku menerobosnya begitu saja? Tidak bisakah aku diam saja dan menikmati 'hujan' itu sendiri saja, berdiri dan merasakan tetes 'hujan' menerpa tubuhku.




Selalu ada harapan di balik segalanya. Termasuk di balik 'hujan'-ku. Aku hanya akan mencoba menunggu, sampai kabut menipis dan tetesan 'hujan' tak lagi menghujam tubuhku. Aku ingin melihat pelangi dan matahari.


Rain, rain, go away.
Come again another day.
All the world is waiting for the sun.

Rain by Breaking Benjamin


Untuk segala sakit hati yang aku timbulkan, aku ucapkan maaf. Dan untuk segala pengertian dan kesabarannya, aku ucapkan terimakasih. Aku tahu aku nggak bisa berpisah terlalu lama dari kalian.

Monday, May 31, 2010

Hey, Boys!

This morning is my last class of Management. 2 weeks later I'll have FINAL EXAM FOR SEMESTER TWO!! *bang my head to the wall*
My lecturer, Mr. Hani, talked alota things not only about the chapter we discussed (Organizational Control and Change). As usual, he often talked about his life or his experience. And I dont know why, the one I'll write here inspires me so much.

I forget about the beginning, but he suddenly said that there are only 0.005% population of women could lose their weight and not re-gain the loss.
Mr. Hani: "That's why, whenever I see my wife, maybe I should change my mindset by repeating these words: 'Big is beautiful, big is beautiful, big is beautiful...' every morning. I wont promise that the suggestion will stuck on me, but seeing the number, I'm just doing the best. Women, when they lose their weight even just one kilogram, they'll eat much again and you see their weight will be increased more than the kilogram they lose."

That reminded me to my high-school friend. She's a girl; rich and pretty. But she believed that BEAUTY MEANS SLIM AND THIN AND WHITE SKIN.
She did diet, just ate vegetables everyday. Once a week, she had privilege to eat some meats. But when I saw her on the day she ate meats, SHE ATE LOTS!
She's so stupid, I told to myself. However she tried to lose her weight, she'd never be slimmer than before. Cuz the next day she did diet, she's just trying to lose the calory and fat from the meats she ate once a week.

That was the wrong understanding about the term "diet", by the way.




Seeing the fact, Boys, I'd like to tell ya that whatever you say about the beauty is a shit! Because you believe that beauty means slim body and white skin. Why dont you try to change your mindset like Mr. Hani and accepting girls for what they are, not what they should be?




Smell ya later,
xx

Thursday, May 20, 2010

18 going to be 19







I hate being 18. But I'm also happy being 18.
4 months later, I'll be 19, one year left to be twenty.
And next, perhaps twenty-something. I feel so old, though my soul's still screaming like a 7-year-old-kiddo.


I am 18, leaving my seventeen, realize that growing older is so... fast. I dunno why, I just feel it. I'm still remember all the experiences happened to me when I was 17; I learnt too much from that. I knew that I had been a tougher girl than before. But the other best part of being 17 is: I felt like my life was still sooo long ahead. I knew I'd be older, but I thought I'd always be 17 for long time. It felt like... I'd forever be seventeen.


And here we go, face the reality. Seventeen, then eighteen. Whatever I want to say, I'll forever be older that before.
All I feel now is: not living as a teenager is SUCK. More thing to be done, to be applied, to be handled.
Bein graduated from college. Havin a well-paid job. Then finally... marriage.
I dont want to live with one man forever--at least now.


Twenty and nineteen.
You'll ask me: what's the difference? The difference is only a year!
Yeah, anyone asking that is DAMN RITE. But only-a-year means lots of things.
Being twenty, we'll be sued to be what adults should be. And being adult wont be a happy-yappy-life, it wont be easy.
I'm just not ready yet.

My fave band, Forever The Sickest Kids says...

...and we will not ever be eighteen again...

