Showing posts with label iseng. Show all posts
Showing posts with label iseng. Show all posts

Friday, October 5, 2012

Melompat Keluar Lingkaran (bukan cerita soal beruang sirkus)

Selamat datang, semester tujuh :)

Iyaaaa, saya sudah tua sekarang. Sudah masuk angka tahun ketika adik-adik yang lebih muda akan bertanya: "Kapan skripsi?" Dan mereka yang lebih tua akan merespons: "Wah, sudah mau lulus, ya?"
Padahal, jawabannya adalah, "Belum." :p

Saya bukan mahasiswa-kelas-ekspress yang sudah mencicil skripsi dari semester silam, meskipun proposal skripsi dari mata kuliah Metopen sudah selesai. Tapi memang belum jatahnya skripsian semester ini, baik formal maupun informal. Selain masih mengambil cukup banyak jatah SKS yang harus diselesaikan (bukan ngulang, lho :p), masih ada pekerjaan sampingan yang cukup menyita waktu. Jadi, status mahasiswa ini mungkin akan masih melekat selama dua semester ke depan, jika rencana saya berjalan mulus :-)

Terlepas dari kerempongan semester 7 sejauh ini, semester ini terasa cukup menyenangkan bagi saya. Biarpun tugas menumpuk, pekerjaan membanjir, namun saya bisa melakukannya dengan cukup rileks :)

Apa yang saya nikmati saat ini adalah bagaimana saya bisa berada di luar 'lingkaran' tempat saya biasa berada, meskipun 'lingkaran' itu juga bukan saya sengajakan melibatkan saya. Ya, 'lingkaran' itu muncul hanya karena kawan dekat saya terlibat dalam 'lingkaran' itu, sehingga mau-tak-mau saya ikut terbawa. Habis, kalau mau main sama dia, juga pasti terlibat di sana sih.

Pertemanan itu bukan hal yang kompleks, namun juga tak sesederhana bernapas. Bahkan, bernapas melibatkan proses di dalam tubuh yang nyatanya tak sependek mengetik huruf A. Bagi saya, membangun hubungan pertemanan yang baik itu perlu. Ya, tak perlu memandang faktor-faktor lain seperti kaya-miskin, gaul-cupu, warna kulit, dan sebagainya, sebuah hubungan baik harus diciptakan. Sebab, siapa bisa menyangka bahwa kelak kita justru akan berhubungan dengan mereka dalam frekuensi yang lebih intim? :)

Sebuah ikatan mental atau emosi adalah tahapan yang lebih jauh dari hubungan pertemanan tersebut. Mungkin itu yang membuat dua atau lebih manusia merasakan kedekatan yang lebih dan menamai diri mereka: sahabat.

Saya sendiri bukan tipikal orang yang mudah lekat dengan seseorang atau suatu 'lingkaran'. Saya nyaman seperti ini, mengenal banyak orang dan menjalin hubungan pertemanan yang baik, tanpa banyak bumbu drama. Saya tidak mudah menyebut seseorang lain sebagai 'sahabat', karena saya tahu terma tersebut memiliki arti lebih dari sekadar kata-kata seperti dalam KBBI. Ada ikatan emosi yang terbentuk di sana, tumbuh dari rasa percaya, aman, dan nyaman.

Saya merasa beruntung memiliki karakter seperti itu.

Tepat ketika saya hendak menginjak usia dua-puluh-satu, saya menyadari (setelah ada jarak karena waktu dan kesibukan, serta introspeksi atas diri sendiri) bahwa mungkin, selama ini, saya telah memilih orang-orang yang salah untuk berada di sekitar saya. Bahwa saya mengenal lebih banyak orang yang jauh memberi kepuasan batin dan mampu memberikan kenyamanan, membuat saya makin menyesali diri sendiri.

Perihal saya telah memilih orang-orang yang salah, itu bukan berarti mereka adalah orang yang tidak tepat untuk dijadikan kawan. Bukan seperti itu. Do not get me wrong.

Saya melihat manusia seperti kepingan puzzle: satu keping dapat melengkapi dan menyempurnakan susunan puzzle menjadi sebuah gambar yang cantik. Ya, mungkin kami adalah kepingan puzzle yang berbeda, dan melengkapi gambar yang berbeda pula. Sehingga, di sini maksud kata salah bukan berarti mereka adalah orang yang salah dan tidak pantas untuk ditemani. Saya sudah cukup dewasa untuk memahami bahwa kesalahan tidak selamanya terletak pada diri orang lain. Mungkin saja selama ini saya yang salah, tetap memaksa memasangkan kepingan puzzle saya di tempat yang salah.

Dan saat ini, saya mendapat kesempatan untuk melompat keluar dari 'lingkaran' tempat saya biasa berada. Bukan hal yang rumit, mengingat nyaris tiadanya ikatan emosi yang mengikat saya dengan mereka.




Hal yang menyenangkan dari melompat keluar saat ini adalah kesempatan untuk mengenal lebih banyak orang. Saya lebih senang mengenal orang lain menurut subjektivitas saya sendiri, bukan menurut subjektivitas orang lain. Dan memang, hal ini jauh lebih menyenangkan dilakukan. Rasanya seperti berpetualang :-D

Ada seseorang. Dan tanpa harus 'termakan' cerita tentang seseorang tersebut, saya mendapati ia adalah orang yang cukup menyenangkan. Selain itu, saya juga bisa mengenal lebih jauh orang-orang yang telah saya kenal sebelumnya. Namun, menyenangkan bisa mengenal mereka secara lebih dekat. Dan saya mendapati sedikit cerita pribadi mereka, yang membuat saya paham mengapa mereka menjadi orang yang seperti itu. Yang lebih menyenangkan lagi adalah bahwa ada orang-orang yang cocok dengan saya: kepribadian, visi, dan keinginan untuk terus bekerja keras. Karena bagi orang-orang seperti saya, hidup itu campuran seperti Kacang Segala Rasa Bertie Botts; kadang rasanya enak seperti cokelat, kadang rasanya menjijikkan seperti rasa kotoran telinga (bukan berarti saya pernah mencoba, tapi tanpa mencoba saja sudah terdengar menjijikkan, kan?).

Namun, ada kalanya saya merasa harus merubah sedikit sudut pandang saya. Mungkin, selama ini kepingan puzzle saya yang justru menggunakan persepktif yang berbeda. Seperti kedua gambar berikut ini:



Dan bila saya mau membalik perspektif saya, sebenarnya selama ini saya berusaha melengkapi puzzle yang sama! :)

Wednesday, June 6, 2012

This.

