Saturday, July 13, 2013

@lampsindofans' Preseason Project!

Helloooo~~

Pastinya udah pada tahu ya kalo Chelsea FC bakalan datang ke Jakarta, Indonesia pada 25 Juli nanti! Finally, ya mereka ke sini. Kan sirik juga sama Bangkok dan KL yang udah disamperin sama mereka, terakhir tahun 2011 silam :')

Nah, untuk merayakan kedatangan mereka ke sini, kami dari @lampsindofans mau mengajak teman-teman semua fans Chelsea FC, terutama Frank Lampard, untu berpartisipasi dalam Preseason Project kami!
Wujud Preseason Project kami seperti ini nih...

Sampul depan
Sampul belakang

Sampul bagian dalam


Yap, itu adalah notebook dengan sampul berbahan kayu dan sosok Frank Lampard diukir pada sampul depannya! :)

Caranya gampang banget dan ngga belibet. Kalian cuman perlu mengikuti caranya di bawah ini ;)

1. Tuliskan sebuah pesan atau testimoni untuk Lampard sepanjang maksimal 20 kata. Kalau mau lebih juga boleh, asal enggak kebablasan sampe 100 halaman yak. Emangnya skripsi? :')
2. Kirimkan pesan tersebut melalui e-mail ke lampsindofans[at]gmail.com paling lambat Minggu, 21 Juli 2013.

Nah, rencananya, notebook tersebut akan kami tulisi dengan pesan-pesan atau testimoni dari kalian. Mengapa? Karena kami ingin Lampard tahu bahwa dia punya banyak dukungan dari Indonesia, bahwa ada banyak fans yang mendukung dan mencintai dia! :D

Notebook tersebut akan kami serahkan langsung ke Lampard. Mengingat keamanan yang akan sangat ketat di sini, kami akan berusaha dengan maksimal! Doakan kami yaaa~ *pose ala JKT48*

Dan sedikit bocoran dalam rangka ulang tahun akun @lampsindofans bulan depan, kami sudah mentiapkan kompetisi dengan hadiah yang super menarik! Hadiahnya apa? Kompetisinya apa? Masih ra-ha-si-a :p
Yang jelas, kompetisi tersebut akan berkaitan dengan preseason Chelsea di Jakarta. Buat yang dateng, jangan sia-siakan momen tersebut ya! Dan hadiahnya? Uuuuww... pokoknya asik dan seru!

Sekarang ikut Preseason Project dulu yak. Ayo, kami tunggu e-mail kalian! :D



Friday, March 8, 2013

"Ada apa?"

Buat saya, semua hubungan manusia -apapun namanya- tidak akan berjalan baik jika hanya satu pihak saja yang bekerja agar hubungan tersebut berjalan. Bayangkan saja mesin; satu komponen saja yang bertingkah "ngeyel", mana mau si mesin berfungsi dengan baik meskipun komponen yang lain menjalankan tugas seperti adanya.

Pernah merasakan dirimu sendiri muak akan sebuah hubungan karena hanya dirimu sendiri yang sepertinya berjuang agar hubungan itu berjalan dengan baik? Kamu yang berusaha agar selalu ada kontak di antara kamu dan dia. Kamu yang selalu meluangkan waktu untuk bertanya, "Ada apa?", setiap kali berjumpa. Dan kamu yang selalu berusaha bertemu meski kalian sama-sama sibuk.

Saya sedang dan sudah mengalaminya. Dan, saya putuskan saya muak.
Saya putuskan saya keluar saja dari hubungan ini.
Saya sakit hati.

Hanya karena dia orang yang besar di lingkungan keluarga yang sangat mudah memahami dia, apa pantas mengatakan bahwa "orang yang bertanya, 'Ada apa?', hanyalah orang yang ingin tahu dan tidak sungguh-sungguh peduli"?
Sungguh, itu menyakitkan hati saya.
Bagaimana bisa menyamakan orang yang sungguh peduli, namun tidak cukup waktu untuk bertemu setiap hari, dengan orang yang memang tidak benar peduli dan sekadar ingin tahu urusannya?
Lalu, saya harus bagaimana untuk menunjukkan kepedulian saya selain dengan bertanya, "Ada apa?"

Sungguh, saya bukan orang tuanya yang bisa dengan mudah bertemu dengannya setiap hari dan bisa dengan mudah mengetahui ada sesuatu terjadi padanya. Namun, apa saya tidak boleh mencoba untuk menjadi seorang rekan dan sahabat yang baik?

