Sunday, July 31, 2011

(Late Post) Minggu Sore Bersama Diba, Ana, dan Adit ♥

Berikut adalah secuil kisah liburan saya, di sela rapat Simfoni 2011...

Minggu sore, 17 Juli 2011, saya bersama teman-teman saya Diba dan Ana (klik nama mereka untuk membuka laman blog mereka :3) mengunjungi event bertitel Galau Exhibition (serius, nama event nya itu -___-) di Taman Pintar. Oh ya, tak lupa si kecil Adit, adik Ana yang paling disayang, juga ikut. Tampangnya yang cengengesan, gigi atas yang ompong dua biji, dan kulit legamnya tak jauh-jauh dari kami. Di akhir event, dia sempat naik meja dan berjoget patah-patah ala Anisa Bahar lantaran mendengar musik ajep-ajep yang menggelegar dari speaker. Dahsyat!

Well, Galau Exhibition (saya lupa kepanjangannya. Semacam Gaul, Atraktif, lalala atau apalah!) adalah event gawean anak-anak SMA se-Jogja. Ada bermacam stand di sana, mulai dari stand masing-masing SMA yang berpartisipasi, stand Klastik Yogyakarta, sampai pet lover. Ada kucing dan hamster yang lucu-lucu di sana >///////<

Selain stand, ada pula penampilan dari beberapa band indie seperti Jasmine, Brilliant at Breakfast, dan Answer Sheet. Untuk nama terakhir, saya beri kredit atas penampilannya yang oke dan lagu-lagunya yang sip. Band ini terdiri atas dua cowok yang memegang instrumen ukulele dengan lagu-lagu yang bikin saya seketika jatuh cinta! Kalian bisa download lagunya disini :)

Kelar Galau Exhibition (dan ngeliat Adit joget di atas meja), kami berjalan sejenak keluar area Taman Pintar untuk menikmati semangkuk bakwan kawi. Di sana, saya dan Diba menggosipkan seseorang yang sama-sama kami kenal. Karena itulah Diba semakin yakin kalo saya bikin dunianya sempit ("-_______-)/*

ART|JOG|11 adalah tujuan kami berikutnya. Ini adalah pameran seni yang diadakan di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) dan baru saja berakhir pada 29 Juli 2011 kemarin. Seperti gelaran pada tahun-tahun sebelumnya, halaman TBY disulap menjadi pemandangan yang berbeda: galian sedalam kurang-lebih 1.5 meter dan menjadi 'rumah' bagi kepala bayi yang terbuat dari tanah liat. Si Kepala Bayi dibuat sebegitu detailnya sampai-sampai saya bisa melihat Si Bayi ngiler. Tidurnya tampak pulas sekali!

Seolah tak ingin mencapai antiklimaks, isi TBY turut disulap dengan isi-isi yang menakjubkan. Seperti TV Eye yang imut-imut dan unik, proyek Burn Your Idol yang keren, serta replika toilet yang komplit dengan "sesuatu"-nya (yang meskipun imitasi, terlihat sangat riil :B). Saya tak sempat memotret banyak-banyak, lainnya bisa kalian lihat di blog milik kedua kawan saya :)

Bersama empus ucu :3

Dua gadis genit ;p


Si Bayi Tidur



TV Eye yang masih belum ber-rupa.







Entah mengapa, ini mengingatkan saya pada Octopus-nya Diba  [karena Octopus = gurita = mecucu] :))


Bukan karena tampang saya yang ngebet makan si Adir, tapi Adit emang berat men!












Coming up next: foto-foto dari Momo si Disderi edisi 3 dan 4! :)

Friday, July 8, 2011

Bagaimana Cara Mengeja 'LIBURAN'

"Libur telah tiba, libur telah tiba
Hore! Hore! Hore!
Simpanlah tas dan bukumu
Buanglah keluh kesahmu
Libur telah tiba, libur telah tiba
Hatiku gembira!"


Okay, semacam itulah liburan ala anak SD. Kalau untuk anak kuliahan macam saya, mungkin liburan akan menjadi seperti ini:

"Libur telah tiba, libur telah tiba
SP! SP! SP!
Tetap pakai tas dan bukumu
Perbaikilah nilaimu
Libur telah tiba, libur telah tiba
Aku tetap kuliah!"