Photo's taken by me.


"The stars are blazin like rebels diamond cut out of the sun when you read my mind."
The Killers

Monday, April 23, 2012

Nasionalis Tanda Kutip


Halo, lama tak bersua di blog :)

Postingan kali ini nampaknya akan singkat saja, membahas soal tweet berikut:


click for larger image :)


Yap, sudah berkali-kali saya melihat opini serupa. Namun, jarang ada yang mau berargumen tentang ini. Sehingga, berkali-kali ya saya hanya melihat pendapat serupa, diiyakan, lalu selesai tanpa ada diskusi mendalam. Dan, kali ini saya hendak memberikan argumen mengapa berbahasa asing tidak melulu merupakan wujud ketidaknasionalisan atau wujud ketidakbanggaan sebagai orang Indonesia.


Kamus Besar Bahasa Indonesia memberi definisi sebagai berikut:
na·si·o·na·lis·me n 1 paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri; sifat kenasionalan: --makin menjiwai bangsa Indonesia; 2 kesadaran keanggotaan dl suatu bangsa yg secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu; semangat kebangsaan


na·si·o·na·lis n 1 pencinta nusa dan bangsa sendiri; 2 orang yg memperjuangkan kepentingan bangsanya; patriot: ia adalah seorang pejuang -- sejati
Ya, seorang nasionalis, dalam definisi secara bahasa, adalah seorang pecinta. Namun, jangan tanya pada saya apa itu nasionalisme dan seorang nasionalis yang ideal; saya bukan orang yang bergelut dalam ideologi seperti itu.


Yang hendak saya tekankan di sini adalah: penggunaan bahasa asing tidaklah lantas melunturkan rasa cinta. Semester ini, saya mengambil mata kuliah Teori Akuntansi yang diampu oleh Suwardjono. Bagi kawan-kawan yang berkecimpung di bidang akuntansi, saya asumsikan semuanya familiar dengan nama ini. Beliau, selain menjadi dosen akuntansi, juga adalah pemerhati bahasa. Bagi yang tertarik membaca tulisan-tulisan beliau, silahkan klik di sini.


Berbahasa Indonesia memang penting. Tapi, adakah yang paham mengapa? Jangan beri saya jawaban 'bukti kecintaan akan Indonesia'. Bagi saya, argumen tersebut tidak kuat dan masih terlalu abstrak. Bahasa Indonesia memang adalah pemersatu bangsa, seperti yang dituangkan dalam Sumpah Pemuda. Namun, nampaknya kepentingan dan alasan untuk mempelajari bahasa ibu masih dimaknai secara abstrak.


Saya pernah membuat tanggapan artikel Suwardjono yang berjudul "Peran dan Martabat Bahasa Indonesia dalam Pengembangan Ilmu". Memang, tulisan tersebut akan lebih banyak mengarah pada urgensi bahasa Indonesia dalam lingkup akademik. Namun, karena saya adalah pelajar dan memang manfaat penguasaan bahasa Indonesia yang baik terjabar dengan jelas di sini, saya akan turut sedikit mengulas artikel tersebut beserta tanggapan saya.


Sudahkah kita, selama ini, memelajari bahasa Indonesia dengan baik dan benar? Saya sendiri baru menyadari bahwa bahasa Indonesia sungguh kompleks ketika saya sudah berada di bangku kelas 3 SMP. Lantaran posisinya sebagai bahasa ibu dan bahasa sehari-hari, bahasa Indonesia tidak dipelajari secara serius, meski sudah diajarkan di dalam pendidikan formal sejak bangku Sekolah Dasar. Serupa dengan pernyataan Suwardjono, bahasa Indonesia masih dipelajari dengan cara monkey see monkey do, alias sebatas secara alamiah. Padahal, bahasa Indonesia yang dipelajari di kehidupan sehari-hari adalah bahasa Indonesia yang berada pada aras yang rendah dan bahasa Indonesia di lingkungan pendidikan harusnya lebih canggih.


Dalam pendidikan formal, bahasa Indonesia sendiri seperti dianaktirikan dengan bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Dalam artikel tersebut, Suwardjono menulis bahwa cendekiawan cenderung asing dengan bahasa Indonesia karena penguasaannya akan kosa kata bahasa asing lebih luas dibanding kosa kata bahasa Indonesia. Padahal, bahasa Indonesia memiliki struktur yang juga canggih serta bermartabat. Dampaknya, dalam dunia pendidikan, saya menghindari buku terjemahan berbahasa Indonesia lantaran terjemahannya yang meragukan. Bandingan dengan Jepang, yang tak perlu menguasai bahasa Inggris dengan baik, namun mampu menyerap pengetahuan dalam berbagai buku lantaran negara membentuk badan bahasa (seperti Pusat Bahasa di sini) untuk menerjemahkan buku-buku tersebut ke dalam bahasa ibu. Rendahnya penguasaan bahasa Indonesia kita sering kali membuat kita memahami buku-buku ilmiah, yang ditulis dengan bahasa pada aras yang semestinya, dengan aras bahasa yang rendah. Sehingga, banyak yang mengeluh bahwa 'buku ini terlalu berat dibaca, istilahnya aneh-aneh'.


Menanggapi hal tersebut, saya menulis bahwa ada sebuah rantai yang membentuk hubungan tersebut. Rendahnya minat baca (sebagai faktor yang saya anggap berhubungan dengan rendahnya penguasaan kosa kata pelajar saat ini) dapat dipahami karena tingginya level bahasa dalam bacaan sementara pembaca tidak mengikuti bacaan tersebut dalam level yang semestinya. Di satu sisi, rendahnya minat membaca ini juga mendorong rendahnya penguasaan akan kosakata. Rendahnya kosakata yang dikuasai dan pengetahuan kebahasaan yang rendah menyebabkan akademisi tidak dapat menghasilkan karya ilmiah dengan tingkat bahasa yang semestinya.

Tak sadarkah kita bahwa penguasaan kita akan bahasa Indonesia juga sebenarnya berperan dalam globalisasi? KBBI menyebutkan bahwa globalisasi adalah 'proses masuknya ke ruang lingkup dunia'. Suwardjono sendiri menyebutkan bahwa pemaknaan globalisasi terkini diikuti dengan 'penginggrisan bangsa dan masyarakat'. Namun, Jepang memaknai globalisasi sebagai sebuah proses pengglobalan negara, bukan individu. Sehingga, penguasaan akan bahasa Inggris di sini menjadi wajib hukumnya, sementara bahasa Indonesia sendiri masih dipelajari dengan standar yang belum memadai.