Dan caranya menanggapi kekesalan saya sungguh tidak pantas untuk dijadikan bahan bercandaan.
Ya, saya tahu, memang begitu cara dia menanggapi seseorang yang bersikap ketus. Namun, saya benar-benar sakit hati akan sikap dan keputusannya hari itu. Dan, reaksinya hanya membuat hal lebih buruk.

Jika berkaitan dengan perasaan seseorang, saya bahkan tidak akan bersikap sarkas seperti saya biasanya, lho.

Jadi, saya butuh kamu agar hubungan ini berjalan baik. Tapi, kamu tampaknya juga tidak peduli-peduli amat dengan bagaimana jalannya hubungan ini. Saya juga muak sendirian berusaha dan berjuang agar hubungan yang sudah ada sejak saya lahir ini berfungsi baik.

So, I decided to better quit since I am not a kind of woman who asks, "What's wrong?", just because of my curiosity. I do care. But does that matter for her?


This is what makes us girls. We don't stick together cuz we put our loves first.
--What Makes Us Girls by Lana del Rey (2012)

Wednesday, December 19, 2012

Potensi dan Sinergi



Potensi dan Sinergi
oleh: Kikin Sakinah Nur Safira
Mahasiswi Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomika dan Bisnis
Universitas Gadjah Mada


     Yogyakarta, sebagai ibukota Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terkenal akan predikatnya sebagai kota pelajar dan kota budaya. Kentalnya nuansa budaya –terutama tradisional– di sini menjadikan anak budaya sebagai pemikat para wisatawan untuk menikmati uniknya Yogyakarta, dengan Keraton Yogyakarta sebagai pusatnya. Para anak budaya itu adalah berbagai produk kesenian, seperti tari dan musik, hingga kulinernya yang khas seperti gudeg.
     Kayanya legenda, mitos, serta sejarah yang tersebar di penjuru DIY menjadikan berbagai tempat menarik untuk dikunjungi. Selain Keraton, ada pula Benteng Vredeburg, Candi Prambanan, Candi Boko, serta berbagai pantai yang menyebar di garis pantai selatan Yogyakarta. Seluruhnya telah lazim diketahui dan hampir semua telah dikembangkan menjadi objek wisata yang terkelola. Namun, itu saja kah potensi pariwisata yang terdapat di DIY?
     Kata ‘Yogyakarta’, saat ini tidak sekadar merujuk pada wilayah administratif Kotamadya Yogyakarta saja. Yogyakarta telah merujuk pada keseluruhan wilayah DIY, terutama bagi turis maupun pendatang. Misalnya adalah label Yogyakarta sebagai kota pelajar dan terkenal akan Universitas Gadjah Mada (UGM), yang merupakan salah satu universitas terbaik di Indonesia. Pada kenyataannya, UGM secara administratif berada di Kabupaten Sleman.
     Dengan dikenalnya Yogyakarta sebagai kota pelajar, terdapat banyak pendatang dari luar kota yang menuntut ilmu di sini. Banyak dari pelajar yang berusia muda itu, baik pendatang maupun penduduk asli, dibekali dengan kreativitas tinggi. Kentalnya nuansa budaya di Yogyakarta, digabung dengan ide-ide baru nan segar, kerap kali melahirkan konsep kesenian baru, atau yang lebih dikenal sebagai budaya kontemporer.

Seni Kontemporer Saat Ini
     Seni rupa kontemporer, menurut Suwarno Wisetromo, tidak memiliki definisi tunggal. Kurator sekaligus dosen Institut Seni Indonesia ini menambahkan bahwa keberadaan kontemporer “ada karena eksistensi sesuatu yang klasik, yang menjadi tumpuan perkembangan seni tersebut (kontemporer)”. Hal ini dapat dibuktikan dari apa yang seorang pelaku tari terkenal, Didik Nini Thowok, yang tak segan mengembangkan seni tari yang dilakoninya ke dalam kreasi baru yang ia sebut sebagai tari komedi.  Tari komedi ini masih berakar kebudayaan Jawa, namun bersifat ringan, menghibur, dan menceritakan kehidupan sehari-hari. Ia pun memprediksi bahwa tari kontemporer dan tari kreasi baru akan tetap memiliki banyak peminat di masa depan.
     Prediksi ini dapat terbukti nyata dengan membanjirnya ide-ide segar dari para pemuda penikmat dan pekerja seni di Yogyakarta. Dari segi musik, saat ini telah banyak pertunjukan yang menggabungkan musik modern dengan musik tradisional. Salah satu contohnya adalah kelompok musik bernama Hip-Hop Foundation. Pun ada Wayang HipHop yang menggabungkan kesenian wayang dengan musik hip hop, yang didirikan oleh Ki Dalang Catur Benyek Kuncoro.