Just like any nomal life, no life happens twice.
I want to be stay young. But I know, though not-being-teen anymore is suck, life's still too beautiful :)

Friday, April 23, 2010

Single and Having Friends Like Them, are Those WRONG???



I am sooo irritated with thing called... gossip.






As a girl, I wont deny that sometimes I do it. But not to give someone a bad name.
But what happens with me now?
Asshole.

Wednesday, April 21, 2010

(Almost) Being Broken Hearted :)

He inspired me. Truly.
Jangan bilang dia ganteng, I didn't think so ketika pertama ketemu dia. Malah aku nggak terlalu merhatiin dia. Nggak tau sama dia ya, setauku sih aku sama dia sempet liat-liatan sekali gara-gara aku pakek suatu atribut pokoknya. Atau mungkin aku aja yang terlalu ngerasa yaa? HAHA

Beberapa minggu berlalu, dia semakin keliatan menarik. Bukan cuman karena potongan bentuknya yang menjadi kongruen, tapi juga karena intensitas pertemuan yang cukup sering. Aku jadi tau orangnya kayak gitu. Menyenangkan dan 'berbeda'. Nggak tau harus mendefinisikan kata 'berbeda' itu bagaimana. Pokoknya dia beda aja. Dia juga kritis dan cukup pinter. Mungkin itu juga yang bikin cara ngomong dia agak 'atos' gitu kalo di Bahasa Jawa. Kira-kira ngomongnya keras dan agak judes gitu lah.

Dan aku semakin tertarik.





Berminggu-minggu berlalu sama kayak biasanya, kecuali rona merah yang muncul tiap dia nyapa aku. Btw, I thought I never looked so 'pinky' anytime I felt blushing but Dhita told me that I did -_____-
Pernah-kapan-suatu-hari-itu, dia muterin 3 lagu yang juga aku suka banget. Tanpa sadar ternyata kami nyanyi berdua. Salah satunya Lady GaGa yang Bad Romance. Daaaaammmnn, I felt like I was so 'caught-in-a-bad-romance'.

Ada PDKT?
Kalo kata aku: nggak.
Ya kalo ada apa gitu ya cuman terjadi dan berlalu begitu aja, nggak ada kelanjutannya. Cuman entah kenapa, aku ngerasa HE KNOWS. Aku ngerasa dia tau tentang tatapan curi-curi yang aku lakuin ke dia. Mungkin itu yang bikin dia ngelunjak.

Singkat cerita, one day I found a fact that he's totally such a DICK!!
Sebelumnya pernah denger juga, cuman setelah curhat ke Kak Mandy, katanya jangan percaya dulu gituu soalnya yang cerita ke aku juga belom pernah liat dengan mata kepala langsung. Tapi sekarang ada saksi matanya dan dengan jujurnya dia cerita ke aku hampir segalanya tentang betapa player-nya orang itu.

Well, actually, tanpa aku tanya sebenernya aku udah pernah ngalamin sendiri. Tapi thanks to God, aku nggak perlu merhatiin tingkahnya yang ngeselin itu karena ada hal yang jauuuuuh lebih menarik untuk diperhatiin (dua posting di bawah ini).

And I gotta tell ya, truths hurts. LOTS. Mungkin aku yang bodoh juga yaa, berharap orang seperti dia bakal serius sama aku. Jalan bareng aja jarang LOL
Cuman aku nggak nyangka aja, orang 'seperti DIA' ternyata melakukan perbuatan yang most of boys do.

Mungkin selama ini aku salah.
Dia juga cowok biasa.

Setelah mendengar cerita dari saksi mata, selama beberapa hari aku 'tenggelam' dalam lagu-lagu mellow. Lagu sekompi aku masukin winamp, aku shuffle. Tapi dapetnya ya lagu-lagu kayak gitu. Mana sebelumnya sempet download Lady Antebellum - Need You Now. Dan aku kecanduan lagu itu, apalagi pas buka twitter nemu twitter dia aku juga lagi muter lagu itu. Rasanya... susah buat dijelasin.
Mencelos. Perih.
Intinya: sakit hati.