Penguasaan akan bahasa Indonesia yang beraras tinggi sebenarnya membantu kita untuk menguasai bahasa asing dengan baik. Argumen saya adalah: kosa kata bahasa Indonesia kita yang terbatas turut membatasi kemampuan kita dalam menguasai kosa kata berbahasa Inggris. Contohlah bagaimana kita membedakan philanthropic dengan generous? Atau yang sederhana saja: earn dengan get?


Yang terakhir adalah, apa hubungan antara ocehan saya ini dengan judul, yang saya beri Nasionalis Tanda Kutip, alias "Nasionalis"? Tanda kutip yang mengapit sebuah julukan biasanya disertai pengucapan yang berbau sindiran. Ya, saya di sini hendak menyindir yang sangat bangga mengkritik soal penggunaan bahasa asing sebagai wujud ketidakcintaan, ketidaknasionalisan, atau ketidakbanggaan akan bahasa Indonesia. Akan tetapi, sindiran ini tidak hanya khusus bagi mereka saja. Tetapi, juga untuk kita semua: sudahkan kita berbahasa Indonesia dengan baik dan benar?
Ya,
M

Monday, April 18, 2011

Meong yang Terbuang

Saya pengen pelihara kucing.

Itu keinginan yang selama sekitar tujuh tahun ini sulit untuk diwujudkan, mengingat terakhir kali saya memungut dua anak kucing terlantar, mereka adalah dua ekor makhluk yang hobi pup sembarangan. Imbasnya, jadilah saya yang didamprat oleh orang-orang serumah guna mempertanggung jawabkan hasil perbuatan dua anak pungut saya itu. Dan sejak saat itu, memelihara kucing seolah menjadi impian tak terwujud.

Namun, beberapa hari yang lalu secara tiba-tiba, tanpa angin tanpa hujan, serasa ada hujan duit, saya diperbolehkan memelihara kucing lagi. Dan kebetulan juga, teman imut saya si Mira yang punya banyak kucing, baru saja ketiban tiga ekor bayi kucing hasil peranakan salah satu kucingnya. Salah satunya yang jantan sudah saya incar untuk menjadi kesayangan baru saya~ :3
Sayangnya saya masih harus menunggu sekitar 2-3 bulan hingga akhirnya si bayi kucing diperbolehkan berpisah dari induknya dan pergi ke pelukan saya >//////<


Kucing idaman saya :")


Nah, beberapa hari yang lalu, saya menemukan seekor kucing berwarna putih dengan ekor lurus berbulu hitam. Lucuuuuuuuuuuu!! Waktu saya turun dari shelter Trans Jogja, tiba-tiba saya mendengar suara meong meong dan menemukan si kucing putih itu sedang duduk memandangi saya. Nggemesin banget aaaa  x"3

Dengan penuh gelora, saya tuntun si kucing itu untuk mengikuti saya dengan niatan akan saya beri makan dan saya pelihara. Ketika saya dan si kucing sudah mau sampai di mulut gang yang ada di belakang SD saya, si kucing tiba-tiba berhenti mengikuti saya. Dia... seperti takut meninggalkan tempat itu.
Saking ngebetnya punya kucing, si kucing putih saya tungguin sampe dia mau ngikutin saya lagi. Selama nungguin si kucing, dua kali muncul sosok manusia dari kejauhan yang memandangi si kucing. Di kepala saya, terbersit cerita ini...

Meong yang Terbuang

Si Kucing Putih, alias si Meong, sudah menggelandang selama bertahun-tahun. Mengais sampah sudah menjadi kesehariannya demi mengganjal perut yang keroncongan. Siapa orang tuanya, ia tak pernah tahu. Yang ia tahu, dunia tidak pernah bersikap lunak dan butuh keteguhan hati untuk menghadapinya. Teman adalah lalat-lalat yang ikut mengerumuni makanannya. Taring dan cakar adalah pelindungnya.

Di suatu tempat, berkilo-kilometer dari Jogja, terdapat seekor kucing konglomerat bernama Empus. Ibarat Paman Gober yang hobi berenang di kolam uang, si Empus ini memiliki kolam sarden. Kendati hidupnya bergelimang sarden, tak ada yang tahu ia memiliki sebuah lubang besar yang menganga di dalam hatinya...

Beberapa tahun yang lalu, istri Empus mati setelah melahirkan lima ekor bayi kucing. Dari lima itu, hanya satu yang dapat bertahan hidup. Sisanya mati karena virus. Dengan hati penuh duka, Empus berjanji akan mendedikasikan hidupnya untuk menjaga satu-satunya anaknya yang masih hidup, yang ia beri nama Meong.

Nestapa seolah tak berhenti menerpa kehidupan Empus. Selang seminggu setelah kematian istri dan empat anaknya, Meong diculik oleh sosok tak dikenal. Kejadian itu terjadi begitu saja; Empus sejenak meninggalkan Meong di atas buaiannya yang ada di halaman rumahnya demi mengambil sebotol susu untuk Meong yang rewel kelaparan. Ketika ia kembali, Meong sudah lenyap...

Yang tidak Empus ketahui, Meong diculik oleh sekor kucing jahat bernama Pupus. Pupus adalah kucing preman yang menguasai jalanan Jogja; semua kucing gelandangan tunduk padanya. Pupus dan pemiliknya sering menculik anak-anak kecil, manusia maupun kucing, untuk dipaksa bekerja demi mereka. Mencuri, mengemis, dan sebagainya. Dan kehidupan keras Meong di jalanan pun dimulai sejak saat itu...

(bersambung)

Ya begitulah. Mungkin suatu saat akan saya lanjutkan cerita tak bermutu ini. Semoga anda tidak geram dan ingin memukul saya.
Terimakasih, salam meong meong :3

Monday, March 14, 2011

Bakteri Susu

Hanya sekedar ingin mengingatkan pada kalian semua mengenai isu bakteri dalam susu formula yang berbahaya, yang sempat booming dan berhasil meresahkan hati para ibu-ibu berbalita atau berbayi (memiliki balita atau memiliki bayi maksudnya), yang turut meresahkan saya juga karena saya terbilang sebagai penenggak susu formula sejak bayi hingga SMP.