Potensi yang Memerlukan Atensi
     Menurut Berita Resmi Statistik yang dirilis BPS pada 3 September 2012, rata-rata tamu menginap per hari di Indonesia mengalami penurunan sejak 2010. Namun, jika ditilik pada data per propinsi, rata-rata justru meningkat di DIY. Meskipun rata-rata hari tersebut masih kalah dibandingkan Bali, peningkatan ini dapat disebut sebagai sinyal baik bagi pariwisata DIY. Terlebih, dengan penambahan jumlah hotel di Yogyakarta saat ini, serta konsep MICE (Meeting, Incentive, Conference, Exhibition) oleh Pemerintah Propinsi DIY, diharapkan bahwa waktu tinggal wisatawan dapat ditingkatkan menjadi lebih panjang. Dampaknya, jumlah penghuni di Yogyakarta pun turut bertambah.
     Sinyal baik ini sebenarnya mampu mendukung perkembangan seni kontemporer di Yogyakarta. Para wisatawan tersebut adalah expected consumers atau konsumen harapan atas kesenian tersebut. Sejalan dengan perkembangan seni kontemporer yang dinamis, kesenian kontemporer menjadi tak ada habisnya untuk dinikmati. Setiap tahun, bisa jadi ada seniman-seniman baru muncul dengan ide lain yang tak kalah segar. Pemain lama sendiri banyak yang tak lelah mengembangkan kesenian yang ia tekuni agar tak sekadar memiliki nuansa eksotisme Jawa yang menarik. Namun juga menyajikan sisi kesegaran ide; menjadi sebuah ‘kejutan’ bagi penikmatnya.
      Dengan potensi keduanya yang sama-sama besar, diperlukan adanya atensi lebih seperti promosi. Janganlah para seniman kontemporer ini tak terdengar gaungnya, hanya karena mereka masih muda dengan ‘komoditas’ seni yang tak terlalu mudah diterima penikmat seni pada umumnya. Menurut saya, dengan perkembangan internet saat ini, pemanfaatan situs pemerintah terkait seperti Dinas Pariwisata dapat dijadikan sarana untuk mengenalkan para seniman ini ke dunia luar.
     Pemanfaatan e-government pada Dinas Pariwisata Propinsi DIY dapat dikembangkan lebih jauh dengan adanya basis data para seniman di penjuru DIY. Lebih jauh lagi, mereka diperkenankan untuk memiliki laman profil layaknya jejaring sosial saat ini, sehingga mereka dapat memperbaharui informasi terkait jadwal pertunjukan maupun pameran seni mereka. Harapannya, informasi tersebut dapat dimanfaatkan bagi para wisatawan dalam merencanakan kunjungan mereka selama di Yogyakarta, terutama yang terkait dengan kesenian.