Setelah curhat-curhat sama Anis, Dhita, Harie, dan Kak Mandy, aku ngerasa agak-agak lega.

Dhita sempet tanya, aku masih mau naksir 'dia' apa kagak.
Jawabku, susah. Karena yang bikin aku suka sama dia bukan karena dia pernah ngapain aku apa gimana. Aku suka sama dia karena ada hal lain dari dia yang menarik. Jadi... susah.

Kalo kata Kak Mandy, semua selalu ada PROSESnya. Jadi walaupun tingkah 'dia' bikin aku ilfil-to-the-maaaaxx, dalam waktu dekat aku juga bakalan masih susah buat menghapus rasa.

Dalam keadaan kayak gitu, semakin tenggelam dalam Lady Antebellum - Need You Now, tiba-tiba aku ngerasa balik ke masa setaun yang lalu ketika aku ngalamin patah hati akut. Nangis tiga-hari-tiga-malem sampe ngerasa air mata habis, bahkan nangisin kakiku yang waktu itu lecet parah dan sakit banget pun nggak bisa. Dan setelah capek nangis, aku bertekad ngompres mata yang udah item parah pakek irisan timun. Dalam keadaan mata tertumpuk irisan timun, tiba-tiba aku sadar:

NANGISIN DIA BERMALAM-MALAM, EMANGNYA WORTH IT YAA??

Singkatnya, aku survive. Pas banget itu jaman-jaman aku mikirin masuk kuliah dan liburan superdupekampretpanjangnya sihh, jadi ada banyak pengalih pikiran gitu.





Pokoknya, sama kayak dulu, aku nggak mau kalah cuman gara-gara (almost) being boken hearted lagi. Masih banyak hal yang jauuuuh lebih penting daripada hal semacem itu. Makanya, buat Bang Esti, I never care I'm truly a single even just increasing number of my ex up to TWO is so hard; I DONT CARE.
Kalo kata dia umu segini sampe punya mantan puluhan, ratusan, jutaan, adalah hal normal, biarlah aku jadi nggak normal. Beneran dijodohin? Whatever!

Aku yakin aku masih akan single untuk beberapa tahun lagi. Nggak akan memusingkannya, karena aku PASTI akan menikmatinya. Buat apa susah kalo aku punya banyak temen yang jauuuuh bikin aku seneng dan nggak akan melibatkanku ke dalam pertengkaan-pertengkaran sepele cuman karena, misal, nggak lapor lagi ada di mana or unimpotant thing like that.



LOL




I've found a song whish is alota worth to be listened to: The All-American Rejects - Gives You Hell :D


When you see my face, hope it gives you hell!!





Okaaay, aku mau tidur. Tugas akuntansiku terbengkalai. Besok mau bangun pagi-pagi buat belajar dan ngejain PR ;)
Smell ya later,
xx

Tuesday, April 13, 2010

I♥This:)

My God, amazing how we got this far
It's like we're chasing all those stars
...

OneRepublic - Secrets

Monday, April 12, 2010

Why I am Blogging

Hellooooooo :)
Sebelum masuk ke tema, mari kita lanjutkan rekap hasil UTS saya hihihi

Keempat, Manajemen. "Belajar" semampu saya. Keluar ruangan nomer dua karena udah nggak tau lagi mau nulis apa.
Kelima, Teknologi Informasi Pengantar. Tutup telinga untuk jawaban nomor 5.

Berarti tinggal Sos-Pol, KWN, Hukum Bisnis, dan Statistika Ekonomi I yang harus saya bantai sampai besok Jumat! At least, udah lewat separoh deh ;)

Oke, talkin about the title: Mengapa saya nge-blog??
Padahal aku yakin banget nggak banyak orang yang baca blog ini. Atau malah jaraaaaaaaaaaaaaaaaang banget ada yang baca. Suwer, saya jujur nih :)

Kalo ngebaca-baca blog orang lain kok kayaknya ceritanya seru-seru, lucu-lucu, nggak kayak ceritaku. Ngeliat banyak yang komen atau posting di shoutout box dan bilang "Blognya bagus bangeeeet, aku ngepens looooh" dan sebagainya. Iri? Nggak juga sih yaa. Mungkin ada, tapi dikit doang. Iri karena mereka punya kisah yang lebih  menarik daripada aku. Bukannya kalau punya kisah hidup yang seru, pasti idupnya nyenengin yaaa?? Sementara saya? Jagoan nyampah haha.