Keresahan di dalam sanubari saya menjalar hingga sekujur tubuh dari hari ke hari, karena saya tidak memperoleh informasi lengkap mengenai bahaya bakteri tersebut termasuk asal muasal keberadaan bakteri, apakah sudah ada sejak dulu atau baru muncul akhir-akhir ini khususnya yang berjenis berbahaya tersebut.

Dan suatu hari, saya mengungkapkan kegelisahan saya kepada kawan saya, Lifthya Ahadiati Akmala dan terekam dalam percakapan berikut (yang sudah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia):

Kikin (K): "Eh, isu susu formula berbakteri itu udah ada dari jaman kapan sih? Baru-baru ini apa udah dari dulu bakterinya? Aku cemas nih, kan aku minum susunya udah lama..."
Iffa (I): "Mana ku tahu." (sambil memakai jilbab)
K: "Eh tapi kayaknya baru-baru aja ya, buktinya aku sekarang enggak kenapa-kenapa." (mencoba menenangkan diri) "Emang bahayanya bakterinya apa sih?"
I: "Bakterinya menyerang selaput otak tauuuu"
K: "Kalo selaput otak kena terus gimana?"
I: "Ya kamu jadi bego!"
K: "Oh, berarti aku aman. Aku kan pinter!"
I: "..."

Oke. Sekian dan terimakasih. Tetap waspada!

Monday, January 24, 2011

Buzz-ing January :)

Hell-o!

Omg I cant believe it's my 1st post this year and this January :(
Benar-benar banyak kesibukan menjelang akhir tahun sampai sekarang. Mulai dari tugas-tugas akhir jelang ujian, ujian itu sendiri, dan juga majalah yang sebentar lagi mendekati deadline.
Sepertinya ada banyak kisah yang terlewatkan. Yang pasti, ujian sudah berhasil saya tempuh dan sekarang saya sedang sangat menikmati liburan saya sambil berkutat dengan majalah.
Ribet dan sibuk memang, tetapi ternyata menyenangkan :) paling tidak, saya punya banyak hal untuk dikerjakan dan dipikirkan, meskipun jujur saja saya sangat merindukan liburan yang diisi dengan tidur menggelundung setiap hari :p

Anyway, berbicara tentang tahun baru, saya punya sebuah resolusi yang tak kalah baru: DIET.
Well, saya bukannya obsesi jadi kurus langsing layaknya wanita-wanita yang dianggap 'cantik' di era modern ini. Tetapi karena kesadaran bahwa telah terjadi pemelaran perut dan tangan saya. Hal ini dibuktikan ketika saya mengenakan beberapa baju lawas, yang meskipun masih bisa saya pakai, ternyata menimbulkan sedikit benjolan di area perut. Singkat cerita, selama saya kuliah, telah terjadi penyerapan gizi yang terlalu maksimal dan kurangnya mobilitas guna membakar kandungan-kandungan yang dapat berpotensi menimbulkan pemelaran tersebut.

Resolusi diet ini tidak saya lakukan sendirian. Ada Dhita dan Adrian yang menyertai saya. Selama liburan, saya dan Dhita berencana untuk mengadakan program olahraga seperti fitness dan chacha. Tapi apa lacur, waktu tidak memberi kesempatan. Hingga seminggu liburan telah dilalui, saya masih saja berkutat dengan laput dan benar-benar HAMPIR tidak memiliki waktu untuk yang lainnya.
So far, saya cuman mengurangi makan dan nasi serta meminimalkan frekuensi mengemil. Demi apalah, saya akui saya terlalu doyan ngemil. Dan demi apalah, sepertinya cemilan lah yang menyebabkan terjadinya pemelaran tubuh saya *nangis guling guling*

Ah, berbicara tentang nilai, sejauh ini baru ada dua mata kuliah yang sudah keluar nilainya: Bahasa Inggris II dan Manajemen Keuangan I.
I got A for English II *thank God!* and B+ for Financial Management. Well... B+ untuk MK seems not really bad since I spent the whole night before the final exam to make a t-shirt for Ben's birthday project! HAHA *puas* and guess if I got A, makin a tees for Ben would be muuuccchhh better for me :p

Here's the t-shirt!




Dan sekarang, akhir-akhir ini saya jadi suka membuat benda-benda abstrak menggunakan flanel :p
Semoga kemampuan saya menjahit akan semakin baik karena saya akan membuat banyaaaaaakkk sekali benda dengan flanel ;) selain itu, I already had a plan for my holiday, yaitu bikin boneka. Tunggu saja, semoga kesampean hihihi

Last, barusan saya lihat video ini. 'You and Me' cover by vocalist of The Mid Summer Classic. He's kinda cute, though ♥





Smell ya later!
xx

Thursday, October 21, 2010

CERITA TISU TOILET

Hello.

Bagi yang sadar, saya merubah nama blog saya looohh. Begitu pun dengan link-nya. MY TOILET TISSUE.
Mengapa tisu toilet? Beginilah ceritanya...

Pernah lihat tisu J.Co yang kayak gini?



Buat anak gahol yang rajin ke J.Co, pasti sadar kalo tisu itu bertuliskan "Don't lose your ideas. Quickly write them down!" dan kemudian diikuti space untuk menulis apa saja ide yang terbersit ketika menikmati tiap gigitan donat ataupun tiap sesapan minuman yang disajikan.

Maksud nama blogku juga mirip-mirip kayak gitu. Oke, emang sih di J.Co tisunya bukan tisu toilet. Tetapi tisu tetap saja tisu. Hanya beda bentuk aja. Kalau tisunya J.Co kotak dan tekturnya seperti tisu makan, kalau tisu toilet bentuknya biasanya gulungan dan teksturnya lebih lembut karena... yah, you know lah.... untuk mengelap bagian "itu".

Dan kebetulan saya adalah fans dari tisu toilet. Di rumah, bertebaran tisu gulung di mana-mana. Pokoknya, apapun aktivitasnya, ibaratnya ada tisu gulung yang selalu setia menemani. Apalagi tisu toilet. Wuih~~

Nah, mengadaptasi kegunaan tisu di J.Co, aku juga pengen tisu toilet juga dapat digunakan untuk menuangkan sesuatu yang lebih berharga. Kasian kan, si tisu toilet, sepanjang hidupnya dipakai buat ngelap bokong. Mending kalo bersih, lha bokongnya aja bekas pup! -____-
Dan berhubung si tisu toilet gulung bertebaran di penjuru rumah, kenapa tidak kumanfaatkan saja?