Yang Juga Perlu Diperhatikan
     Pengembangan pariwisata juga tidak lepas dari fungsi lainnya. Yang hendak saya soroti di sini adalah transportasi di Yogyakarta, terutama transportasi umum, yang menurut saya belum menunjang sisi pariwisata.
     Sebagai pengguna jasa transportasi umum dalam kehidupan sehari-hari, pernah saya dapati kondektur angkutan umum yang tidak mau mengangkut wisatawan mancanegara (wisman). Padahal, wisman tersebut jelas-jelas sudah mencegat bus. Pernah juga saya dapati pramugara bus hijau yang saya anggap kurang membantu seorang wisman, yang kebingungan harus turun di halte mana agar dia bisa meneruskan perjalanan menuju Pantai Samas. Ketika saya konfirmasi pada pramugara tersebut, ia berkata, “Sudah, Mbak. Sudah saya bilang, ‘Don’t worry,’ gitu.” Mungkin ia memang memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi menggunakan bahasa asing, minimal bahasa Inggris. Namun, tindakan yang ia berikan pada wisman tersebut terbukti tidak solutif, hingga saya yang harus menjelaskan bahwa ia harus turun di halte ke berapa dari Malioboro agar bisa melanjutkan perjalanan.
     Bagi saya, perbaikan pada sektor transportasi umum ini memerlukan reformasi besar-besaran. Memang, bus hijau melayani jauh lebih baik dibandingkan bus kota lainnya. Calon penumpang dapat memeroleh informasi melalui halte perihal trayek yang perlu ditempuh untuk mencapai tujuan. Namun, segi layanan perlu diasah lebih tajam. Sumber daya manusia harus dibekali kemampuan berbahasa asing yang memadai untuk menghadapi wisatawan asing, minimal percakapan singkat dalam memberikan informasi perihal bagaimana wisatawan tersebut dapat mencapai lokasi tujuan.
     Selain itu, dalam keterkaitan ide mengenai pemanfaatan situs Dinas Pariwisata dalam menunjang seni kontemporer pada poin sebelumnya, perlu diberikan informasi perihal moda transportasi apa yang dapat ditempuh untuk mencapai lokasi. Menurut saya, hal ini perlu karena sering kali lokasi pementasan atau pameran mengambil tempat bukan di area perkotaan.

Sinergi
     Tak pelak, peningkatan jumlah wisatawan, baik asing maupun lokal, semestinya didukung dengan fasilitas transportasi maupun akomodasi yang memadai. Terlebih, keinginan untuk meningkatkan lama waktu wisatawan tinggal di Yogyakarta melalui MICE tentunya menuntut urgensi kelayakan infrastruktur penunjang.
     Dukungan pada transportasi akan membantu mereduksi kepadatan jalan. Bila tidak, pemandangan mobil-mobil pribadi yang berjejalan di jalanan juga tetap akan menjadi pemandangan lazim kala musim liburan. Kemacetan ini pun mengurangi efisiensi angkutan umum, terlebih bus hijau yang mempergunakan subsidi, serta mengurangi kenyamanan saat tinggal di Yogyakarta.
    Bagaimana rupa pariwisata Yogyakarta tidak dapat ditentukan dari cetak biru milik Dinas Pariwisata semata. Diperlukan adanya sinergi, yang diawali dari perbaikan infratruktur dan sumber daya manusia yang dapat bersinggungan dengan sektor pariwisata, agar pariwisata Yogyakarta terus berkembang mengikuti dinamika zaman tanpa harus melepaskan akar tradisionalnya. Selain itu, tak sekadar dukungan moral, dukungan finansial pun perlu digenjot untuk membesarkan kesenian kontemporer ini. Gelaran seni seperti Biennale, ART|JOG, dan semacamnya perlu didukung lebih serius. Jangan sampai pemerintah kalah oleh salah satu yayasan yang juga bergerak di bidang kesenian, yang rajin mensponsori berbagai acara seni tak hanya di Yogyakarta tapi juga di skala nasional.



REFERENSI
Adikta, D.D. dan Nurdiana, S.R., 2011. “Rupa Berhiaskan Harapan”. Equilibrium, No. XIII, 2011, h.
        45-46.
Badan Pusat Statistik, 2012. Berita Resmi Statistik No. 58/09/Th. XV, 3 September 2012. [pdf] Jakarta: Badan Pusat Statistik. Tersedia di: www.bps.go.id/brs_file/pariwisata_03sep12.pdf [diakses pada 18 Desember 2012].
Maharini, E. dan Indri, M., 2011. “Tari Kreasi Baru: Wujud Kebebasan Berakar Tradisi.”. Equilibrium,
        No. XIII, 2011, h. 47-48.
P. A. Kemal, et al., 2012. “ Menengok Rapor Merah, Menelisik Masalah.” Equilibrium, No. XIV, 2012,
        h. 18-20.