Kalo begitu, kenapa kok aku masih tetep blogging?

Banyak blogger yang ngeblog karena mereka suka nulis. Nah aku? Dibilang suka nulis juga enggak banget-banget (maksudnya suka nulis tapi bukan suka bangeeeeeeeeeeeeeett gitu). Soalnya, kalo mau tanya hal apa yang paling aku suka: tidur. Iye, beneran, sumpah. Hal yang paling suka aku lakukan adalah tidur. Or, at least, bermalas-malasan laaah~

Maybe doing nothing-lah yang membuat cerita hidup saya nggak begitu menariknya untuk ditulis.

Kembali lagi ke pertanyaan awal: kenapa tetep blogging?


Pertama, I'm an introvert person.
Suwer. Sumprit.
Walaupun tulisanku selalu keliatan haha-hihi , tapi itu semua sering enggak menggambarkan apa yang sebenernya pengen aku tulis. See? Bahkan di dunia maya, dan kemungkinan besar nggak akan terbaca orang, aku pun masih pengen nunjukin kalo aku happy-to-the-max. Kalo kata NSN sih gini:

"We should be happy".

Gitu.
Jadi, menulis di blog menjadi semacam terapi-sugesti buat aku bahwa aku senang. Bahwa hidupku tenang-tenang saja. Makanya aku cenderung nggak peduli apakah blog ku ada yang baca atau enggak.

Kedua, aku hanya butuh wadah untuk menuangkan 'kebocoran' yang bergolak dalam perasaanku. Ketika aku baru saja menghabiskan hari yang begitu menyenangkan, misalnya. Aku selalu nggak pernah sabar untuk segera online dan menulis apa yang terjadi padaku selama hari itu. Aku cuman nggak mau sesuatu yang 'bocor' itu hanya jatuh, menetes dari diriku, dan menguap begitu saja. Aku ingin mengingatkan diriku bahwa pernah ada hari yang begitu spesialnya, dengan orang-orang paling spesial untukku. Bahkan ketika hal yang buruk menimpaku, aku juga ingin mengingatkan diriku bahwa thing doesn't always come good. Selalu ada titik balik dalam hidup, dan aku harap dengan tulisanku yang (bagiku) emosional, aku dapat meresapi hikmahnya suatu hari nanti.

Dan terakhir, aku punya harapan kalo blog ini nggak akan tergantikan. Nggak kayak blog ku yang dulu, yang ngilang gara-gara aku lupa password lah, atau gara-gara males nerusin lah.
Sebisa mungkin, bahkan kalau aku udah jadi ibu rumah tangga dengan dua anak dan tinggal di London, blog ini selalu ada. Soalnya aku pengen kelak, ketika aku membaca-baca blog ini dari posting pertama (yang umumnya nggak penting-penting banget semacam "Waaah akhirnya aku punya blog" dan semacamnya ;p), blog ini menjadi semacam atraksi A-Journey-to-the-Past. Mengingat-ingat kembali betapa bersemangatnya diriku saat ini, bahkan ketika aku sedang menulis posting yang ini sambil mendengarkan ngoroknya kakakku, betapa diriku yang masih muda ini masih dipenuhi semangat dan harapan mengenai masa depan. Betapa menyenangkannya meniti jalan menuju cita-cita. Dan aku pun berharap cita-citaku tercapai, sehingga ketika kelak aku menikmati atraksi A-Journey-to-the-Past ini, aku masih merasakan gairah yang sama.




So, smell ya again!
xx