I wrote. I squeezed. I threw.

Begitulah kira-kira kronologi bagaimana saya menulis apa yang terjadi dalam hidup saya di atas selembar tisu toilet. Bukan shanya elembar, mungkin bisa bergulung-gulung tisu toilet yang saja habiskan.

Anyway, besok Senin, saya sudah memasuki fase ujian tengah semester. Wish me luck! <3




See ya,
xx

Tuesday, October 12, 2010

Janganlah Galau!

Apakah kalian anak muda gaul yang senantiasa merasa galau dan merasa tidak nyaman dengan kegalauan kalian?
Apakah kalian merasa terlalu gampang merasa galau?
Apakah kegalauan kalian mengganggu produktivitas dan kinerja?
Apakah kalian kesulitan mengatasi kegalauan yang senantiasa muncul secara tiba-tiba?
….


Dan sejuta "apakah" lainnya?

Berikut adalah tips-tips yang saya buat untuk menghindari dan mengurangi kegalauan kalian. Sudah diuji kepada 300 ekor anak bebek, 64 ekor anak kucing, 1134 ekor anak buaya, dan 87347469783 ekor anak kecoak, terbukti 99,9999999999999% berhasil mengatasi kegalauan mereka!

Check them out!


 1. Jangan jadi anak gaul.
Survey dari BPS menunjukkan bahwa 89% anak muda yang mengalami kegalauan adalah anak gaul. Terutama mereka yang suka berfoto dengan pose bibir-monyong-kedepan-dan-jari-telunjuk-ditempel-kesana. Jika kalian termasuk dalam tipe ini, segeralah mengubah gaya berfoto kalian sehingga tidak lagi menjadi anak gaul! Cobalah mengubah pose menjadi pose garukin-ketek-berbulu-lebat-didepan-pak-RT. Menurut Madam Kikin Clifford dan Madam Amanda Taylor (bukan! Itu bukan Kikin Safira dan Amanda Amelia!), menjadi gila itu lebih baik daripada menjadi galau.


 2. Hindari sumber-sumber yang dapat menjadi pemicu kegalauan.
Tak ada asap jika tidak ada api. Tak akan ada akibat jika tidak ada asal. Tidak akan ada anak jika tidak ada orang tua. Dan seperti semua tetek bengek yang ada di dunia, kegalauan pasti memiliki sumber. Menurut survey yang dilakukan oleh Profesor Kikin Burns, kegalauan yang diderita anak muda biasanya disebabkan oleh faktor-faktor seperti pacar, gebetan, lawan jenis, PR, tugas, uang saku yang menipis, rambut yang tak pernah rapi, badan yang tak kunjung tinggi, berat badan yang terus meningkat, dan semacamnya. Cobalah berjauhan dengan sumber-sumber tersebut. Jika kalian biasa galau karena pacar, putuskan saja dia. Jika kalian galau karena punya gebetan, janganlah punya gebetan. Jika kalian galau karena PR dan tugas, jangan kerjakan PR dan tugas kalian! POKOKNYA HINDARI!!!

"Tapi kalo nggak bisa menghindar gimana?" tanya si Ani, sang ratu galau.

Jawabannya: kurangin frekuensi persinggungan dengan sumber tersebut. Maksudnya, kalau misal kalian suka galau karena pacar, jangan sering-sering pacaran. Kalau kalian suka galau karena uang makin menipis, maka jangan sering-sering minta uang jajan. Kalau kalian galau karena badan tak kunjung tinggi, jangan sering-sering bergaul dengan orang yang lebih tinggi dari kamu.


 3. Hindari lagu, film, ataupun momen yang mengingatkanmu kepada si sumber galau.
Saran terjitu dari saya: HAPUS LAGU-LAGU YANG MENIMBULKAN KEGALAUAN DARI PLAYLIST, TAK PEDULI SEBERAPA BESAR RASA SUKA ANDA TERHADAP LAGU TERSEBUT!! Karena, lagu favorit memiliki kecenderungan untuk kita nyanyikan berulang-ulang dan, dalam beberapa kasus, cocok dengan suasana galau akan menyebabkan kita teringat dengan si-penyebab-kegalauan. Contoh, kalian memiliki masalah dengan keuangan dan menjadi galau karena frekuensi bergaul di emol menjadi berkurang. Maka, hindari mendengarkan lagu semacam ini:

"Bang bing bung yok, kita ke bank.
Bang bing bung yok, kita nambung.
Tang ting tung hey, jangan dihitung.
Tau-tau kita nanti dapat untung"

Atau lagu seperti ini:

"Aku cinta Rupiah.
Biar Dollar di mana-mana"

Juga lagu ini:

"Love is money, love is money
But the money bala balaaaa"

See? Lagu tersebut hanya akan mengingatkan kalian betapa menyedihkannya kondisi keuangan kalian. Coba juga lupakan momen-momen yang berkaitan dengan uang, seperti misal kisah ciuman pertama di bilik ATM, pertama kenalan di bank, dsb.


 4. Banyak-banyaklah berimajinasi.
Berimajinasi adalah salah satu obat ampuh dalam menghadapi kegalauan. Dengan berimajinasi, kita seolah melepas realita dan melayang menuju awan. Jadi, jika suatu saat kamu diberi tahu "Pacarmu selingkuh!" kamu akan menjawab "Ah, itu hanya khayalan saya saja". Misal suatu saat kalian diberi tahu "Berat badanmu jadi 100 kilo!" kau juga akan menjawab "Ah, cuman pake syampo kok".


 5. Keluarkan perasaan dan isi hati kalian.
Temui sahabat yang kalian anggap bisa meredakan kegalauan ketika kalian bercerita tentang kisah galau kalian. TIPS: JANGAN BERCERITA PADA SEORANG SEPERTI SARAH KARINDA ATAU KALIAN HANYA AKAN MENDENGAR TAWA SETANNYA ATAUPUN WAJAH CENGENGESANNYA KETIKA KALIAN BERCERITA!! *curhat*
TIPS LAGI: hindari cuhat kepada seekor anak kucing!! Pokoknya jangan!!