Friday, October 5, 2012

Melompat Keluar Lingkaran (bukan cerita soal beruang sirkus)

Selamat datang, semester tujuh :)

Iyaaaa, saya sudah tua sekarang. Sudah masuk angka tahun ketika adik-adik yang lebih muda akan bertanya: "Kapan skripsi?" Dan mereka yang lebih tua akan merespons: "Wah, sudah mau lulus, ya?"
Padahal, jawabannya adalah, "Belum." :p

Saya bukan mahasiswa-kelas-ekspress yang sudah mencicil skripsi dari semester silam, meskipun proposal skripsi dari mata kuliah Metopen sudah selesai. Tapi memang belum jatahnya skripsian semester ini, baik formal maupun informal. Selain masih mengambil cukup banyak jatah SKS yang harus diselesaikan (bukan ngulang, lho :p), masih ada pekerjaan sampingan yang cukup menyita waktu. Jadi, status mahasiswa ini mungkin akan masih melekat selama dua semester ke depan, jika rencana saya berjalan mulus :-)

Terlepas dari kerempongan semester 7 sejauh ini, semester ini terasa cukup menyenangkan bagi saya. Biarpun tugas menumpuk, pekerjaan membanjir, namun saya bisa melakukannya dengan cukup rileks :)

Apa yang saya nikmati saat ini adalah bagaimana saya bisa berada di luar 'lingkaran' tempat saya biasa berada, meskipun 'lingkaran' itu juga bukan saya sengajakan melibatkan saya. Ya, 'lingkaran' itu muncul hanya karena kawan dekat saya terlibat dalam 'lingkaran' itu, sehingga mau-tak-mau saya ikut terbawa. Habis, kalau mau main sama dia, juga pasti terlibat di sana sih.

Pertemanan itu bukan hal yang kompleks, namun juga tak sesederhana bernapas. Bahkan, bernapas melibatkan proses di dalam tubuh yang nyatanya tak sependek mengetik huruf A. Bagi saya, membangun hubungan pertemanan yang baik itu perlu. Ya, tak perlu memandang faktor-faktor lain seperti kaya-miskin, gaul-cupu, warna kulit, dan sebagainya, sebuah hubungan baik harus diciptakan. Sebab, siapa bisa menyangka bahwa kelak kita justru akan berhubungan dengan mereka dalam frekuensi yang lebih intim? :)

Sebuah ikatan mental atau emosi adalah tahapan yang lebih jauh dari hubungan pertemanan tersebut. Mungkin itu yang membuat dua atau lebih manusia merasakan kedekatan yang lebih dan menamai diri mereka: sahabat.

Saya sendiri bukan tipikal orang yang mudah lekat dengan seseorang atau suatu 'lingkaran'. Saya nyaman seperti ini, mengenal banyak orang dan menjalin hubungan pertemanan yang baik, tanpa banyak bumbu drama. Saya tidak mudah menyebut seseorang lain sebagai 'sahabat', karena saya tahu terma tersebut memiliki arti lebih dari sekadar kata-kata seperti dalam KBBI. Ada ikatan emosi yang terbentuk di sana, tumbuh dari rasa percaya, aman, dan nyaman.

Saya merasa beruntung memiliki karakter seperti itu.

Tepat ketika saya hendak menginjak usia dua-puluh-satu, saya menyadari (setelah ada jarak karena waktu dan kesibukan, serta introspeksi atas diri sendiri) bahwa mungkin, selama ini, saya telah memilih orang-orang yang salah untuk berada di sekitar saya. Bahwa saya mengenal lebih banyak orang yang jauh memberi kepuasan batin dan mampu memberikan kenyamanan, membuat saya makin menyesali diri sendiri.

Perihal saya telah memilih orang-orang yang salah, itu bukan berarti mereka adalah orang yang tidak tepat untuk dijadikan kawan. Bukan seperti itu. Do not get me wrong.

Saya melihat manusia seperti kepingan puzzle: satu keping dapat melengkapi dan menyempurnakan susunan puzzle menjadi sebuah gambar yang cantik. Ya, mungkin kami adalah kepingan puzzle yang berbeda, dan melengkapi gambar yang berbeda pula. Sehingga, di sini maksud kata salah bukan berarti mereka adalah orang yang salah dan tidak pantas untuk ditemani. Saya sudah cukup dewasa untuk memahami bahwa kesalahan tidak selamanya terletak pada diri orang lain. Mungkin saja selama ini saya yang salah, tetap memaksa memasangkan kepingan puzzle saya di tempat yang salah.

Dan saat ini, saya mendapat kesempatan untuk melompat keluar dari 'lingkaran' tempat saya biasa berada. Bukan hal yang rumit, mengingat nyaris tiadanya ikatan emosi yang mengikat saya dengan mereka.