Ehem.

Boleh pamer nggak? Liburan ini saya bebas SP. Jadi, lagunya bakalan kayak gini... *nggak jadi ditulis karena dilemparin bakiak sama yang lagi SP*
Alasan mengapa saya nggak ambil SP bukan karena nilai saya straight A semua. Tapi, kendala ada di dosen. Plus, niat sudah tinggal separoh untuk mengikuti SP. Akhirnya saya mantabkan jiwa dan raga untuk menikmati liburan secara penuh!

Ups, secara penuh? Tidak juga, apabila yang ada di kepala kalian adalah liburan dengan bersantai di tepi pantai sambil merasakan hembusan angin nan sepoi yang menyibakkan rambut disertai pemandangan lelaki berbadan yummy berkeliaran di depan mata *!&$^!*#(&(!*@&!&*^$&*^!&*#@^(!*@&*!(@!*#&*$^(&@ (pengen sih ;p).
Sebenarnya, rencana saya di liburan kali ini adalah:

1. Menggambar pakai fabric crayon yang sudah saya beli jauh sebelum UAS. Fabric crayon adalah krayon yang bisa digunakan untuk menggambar di permukaan kain. Rencananya, saya ingin membuat tote bag yang berhias gambar-gambar yang saya buat sendiri.
Oh, I believe there would be LOTS of fun with this! ♥


2. Belajar membuat macaroon! Demi apalah, saya benar-benar penasaran dengan makanan ini! Dan ternyata, resepnya (terlihat) tidak susah-susah amat sehingga saya yakin akan bisa membuatnya (kalau nggak keburu gosong).
They look so yummy, aren't they? :9

Seharusnya, tidak ada aral melintang untuk keduanya. Apalagi saya nggak SP. Tapi, ternyata liburan kali ini saya menjajal dua kesibukan baru: SIMFONI dan JOVED. Simfoni, alias Sosialisasi dan Inisiasi Mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis, adalah acara tahunan FEB UGM dalam menyambut para calon mahasiswa baru. Dan di tahun ini, saya berpartisipasi di dalam sie acara :) Sedangkan JOVED adalah lomba debat Bahasa Inggris dan saya bergabung sebagai LO.
Tidak buruk, sih. Justru saya jadi mencoba dua hal baru yang sebelumnya belum pernah saya cicipi. Semoga lancar :)

Di sie acara sendiri, saya bergabung dalam sub penugasan, di mana kerjaan saya nantinya adalah menentukan atribut untuk peserta Simfoni serta tugas-tugas yang harus mereka selesaikan. Partner saya di sub penugasan adala Putra, yang sepertinya sangaaaaaat bersemangat dalam mencari ide-ide untuk pekerjaan kami! Saya jadi ketularan bersemangat. Senang senang senaaaaaang :3

Dan karena banyaknya hal yang harus dikerjakan oleh sie acara, jadilah saya masih harus bolak-balik rumah-kampus sampai saat ini. Sering ada yang bertanya, "Kin, ngapain ke kampus? Kamu SP?" Dan ketika saya jawab enggak, pasti langsung ditanya, "Trus ngapain ke kampus?"
Huweeeee emangnya kampus di masa liburan cuman milik anak-anak yang SP? :'B

Tapi rasanya kok senang juga ya, jadi saya nggak perlu menyampah di rumah dan tidak melakukan banyak hal :p

Oh, iya. Akhir-akhir ini, disderi kesayangan saya si Momo sering sekali saya tenteng ke manapun saya pergi.

Momo di bilik EQ (soon to be the new ruang sidang) :3

Ingin semakin bertambah dekat dengan Momo dan menjepret apapun yang menarik di mata saya :)
Bahkan, di kepala saya sudah terbayang semacam proyek foto menggunakan Momo dengan tema tertentu. Aaaah, senang hihihi \:D/




Jadi, beginilah kira-kira 'nasib' liburan saya. Semoga jauh lebiiih menyenangkan dibandingkan yang diperkirakan!