 6. Belajarlah menjadi gila.
Seperti yang sudah saya tulis di atas — maksudnya, quote dari Madam Kikin Clifford dan Madam Amanda Taylor — bahwa menjadi gila jauh lebih baik daripada menjadi galau. Gampang kok, sering-seringlah ketawa di manapun dan kapanpun pasti orang-orang bakalan bilang ke kalian, "Ih, dia gila!" *sambil tuding-tuding dan memberi pandangan kejam menusuk ala sinetron*


 7. Dengarkan orang-orang di sekitar kalian, bahkan kakak yang biasa jadi musuh bebuyutan kalian sekalipun.
Orang-orang terdekat kita adalah orang-orang yang umumnya paling mengerti kita. Seperti yang barusan Kingkong bilang: "Wanita itu terlalu cepat memberi kesimpulan atas apa yang mereka lihat, padahal apa yang mereka lihat bukanlah maksud yang sebenarnya". Sangat membantu mengatasi kegalauan saya. Ups, maaf, maksudnya kegalauan kalian. Walaupun kalimat itu dia katakan gara-gara melihat adegan FTV ketika si cewek mergokin cowoknya pelukan sama cewek lain. Aku jawab "Itukan cuman FTV!" Jawab Kingkong, "Tapi bisa jadi pelajaran di dunia nyata".
JLEB!

Maaf saya curhat T-T



Yak, sekian itulah tips-tips dari saya. Semoga tidak bermanfaat.

Monday, October 11, 2010

Hot Mess Dream

11 Oktober 2010.

HAPPY BIRTHDAY GABE SAPORTA!! ♥♥♥


He's 31 now. Stay awesome. Stay sexy. Amen :*



Anyway, I had a dream about him last night.
Woops, not a hot wet dream (unfortunately LOL) =P
I just dreamt one thing I always want to do with Gabe: spend a day with him, just two of us




See ya,
xx

Tuesday, June 29, 2010

I HAVE FOUND MY GREATEST ABILITY!!

Okay. And my greatest ability is...



Detecting bad thing is comin up whenever I wanna fart!!



OhmyGod, isn't that AWESOMEEEEE??
And I've just realized that ability few days ago.

Then guess what? Today, I cant stop feeling want to fart.





Monday, June 21, 2010

Pictures


A hopeless romantic...





Sometimes, we both lose our minds to find a better road.

















Graooo!!















Thursday, June 17, 2010

Torresimous Kronisis

Oke. Judulnya konyol. Saya tau itu.
Tapi postingan yang ini saya buat secara spontanitas. Mendadak. Terinspirasi dari sosok bernama Fernando Jose Torres Sanz.
Melihatnya kembali berlari di lapangan malam ini... Menakjubkan. Another obsession? Bisa jadi. Tapi yang jelas, kisah ini dimulai sejak empat tahun yang lalu :)


Semua penggila sepakbola tahu siapa sosok yang namanya saya cetak tebal di atas. Sekarang dia adalah salah satu pemain paling diminati oleh klub mana pun di dunia. Selalu masuk jajaran pemain terbaik dunia. Ujung tombak timnas dan klub. Tinggi. Tampan. Rupawan. Ganas di mulut gawang.
Singkatnya, semua tahu siapa Fernando Torres.

Semuanya di awali dari World Cup tahun 2006 di Jerman. Sosok tinggi kurusnya menyita perhatian saya sepanjang pertandingan yang dia mainkan. Membombardir gawang lawan dan menakuti kiper lawan bersama partnernya, David Villa Sanchez. Angka sembilan tersemat di punggungnya. Gol-gol tercipta baik dari kaki maupun kepalanya.





"Hebat," batin saya saat itu. "Dan juga ganteng."
Jangan lupakan fakta bahwa saya adalah wanita :p

Muda, lincah, dan berbahaya.
Saat itu ia masih menjadi Pangeran Atletico Madrid.
Pasca World Cup 2006, saya masih mengawasi kiprahnya. Hal inilah yang memaksa saya membulatkan tekad untuk terjaga lewat tengah malam demi menikmati permainannya di tiap momen pertandingan La Liga. Selama ini, La Liga adalah musuh saya karena jadwal pertandingannya yang tidak terlalu ramah pada jam tidur saya.
Tetapi demi lelaki bernama Fernando Torres itu, saya rela memaksakan mata saya terbuka ketika tengah malam. Kalaupun saya terpaksa melewatkan pertandingannya, mungkin hanya beberapa kali.

Dua musim kemudian ia berlabuh di Anfield, stadion kebanggaan Liverpool. Dan karena Liverpool bermain di Liga Inggris yang sangat saya sukai, saya pun menyambut gembira berita itu. Tapi, apalah daya saya pada musim 2007/08 hak siar Liga Inggris di Indonesia diambil alih oleh salah satu penyedia layanan televisi berbayar milik Malaysia. Sempit harapan saya untuk menyaksikan kiprah Torres, walaupun saya mendengar ia mengalami musim perdana yang spektakuler. Semakin sulit menyaksikan penampilannya karena saya adalah pendukung salah satu tim rival, yaitu Si Biru Chelsea. Sejak saat itu, saya harus pastikan diri saya dapat menonton perseteuan Chelsea melawan Liverpool secara langsung. Dan saya beruntung dapat menyaksikan perseteruan Chelsea melawan Liverpool di Liga Champions (duh, saya lupa musim berapa -___-) yang disiarkan secara langsung dan gratis. Selain itu, kebanyakan saya hanya mengikuti berita tentang Torres di koran atau internet.


Musim panas 2008. EURO. Pikiran tentang Torres agak terkikis pada masa-masa menjelang EURO 2008 yang diadakan di Swiss-Austria. Seperti biasa, dari awal saya menunjukkan sikap mendua-mentiga-mengempat-dst hingga akhirnya pertandingan puncak mempertemukan jagoan utama saya, Jerman, melawan jagoan saya yang lain, Spanyol.
Ada Torres tentunya.
Dan hasil akhirnya sudah diketahui semua orang: Spanyol menang 1-0 lewat gol Torres.
Oke, katakan saya berlebihan, tapi itu agak seperti 'tamparan' buat saya. Torres tak boleh dilupakan. (Di samping tangisan sepanjang suibuh meratapi kekalahan Jerman).