Hal yang menyenangkan dari melompat keluar saat ini adalah kesempatan untuk mengenal lebih banyak orang. Saya lebih senang mengenal orang lain menurut subjektivitas saya sendiri, bukan menurut subjektivitas orang lain. Dan memang, hal ini jauh lebih menyenangkan dilakukan. Rasanya seperti berpetualang :-D

Ada seseorang. Dan tanpa harus 'termakan' cerita tentang seseorang tersebut, saya mendapati ia adalah orang yang cukup menyenangkan. Selain itu, saya juga bisa mengenal lebih jauh orang-orang yang telah saya kenal sebelumnya. Namun, menyenangkan bisa mengenal mereka secara lebih dekat. Dan saya mendapati sedikit cerita pribadi mereka, yang membuat saya paham mengapa mereka menjadi orang yang seperti itu. Yang lebih menyenangkan lagi adalah bahwa ada orang-orang yang cocok dengan saya: kepribadian, visi, dan keinginan untuk terus bekerja keras. Karena bagi orang-orang seperti saya, hidup itu campuran seperti Kacang Segala Rasa Bertie Botts; kadang rasanya enak seperti cokelat, kadang rasanya menjijikkan seperti rasa kotoran telinga (bukan berarti saya pernah mencoba, tapi tanpa mencoba saja sudah terdengar menjijikkan, kan?).

Namun, ada kalanya saya merasa harus merubah sedikit sudut pandang saya. Mungkin, selama ini kepingan puzzle saya yang justru menggunakan persepktif yang berbeda. Seperti kedua gambar berikut ini:



Dan bila saya mau membalik perspektif saya, sebenarnya selama ini saya berusaha melengkapi puzzle yang sama! :)

Tuesday, September 4, 2012

Mwathirika Buat Saya


30 Agustus 2012 silam adalah kali kedua saya menyaksikan pentas Papermoon Puppet Theatre. Lakon yang diambil kali ini berjudul Mwathirika, diambil dari bahasa Swahili, yang berarti ‘korban’. Kali ini, saya menyaksikannya bersama Ana, Diba, dan Yoga, bocah tengil redaksi sekaligus mahasiswa jurusan Akuntansi 2011. Sayang seribu sayang, Faradilla yang menemani saya saat menyaksikan Setjangkir Kopi dari Plaja harus absen lantaran sedang menghadapi realita kehidupan berupa cacar air.

***

Baba, Tupu, Moyo, Haki, dan Lacuna. Tidak ada yang salah dengan kehidupan mereka. Tidak ada yang salah dengan Baba, sosok pria bertangan-satu yang begitu menyayangi Tupu dan Moyo. Tidak ada yang salah dengan Haki serta Lacuna yang berkursi-roda. Pun tidak dengan peluit merah yang dikalungkan di leher Moyo serta Tupu.

Alkisah, mereka hidup di zaman pemberontakan PKI.

Lantas, segitiga merah ditorehkan di jendela rumah mungil Baba, yang menyebabkan Haki tetiba berubah perangainya; menjauhi keluarga Baba dan melarang Lacuna bermain dengan Tupu. Kemudian, Baba dibawa pergi sosok-sosok bertopi hijau yang menentengi senjata api berlaras panjang.

Bilang saya cengeng atau kelewat sensitif, namun air mata saya tak bisa ditahan sejak Baba digiring pergi oleh para sosok-bertopi-hijau tersebut. Sejak Baba harus memperbaiki dulu mainan kuda-kudaan Tupu. Sejak Baba menciumi dahi Tupu dan Moyo. Dan air mata saya tidak berhenti mengalir sejak itu.



Tupu
Tupu adalah tokoh favorit saya. Masih ingat saya adegan di pagi hari, saat ia bangun tidur. Mengucek mata. Lantas kencing berdiri. Saya ingin melihat Tupu hidup di dunia dan masa yang lebih bahagia. Saya ingin melihat Tupu lebih banyak tertawa serta bergembira bersama Moyo, tanpa harus mencari pengertian mengapa Baba dibawa pergi. Tanpa keduanya harus menanti Baba. Tanpa Moyo harus mencari ke mana Baba pergi. Tanpa Tupu harus ditinggal sendiri.

Saya ingin ketiganya hidup bahagia, pada masa tiupan peluit merah Tupu tidak perlu terdengar begitu memilukan…

Dan pada masa ketika saya tidak perlu takut melihat Lacuna meniup peluit Tupu.