K


Wednesday, June 29, 2011

Serpih

Selalu ada kesempatan dan waktu untuk bergerak maju, meninggalkan yang telah lalu. Dan ketika aku merasa aku telah melupakanmu, tak kusangka masih ada serpihan perasaan yang masih tertancap di hati. Serpihan yang terlalu kecil sampai aku tak sadar bahwa aku belum sepenuhnya bisa melupakanmu.

Aku masih sering mengkhawatirkanmu sebelum aku tidur: apa kabar dirimu hari ini? Bagaimana harimu? Apakah kau menemukan tembok besar yang menghalangimu untuk ke manapun?
Lalu, aku terlelap dan tidak memimpikanmu.

Aku tidak akan bilang rindu. Kekakuan ini telah menjadi keakraban yang baru di antara kita. Dan aku sedang belajar menikmatinya...

Thursday, May 26, 2011

Empat dan Dua

Ujian akhir semester sudah di depan mata. Dan apabila saya sukses menerjang badai yang menghadang tersebut, maka saya resmi telah menempuh studi selama dua tahun di akuntansi. Sebuah pencapaian bagi diri saya sendiri; sekarang pun saya masih takjub dengan diri saya yang mampu bertahan hingga sekarang.

Kawan-kawan di sekitar saya mungkin akan merasa cukup heran apabila mendengar saya, sejujurnya, tidak terlalu berminat kuliah di bidang akuntansi. Terlalu sering mereka mendengar saya yang menjawab dengan (mungkin) mantab ketika ditanyai, "Besok mau kuliah di mana?" ketika saya masih abege berseragam putih-abu. Akan tetapi, pada masa-masa itu, bukannya saya tidak pernah galau. Ada benturan antara permintaan (jika tidak ingin disebut dengan tuntutan) dari keluarga dengan impian saya pribadi yang mendamba menjadi mahasiswa ilmu hukum di bangku kuliah. Dan akhirnya, saya memilih menceburkan diri ke bidang studi akuntansi, dengan saran dari seorang guru bernama Pak Pur. Beliau berkata, "Jalani saja dulu apa mau keluargamu. Kalau nanti sudah lulus, silahkan berbuat semaumu." Dan dengan penuh rasa syukur, selama empat semester ini saya mengalami yang mungkin bisa saya sebut sebagai keajaiban restu orang tua. Entah bagaimana caranya, setiap saya merasa ingin menyerah berusaha dan terbentur suatu masalah, tiba-tiba jalan keluar muncul dan saya bisa menyelamatkan diri entah dari IP yang berantakan atau semacamnya.

Beberapa hari ini, entah mengapa saya tergerak untuk mengevaluasi diri sendiri: apa yang sudah saya lakukan sejauh ini demi memenuhi permintaan keluarga. Rencana untuk lulus dalam kurun empat tahun dengan IPK cum laude tampaknya bisa terwujud. Semakin saya ingat-ingat dan saya rasa, satu pertanyaan kemudian muncul di benak saya.

"Apakah saya senang?"

Satu pertanyaan itu cukup sederhana. Pun sangat mengena.
Jujur, saya bingung jika harus menjawab pertanyaan itu. Bukannya saya tidak tahu apa definisi kata 'senang' atau 'bahagia'. Tetapi, saya memang tidak tahu harus menjawab apa, karena saya sendiri tidak tahu apa perasaan saya sebenarnya.

Empat semester saya jalani dengan hampa. Tidak ada rasa kelewat puas menanggapi hasil baik, pun rasa gundah kala terhadang oleh halangan. Semua seperti tidak terjadi apa-apa. Biasa saja. Bahkan upaya keras yang dilakukan demi memperoleh nilai baik dari dosen yang terkenal sulit memberi nilai sempurna pun dilakukan tanpa motivasi ekstra. Seolah semua hanya kewajiban yang harus saya lakukan.

Semakin lama saya berkutat di sini, semakin sering saya temui kawan yang turut mempelajari bidang yang sama dan tanpa rasa cinta. Alasan seperti, "Karena disuruh orang tua," ketika ditanyai alasan mengapa memilih jurusan akuntansi seperti sudah jamak dan lumrah. Saya pun sadar: saya belum pernah bertemu kawan yang mencintai akuntansi.