Gairah terhadap penampilan Torres membuncah. Jujur, saya tidak bisa mendukung Spanyol. Buktinya saya malah merasa agak senang dengan kekalahan Spanyol malam ini dari Swiss dalam laga pertama mereka di World Cup 2010 (dan Jerman mengawalinya dengan mulus, 4-0. Maaf untuk pendukung setia Spanyol). Jerman selalu menjadi jagoan utama saya, dengan baik maupun buruknya. Juga Inggris, yang terpaksa menerima hasil seri karena si Jabulani lepas dari tangkapan Green.
Selepas EURO 2008, saya berusaha untuk mendapatkan berita tentang Torres selengkap mungkin. Baik itu berita mengenai kehidupannya di luar lapangan hijau: pernikahannya dengan Olalla dan kelahiran anak perempuan pertamanya yang bernama Noura.
Sepertinya bagian ini tak perlu saya bahas. Agak membuat patah hati soalnya :)

Oh, iya. Jadi ingat. Sepanjang EURO, saya menemukan kawan-kawan GILA seperti Prita, Liona, Mia, Lidya, dan Putri dan bersama-sama kami membuat semacam kisah 'khayalan'. Kisah bodoh dan menyenangkan mengenai kehidupan kami jika kami menjadi pasangan hidup pemain Spanyol yang kami sukai.
Prita bersama David Villa, Liona bersama David Silva, Mia bersama Iker Casillas, dan Putri yang sangat memuja David Villa. Sementara saya dan Lidya 'berbagi' Torres.
Masa-masa yang menyenangkan :)


Dan sekarang, saya ada di depan komputer dengan berjuta perasaan yang tidak mampu saya tulis secara keseluruhan. Yang jelas... saya "jatuh cinta" dengan orang ini. Mengapa menggunakan tanda kutip? Saya kurang paham. Pokoknya, melihat Torres berada di lapangan membuat saya berdebar. Pipi saya terasa hangat. Seperti tanda orang yang sedang kasmaran.

Hanya saja saya belum pernah bertemu dengannya.

Itu alasannya.
Bertemu dengannya... hampir seperti sesuatu yang mustahil. Tapi saya akan mencoba. Pergi ke Inggris adalah impian saya, tinggal di London adalah mimpi saya. Dan tidak mustahil bagi saya untuk berharap dapat bertemu dengannya. 'Suatu hari' yang akan sangat saya tunggu :)



This boy... I will dream as he dreams of Torres :D


Wow,
Saya nggak nyangka, tulisan bodoh dengan judul bodoh bisa sepanjang ini :P
Well, sebenarnya tulisan ini, selain didasari oleh spontanitas, juga didasari oleh sesuatu...

Find the answer here! ;)

I know that 'gettyimage' stamp is kinda disturbing -____-


Oke. Pertanyaannya adalah:
Yang mana Torres waktu World Cup 2006 dan World Cup 2010?
LOL ♥


Dan sebagai penutup:











Klik aja kalo mau liat dan baca dengan lebih jelas :)
Semua screenshot itu aku ambil dari Twitter-ku hihihi :P

Oke. Smell ya later,
xx

Thursday, April 22, 2010

Ini Bukan Kesasar, Tapi Jalan-Jalan Sore :D

Sudah beberapa hari ini, Sarah terkapar di rumah gara-gara tipes. Aku dikasih tau sama Anis sekitar hari... apa yaa? Lupaaaa~ Minggu kalo nggak salah. Ah lupa pokoknya. Pokoknya Sarah udah seminggu gitu membusuk di rumah nggak bisa ke mana-mana. Sebenernya kemaren hari Selasa rencananya mau jengukin Sarah sama Anis, Praend, dan Mas Agung kelar rapat. Cuman, karena aku sama Anis sama-sama nggak bawa helm, batal dehh ditunda jadi hari ini, Kamis 22 April 2010 sore.

Hari ini, kelar kuliah Akuntansi Pengantar 2, aku cabut sambil nenteng helm ke rumah Anis. Bergegas pokoknya, soalnya ada Sapti dateng bikin spaghetti hoahahahahaa~
Lama nggak makan spaghetti-nya Sapti nihh *ngeces*

Btw btw btw, UTS AP2-ku udah keluar hasilnya.
99 dari 120 booo hihihi lumayan laah saya sudah cukup puas. Soalnya emang ngerasa banget kalo banyak poin yang aku luput ngejainnya gara-gara nggak ngerti maupun gara-gara nggak teliti (kayak pas aku salah ngejrunal Treasury Stock ke kredit padahal pas itu ceritanya ngejual Treasury Stock~).
Pak Pri emang sukanya bikin maksimum nilai 100+ , makanya 99 udah cukup buat sayaaa. Catat: cukup :D

Nahh, nyampe rumah Anis, aku langsung mengganyang spaghetti gara-gara kelaperan berat. Walaupun sempet makan siang dulu bareng Dito, Ira, Martha, Sherly, dan Reza di Anjli. Agak nggak memuaskan di sana makannya, walaupun nasinya banyak tapi kok nggak kerasa kenyang yaaa?? -______-

Sekitar jam 3an gitu aku sama Anis cabut ke rumah Sarah naik TransJogja tercintaaaaa♥
Pas itu, aku sms Praend katanya masih ngurus proposal gitu jadi mungkin sekitar jam setengah 4an kerumah Sarah. Nah, pas udah nyampe shelter di depan UPN, aku sms Praend lagi. Katanya mundur lagi jadi jam 4. Okkeeee!

Karena aku sama Anis males nunggu di shelter, kami pun memutuskan untuk berjalan kaki ke rumah Sarah berdasarkan ingatan kami. Dengan perasaan riang, tanpa dihinggapi firasat buruk, kami pun berjalan menuju rumah Sarah melewati SD Muhammadiyah Condong Catur alias mantan SD-nya Anis dulu.

Jalan-jalan sore sambil mengobrol bersama teman sungguh menyenangkan! :)

Belok sana-belok sini, lurus, semuanya masih berjalan lancar sampe masjid yang ada di Jalan Olahraga.Lurus, sampe Jalan Wahid Hasyim. Di sanalah kami menemukan kebingungan lagi nganggur di pinggir jalan..

Anis : Ke mana nih? Ke sana bukan?
Aku : Kayaknya ke sana lagi deh, aku cuman ingetnya kita lewat gang itu doang.
Anis : Okeeee!

Bermeter-meter jarak sudah ditempuh, kami nekat masuk sebuah gang. Dan setelah celingak-celinguk, sadarlah kami kalo kami nyasar. Aku nelfon Sarah...