***
Belum pernah saya mendengar suara peluit yang terdengar begitu memilukan, hingga akhirnya saya menyaksikan Mwathirika. Apakah Baba, Tupu, Moyo, Haki, dan Lacuna benar adalah ‘korban’ dari apa yang diperangi negara? Atau mereka sekadar ‘korban’ dari waktu; mereka ‘hanya’ hidup di masa yang salah, ketika Baba, Tupu, dan Moyo sama sekali tidak paham mengapa harus ada segitiga merah yang tertoreh di rumah mungil mereka serta Haki hanya paham bahwa segitiga merah tersebut adalah tanda bahwa si empunya rumah harus dihindari.

Perasaan, bagi saya, adalah bahasa universal. Tak perlu banyak kata, tak perlu banyak dialog nan klise. Mood yang dibangun sepanjang pertunjukan Papermoon ini adalah bahasanya, adalah dialognya. Musik, setting, alur cerita, pencahayaan. Karenanya, saya sangat yakin pementasan-pementasan Papermoon akan sukses meski ditampilkan di luar negeri. Termasuk di Negeri Paman Sam bulan September ini.

Saya berjanji, ini bukan pementasan terakhir yang saya saksikan. Mwathirika ini akan menjadi yang kedua dari sekian pementasan Papermoon Puppet Theatre di masa depan yang akan saya tonton kelak!

Hanya sayang, pada pementasan ini saya tidak membawa kamera :(

Friday, July 6, 2012

#Lampsindofans2ndAnniversary Competition



Right after we gave three @lampsindofans’ t-shirts to three winners of our essay competition due our 1st anniversary, now we’re going to give a Chelsea 2012/13 home jersey for FREE, presented by @lampsindofans and Jersey Station (@Your_JerseyShop).

What you have to do to win the jersey is to join our #Lampsindofans2ndAnniversary Competition:
  1. First, you must follow our account (@lampsindofans) and Jersey Station (@Your_JerseyShop), for sure! ;)
  2. Draw a poster about Chelsea and Lampard, with no help of digital software like Corel or Photoshop. It must be drawn on a sheet of A3-sized paper. You may use crayons or colouring pen to colour the picture you’ve drawn. Be creative! :D
  3. When you’ve finished your picture, take a photo of your poster using a good camera that could produce a high-resolution photo. So, we can see your photo better!
  4. Then, e-mail the poster to lampsindofans@gmail.com BEFORE AUGUST 10, 2012 with subject “#Lampsindofans2ndAnniversary Competition”.
  5. Tell us the story behind the poster (e.g.: reason why you admire Lampard). Do not forget to write your name, Twitter username, and your home address on the message body.

 So, what are you waiting for? Get the paper, draw the poster, and e-mail us! :)



Setelah memberikan tiga kaos @lampsindofans kepada tiga pemenang dari kompetisi esai pada ulang tahun pertama @lampsindofans, sekarang kami akan memberikan satu jersey kandang 2012/13 Chelsea persembahan dari @lampsindofans dan Jersey Station (@Your_JerseyShop).
Untuk memenangkan jersey tersebut, kalian harus mengikuti #Lampsindofans2ndAnniversary Competition:
  1. Pertama, tentu kalian harus mengikuti akun kami (@lampsindofans) dan akun Jersey Station (@Your_JerseyShop)! ;)
  2. Gambar sebuah poster mengenai Chelsea dan Lampard, tanpa bantuan perangkat lunak digital seperti Corel tau Photoshop. Poster harus digambar dalam kertas berukuran A3. Kalian dapat menggunakan krayon atau spidol untuk mewarnai. Yang kreatif ya! :D
  3. Ketika posternya sudah selesai, foto postermu menggunakan kamera yang bagus yang menghasilkan foto beresolusi tinggi. Jadi, kami bias melihat postermu dengan lebih jelas!
  4. Kemudian, kirim postermu melalu e-mail ke lampsindofans@gmail.com SEBELUM 10 AGUSTUS 2012 dengan subjek “#Lampsindofans2ndAnniversary Competition”.
  5. Ceritakan kepada kami cerita di balik poster yang kalian buat (contoh: mengapa kalian mengagumi Lampard). Jangan lupa tulis namamu, nama akun Twitter-mu, dan alamat rumahmu dalam e-mail.


Jadi, apa yang kalian tunggu? Ambil kertas, gambar posternya, dan kirim ke kami! :)

Wednesday, June 6, 2012

This.

Photo's taken by me.


"The stars are blazin like rebels diamond cut out of the sun when you read my mind."
The Killers