Titah orang tua memang sulit dilawan, atau cap "durhaka" akan melayang dan menempel di wajah. Seperti pendosa. Akuntansi, yang dijalani dengan setengah — atau malah seperempat, seperdelapan? — hati, dianggap sebagai gerbang menuju masa depan yang cerah. Orang tua mana yang tak ingin anaknya jadi orang sukses? Akuntansi dibutuhkan di semua perusahaan. Mungkin alasan itu pula yang membuat bidang ini begitu laris manis diburu para calon mahasiswa baru.

Kian lama, saya merasakan ada sesuatu yang vital cenderung menjadi sesuatu yang sering diabaikan: hati. Meskipun berpeluh, hati saya akan selalu hampa dalam usaha untuk mencapai nilai sempurna, yang dilakukan bukan untuk diri sendiri. Bukan untuk memuaskan diri sendiri.

Saya tahu, suatu hari nanti saya akan berkarir, entah di bidang apa. Mungkin akuntansi, mungkin tidak. Yang saya takutkan adalah ketika saya memilih sebuah karir, yang di mana saya lagi-lagi tak bisa memilih, lagi-lagi saya harus membuat hati saya hampa selama bertahun-tahun. Puluhan tahun, mungkin. Dan tampaknya satu-satunya cara adalah saya harus belajar untuk segera mencintai bidang ini, atau saya akan membuat hati saya menderita di masa depan. Saya merasa bersalah pada diri sendiri..

Itulah, mengapa saya cenderung iri dengan mereka yang bisa merasakan senang dan susah dalam menghadapi dunia kuliah karena mereka memiliki privilege untuk memilih bidang apa yang ditekuni. Sekali lagi, mereka melibatkan hati untuk melalui semuanya. Dan keajaiban apapun yang ditimbulkan dari restu orang tua, tidak akan mampu menandingi indahnya kehidupan yang dijalani dengan rasa ikhlas.


Seorang kawan, Hariadi Adhari, mengometari saya yang sepertinya terlalu strict dengan diri saya sendiri, apabila berkaitan dengan kuliah. Dia menyarankan pada saya untuk sedikit 'melonggarkan' batasan yang saya terapkan pada diri sendiri. Diba pun mengiyakan. Dan Dito berkata, "Kita cuman muda dan jadi mahasiswa sekali."

Guess I'd rather hurt than feel nothing at all...
—Lady Antebellum

Pada akhirnya, saya hanya ingin menyampaikan bahwa memiliki kesempatan untuk bergumul dalam hal-hal yang dicintai adalah sebuah keistimewaan yang luar biasa :)

Saturday, May 14, 2011

Jepretan Disderi Pertama dan Kedua!

Ayayay, setelah film pertama rusak karena kebodohan saya salah muter film, akhirnya film yang berikut ini bisa di-publish :D
Berikut adalah foto-foto yang diambil menggunakan film hitam-putih. Dan ternyata, pake film kayak gini sebaiknya jangan dipake di tempat yang kelewat terang atau yang terjadi malah exposure kelewat tinggi alias terlalu terang! .__.
Yang berikutnya adalah foto dengan film berwarna, dan kebanyakan diambil di Semarang ketika minggu lalu saya mewakili EQ di penganugerahan ISPRIMA! :D

Dan tanpa tedeng aling-aling, here are my photos! :)



















Wednesday, May 4, 2011

Selamat Ulang Tahun, Ibu :)


2 Mei 2011
Karena kita berdua akan saling menjaga...

Monday, April 18, 2011

Meong yang Terbuang

Saya pengen pelihara kucing.

Itu keinginan yang selama sekitar tujuh tahun ini sulit untuk diwujudkan, mengingat terakhir kali saya memungut dua anak kucing terlantar, mereka adalah dua ekor makhluk yang hobi pup sembarangan. Imbasnya, jadilah saya yang didamprat oleh orang-orang serumah guna mempertanggung jawabkan hasil perbuatan dua anak pungut saya itu. Dan sejak saat itu, memelihara kucing seolah menjadi impian tak terwujud.