Aku : Halo halo Sar?
Sarah : Halo?
Aku : Sar... aku sama Anis... nyasar
Sarah : Lha kok bisaaa?? Kalian di mana sekarang?
Aku : YDS, YDS. Yogya Design School.
Sarah : Hah, di mana tuhh? *aku udah bisa bayangin tampang Sarah yang bloon*
Anis : Dari masjid deh. Masjid yang kamu bilang dibangunnya bertahap itu looohh.
Sarah : Oooh itu. Masih jauh dari situuu~
Aku : *bengong*
Sarah : *memberi instruksi* Bla bla bla bla bla

Dan kami pun kembali ke jalan yang benaaaaarr. Pas masih di jalan itulah Anis bilang gini: "Ya ampun Kin, kudunya kita nggak usah belok lewat SD ConCat. Kudunya terrruuuuss aja, pas depan JIH itu belok. Lurus. Cari gang yang ada plang 'Ardhana', selesai."

Kata aku: "Oooh, oke" *udah pegel nentengin helm sama bawa tas yang berat*


Inilah peta perjalanan Jalan-Jalan Sore ke Rumah Sarah Besama Kikin dan Anis. Klik untuk melihat ukuiran sebenarnya.




Yah, kira-kira begitulah. Untuk pertama kalinya, aku melihat rumah Sarah seolah melihat surgaaaaa~
Btw, pada akhirnya Mas Agung nggak jadi dateng gara-gara belom selese nge-print proposal GCM dan Praend-Linda-Ghora udah pulang.
Sarah ngasih tau aku kalo emang beneran ada Oreo rasa es krim dan dia menemukannya di kantin kejujuran FEB.

Smell ya later!
xx

Monday, April 12, 2010

Why I am Blogging

Hellooooooo :)
Sebelum masuk ke tema, mari kita lanjutkan rekap hasil UTS saya hihihi

Keempat, Manajemen. "Belajar" semampu saya. Keluar ruangan nomer dua karena udah nggak tau lagi mau nulis apa.
Kelima, Teknologi Informasi Pengantar. Tutup telinga untuk jawaban nomor 5.

Berarti tinggal Sos-Pol, KWN, Hukum Bisnis, dan Statistika Ekonomi I yang harus saya bantai sampai besok Jumat! At least, udah lewat separoh deh ;)

Oke, talkin about the title: Mengapa saya nge-blog??
Padahal aku yakin banget nggak banyak orang yang baca blog ini. Atau malah jaraaaaaaaaaaaaaaaaang banget ada yang baca. Suwer, saya jujur nih :)

Kalo ngebaca-baca blog orang lain kok kayaknya ceritanya seru-seru, lucu-lucu, nggak kayak ceritaku. Ngeliat banyak yang komen atau posting di shoutout box dan bilang "Blognya bagus bangeeeet, aku ngepens looooh" dan sebagainya. Iri? Nggak juga sih yaa. Mungkin ada, tapi dikit doang. Iri karena mereka punya kisah yang lebih  menarik daripada aku. Bukannya kalau punya kisah hidup yang seru, pasti idupnya nyenengin yaaa?? Sementara saya? Jagoan nyampah haha.

Kalo begitu, kenapa kok aku masih tetep blogging?

Banyak blogger yang ngeblog karena mereka suka nulis. Nah aku? Dibilang suka nulis juga enggak banget-banget (maksudnya suka nulis tapi bukan suka bangeeeeeeeeeeeeeett gitu). Soalnya, kalo mau tanya hal apa yang paling aku suka: tidur. Iye, beneran, sumpah. Hal yang paling suka aku lakukan adalah tidur. Or, at least, bermalas-malasan laaah~

Maybe doing nothing-lah yang membuat cerita hidup saya nggak begitu menariknya untuk ditulis.

Kembali lagi ke pertanyaan awal: kenapa tetep blogging?


Pertama, I'm an introvert person.
Suwer. Sumprit.
Walaupun tulisanku selalu keliatan haha-hihi , tapi itu semua sering enggak menggambarkan apa yang sebenernya pengen aku tulis. See? Bahkan di dunia maya, dan kemungkinan besar nggak akan terbaca orang, aku pun masih pengen nunjukin kalo aku happy-to-the-max. Kalo kata NSN sih gini:

"We should be happy".

Gitu.
Jadi, menulis di blog menjadi semacam terapi-sugesti buat aku bahwa aku senang. Bahwa hidupku tenang-tenang saja. Makanya aku cenderung nggak peduli apakah blog ku ada yang baca atau enggak.

Kedua, aku hanya butuh wadah untuk menuangkan 'kebocoran' yang bergolak dalam perasaanku. Ketika aku baru saja menghabiskan hari yang begitu menyenangkan, misalnya. Aku selalu nggak pernah sabar untuk segera online dan menulis apa yang terjadi padaku selama hari itu. Aku cuman nggak mau sesuatu yang 'bocor' itu hanya jatuh, menetes dari diriku, dan menguap begitu saja. Aku ingin mengingatkan diriku bahwa pernah ada hari yang begitu spesialnya, dengan orang-orang paling spesial untukku. Bahkan ketika hal yang buruk menimpaku, aku juga ingin mengingatkan diriku bahwa thing doesn't always come good. Selalu ada titik balik dalam hidup, dan aku harap dengan tulisanku yang (bagiku) emosional, aku dapat meresapi hikmahnya suatu hari nanti.

Dan terakhir, aku punya harapan kalo blog ini nggak akan tergantikan. Nggak kayak blog ku yang dulu, yang ngilang gara-gara aku lupa password lah, atau gara-gara males nerusin lah.
Sebisa mungkin, bahkan kalau aku udah jadi ibu rumah tangga dengan dua anak dan tinggal di London, blog ini selalu ada. Soalnya aku pengen kelak, ketika aku membaca-baca blog ini dari posting pertama (yang umumnya nggak penting-penting banget semacam "Waaah akhirnya aku punya blog" dan semacamnya ;p), blog ini menjadi semacam atraksi A-Journey-to-the-Past. Mengingat-ingat kembali betapa bersemangatnya diriku saat ini, bahkan ketika aku sedang menulis posting yang ini sambil mendengarkan ngoroknya kakakku, betapa diriku yang masih muda ini masih dipenuhi semangat dan harapan mengenai masa depan. Betapa menyenangkannya meniti jalan menuju cita-cita. Dan aku pun berharap cita-citaku tercapai, sehingga ketika kelak aku menikmati atraksi A-Journey-to-the-Past ini, aku masih merasakan gairah yang sama.




So, smell ya again!
xx