Namun, beberapa hari yang lalu secara tiba-tiba, tanpa angin tanpa hujan, serasa ada hujan duit, saya diperbolehkan memelihara kucing lagi. Dan kebetulan juga, teman imut saya si Mira yang punya banyak kucing, baru saja ketiban tiga ekor bayi kucing hasil peranakan salah satu kucingnya. Salah satunya yang jantan sudah saya incar untuk menjadi kesayangan baru saya~ :3
Sayangnya saya masih harus menunggu sekitar 2-3 bulan hingga akhirnya si bayi kucing diperbolehkan berpisah dari induknya dan pergi ke pelukan saya >//////<


Kucing idaman saya :")


Nah, beberapa hari yang lalu, saya menemukan seekor kucing berwarna putih dengan ekor lurus berbulu hitam. Lucuuuuuuuuuuu!! Waktu saya turun dari shelter Trans Jogja, tiba-tiba saya mendengar suara meong meong dan menemukan si kucing putih itu sedang duduk memandangi saya. Nggemesin banget aaaa  x"3

Dengan penuh gelora, saya tuntun si kucing itu untuk mengikuti saya dengan niatan akan saya beri makan dan saya pelihara. Ketika saya dan si kucing sudah mau sampai di mulut gang yang ada di belakang SD saya, si kucing tiba-tiba berhenti mengikuti saya. Dia... seperti takut meninggalkan tempat itu.
Saking ngebetnya punya kucing, si kucing putih saya tungguin sampe dia mau ngikutin saya lagi. Selama nungguin si kucing, dua kali muncul sosok manusia dari kejauhan yang memandangi si kucing. Di kepala saya, terbersit cerita ini...

Meong yang Terbuang

Si Kucing Putih, alias si Meong, sudah menggelandang selama bertahun-tahun. Mengais sampah sudah menjadi kesehariannya demi mengganjal perut yang keroncongan. Siapa orang tuanya, ia tak pernah tahu. Yang ia tahu, dunia tidak pernah bersikap lunak dan butuh keteguhan hati untuk menghadapinya. Teman adalah lalat-lalat yang ikut mengerumuni makanannya. Taring dan cakar adalah pelindungnya.

Di suatu tempat, berkilo-kilometer dari Jogja, terdapat seekor kucing konglomerat bernama Empus. Ibarat Paman Gober yang hobi berenang di kolam uang, si Empus ini memiliki kolam sarden. Kendati hidupnya bergelimang sarden, tak ada yang tahu ia memiliki sebuah lubang besar yang menganga di dalam hatinya...

Beberapa tahun yang lalu, istri Empus mati setelah melahirkan lima ekor bayi kucing. Dari lima itu, hanya satu yang dapat bertahan hidup. Sisanya mati karena virus. Dengan hati penuh duka, Empus berjanji akan mendedikasikan hidupnya untuk menjaga satu-satunya anaknya yang masih hidup, yang ia beri nama Meong.

Nestapa seolah tak berhenti menerpa kehidupan Empus. Selang seminggu setelah kematian istri dan empat anaknya, Meong diculik oleh sosok tak dikenal. Kejadian itu terjadi begitu saja; Empus sejenak meninggalkan Meong di atas buaiannya yang ada di halaman rumahnya demi mengambil sebotol susu untuk Meong yang rewel kelaparan. Ketika ia kembali, Meong sudah lenyap...

Yang tidak Empus ketahui, Meong diculik oleh sekor kucing jahat bernama Pupus. Pupus adalah kucing preman yang menguasai jalanan Jogja; semua kucing gelandangan tunduk padanya. Pupus dan pemiliknya sering menculik anak-anak kecil, manusia maupun kucing, untuk dipaksa bekerja demi mereka. Mencuri, mengemis, dan sebagainya. Dan kehidupan keras Meong di jalanan pun dimulai sejak saat itu...

(bersambung)

Ya begitulah. Mungkin suatu saat akan saya lanjutkan cerita tak bermutu ini. Semoga anda tidak geram dan ingin memukul saya.
Terimakasih, salam meong meong :3